
❤❤❤
Kirana terbangun. Ia sudah mendapati dirinya di dalam kamar. Kepalanya terasa begitu berat. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Perlahan, satu per satu kejadian berkelebat dalam benaknya. Dengan cepat ia meraba tubuhnya. Ia khawatir sesuatu terjadi pada dirinya. Bersyukur, pakainnya masih utuh menempel di badan. Semoga tidak ada tangan kotor yang menjamah dirinya saat ia tak sadarkan diri.
Kemudian pandangannya beredar. Mengamati foto-foto yang terpajang di dinding kamar. Dalam ruangan yang cukup besar bernuansa vanilla ini terpampang foto suaminya dalam berbagai ukuran. Sejenak Kirana berfikir.
'Jadi benar, laki-laki itu suruhan Ammar. Kenapa Ammar mengungsikan dirinya di tempat ini seorang diri pula. Dia dimana? lalu untuk apa laki-laki itu menikahinya. Lantas apa arti sikapnya yang amat manis tadi malam. Apa ini hanya bagian dari sandiwara belaka?’
Kirana tak mengerti. Ada banyak tanya yang menjejali otaknya. Skenario apa yang dimainkan Ammar ?
Ia melirik jam berbingkai silver yang tergantung di dinding kamar. Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi. Perlahan, Kirana keluar kamar untuk mengetahui situasi. Agak ragu. Tapi ia terus melangkah. Mata indahnya menelisik ke setiap sudut ruangan. Dengan hati-hati ia mengendap-endap. Ia mencoba mencari laki-laki tadi malam yang membawanya ke sini. Mungkin tidur di ruangan lain. Tapi ia tak menemukan sesiapapun. Mendekat ke jendela, setelah itu membuka korden untuk mengintip keluar. Ia bisa melihat kerlap-kerlip lampu di bawah sana. Sayangnya sekeliling tampak gelap. Posisi bangunannya berada pada sebuah ketinggian. Kirana berada di sebuah Villa.
Tiba-tiba Kirana disergap rasa takut. Benaknya masih dipenuhi dengan berbagai tanya. Ia tak habis pikir, kenapa Ammar bisa melakukan ini padanya. Lantas untuk alasan apa dia menikahi dirinya. Apakah pernikahan ini hanya main-main bagi seorang Ammar. Semua terasa seperti misteri. Ia memang belum mengenal detil siapa suaminya.
Kirana melangkah ke dapur yang jadi satu dengan ruang tengah. Perutnya perih minta diisi. Ia membuka kulkas, berharap ada makanan untuk sekedar mengganjal perutnya. Ternyata lemari pendingin itu penuh dengan berbagai makanan. Kirana menduga, ini memang sudah dipersiapkan. Ia mencomot roti tawar double soft dua lembar. Kemudian mengoleskan selai strawberry di tengahnya. Segelas susu UHT diteguknya. Dingin membasahi tenggorokan. Cukup untuk mengisi perutnya di pagi buta ini.
Malam begitu senyap. Detak jarum jam terdengar begitu jelas di telinga gadis cantik itu. Nyanyian serangga bersahutan di luar sana. Kirana semakin begidik. Teringat film horror yang pernah ia tonton. Ia sebenarnya phobia sepi. Dengan berbagai cara ia mencoba menghalau rasa yang membuatnya semakin ketakutan. Tangannya menekan remote untuk menyalakan televisi. Walau sedikit pun tak ada hasrat untuk menontonnya. Paling tidak ada suara sehingga ia merasa tidak kesepian.
Setelah itu Kirana bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kemudian ia sholat tahajud dan membiarkan dirinya larut dalam doa. Hanya Allah saja tempat mengadu dan memohon pertolongan. Seandainya benar ini perbuatan suaminya, yang entah apa maksudnya, semoga Allah melembutkan hatinya. Begitulah doa yang ia ucapkan sambil terus terisak.
Setelah subuh Kirana masih melanjutkan dengan tilawah di kamar. Lamat-lamat ia mendengar suara pintu ruang tamu di buka. Ia menghentikan bacaannya. Jantungnya berdebar. Ketakutan mulai membayangi dirinya. Ia duduk di tepi ranjang sambil memasang telinga untuk mengetahui situasi yang terjadi. Untung pintu kamar tadi sudah ia kunci, sambil terus beristigfar.
‘Apakah itu Ammar? Tapi kenapa ia tidak mengetuk pintu kamarnya’
Kirana mondar-mandir dalam ruang kamar yang dingin. Sambil terus berfikir, seandainya ada apa-apa, bagaimana mencari cara untuk kabur. Ia memegang jendela yang berteralis besi.
Tiga puluh menit berlalu. Lamat-lamat ia mendengar langkah kaki mendekat.
“Tok..tok..tok!”
Kirana menoleh ke arah pintu dengan cepat. Ia masih mematung. Rasa takutnya menahan dirinya untuk beranjak.
“Buka pintunya, Kirana!”
Suara laki-laki di luar itu memanggil. Kirana bergegas mendekati pintu.
__ADS_1
“Kamu siapa?” tanya Kirana setelah yakin bahwa itu bukan suara Ammar.
“Son!” jawab laki-laki itu. Kirana terbelalak. Ia mengatur napasnya.
“Apa kamu akan menyakitiku?”
“Tidak Nona. Buka pintunya sekarang!”
“Kamu janji?”
“Iya, Nona.”
Setelah berdoa dan napasnya mulai teratur, Kirana bangkit dan membuka pintu. Ia melihat Son sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Kirana mendekat.
“Kamu baik-baik saja, Nona Ki?” tanyanya tanpa menoleh.
Kirana tampak kesal dengan pertanyaan Son. Bagaimana mungkin dirinya baik-baik saja. Ini hari pertama pernikahannya ia berada di tempat asing tanpa alasan yang ia tidak tahu-menahu.
“Jelaskan padaku, apa maksud semua ini? Apa Ammar yang menyuruhmu, Son?” cecar Kirana dengan sedikit membentak.
“Tenanglah, Nona. Kamu akan baik-baik saja bersamaku.”
“Menurutmu?”
Son tersenyum dingin dengan ekspresi menjengkelkan.
“Kau tinggal jawab, iya atau tidak?” jerit kirana.
Son tak peduli dengan teriakan Kirana.
“Kamu sudah makan, Nona Ki? Di kulkas sudah kusiapkan makanan untukmu. Semoga kamu suka.”
Kirana melengos. Tak menjawab. Beberapa menit berlalu.
“Ganti bajumu! Setelah ini kita akan pergi.”
__ADS_1
Son meletakkan beberapa paper bag bertuliskan merk butik di samping kirana. Gadis itu melirik sekilas.
“Kalian akan membawaku kemana? Apa salahku? Apa orang kaya bisa seenaknya memperlakukan orang miskin seperti aku?”
Son tak menjawab. Ia sibuk mengotak-atik ponselnya. Di layar hapenya ia mengecek CCTV yang ia pasang di beberapa sudut ruangan yang tersembunyi. Ia tersenyum sendiri. Kirana semakin kesal melihat tingkah Son.
❤❤❤
Sementara itu, Rasyid dan Ammar bersitegang dengan petugas resepsionis. Dari pantauan monitor, CCTV di lantai tiga belas pada jam tersebut mati. Demikian juga sepanjang lorong sampai ke basement. Bahkan sejak Ammar dan Son keluar sudah tidak terpantau di layar. Hanya sekitar dua puluh menitan. Setelah itu kondisinya normal lagi.
“Pasti ini melibatkan orang dalam. Tolong ya ini harus diusut tuntas!”
Rasyid menuding tepat di wajah petugas. Kemudian menggebrak meja. Sontak ini menimbulkan keributan kecil. Petugas berusaha menenangkan emosi Rasyid.
Sementara Ammar lebih banyak diam. Ia berusaha mengendalilan diri. Walau gemuruh di dadanya terasa panas. Kali ini ia memposisikan dirinya sebagai klien. Dalam hal bersilat lidah Rasyid jagonya. Rasyid mencecar, memaki, dan memprotes. Untuk sekelas hotel berbintang lima, kecerobohan ini amat disayangkan.
Melihat keributan di front office, Manajer operasional turun tangan dan langsung meminta maaf pada Ammar. Kejadian ini akan menjadi perseden buruk bagi reputasi hotel.
Sebelum berlalu, sang manajer tersebut berjanji akan bertanggung jawab. Malam ini juga akan menyelidiki dan akan memberi sanksi berat terhadap karyawannnya jika terbukti terlibat.
Yang penting harus segera mencari siapa dalang dan orang-orang yang terlibat. Tidak mungkin ini dilakukan seorang diri.
Bagi Ammar keselamatan Kirana jauh lebih penting. Istrinya harus segera ditemukan.
Rasyid jago bernegosiasi dan memiliki jaringan luas. Ia meminta bantuan teman-temannya di jajaran kepolisian. Ammar mendengarkan percakapan Rasyid dengan seseorang diujung telpon. Ia tak banyak bicara. Namun ia terus berfikir dan menerka.
‘Apakah mungkin Son telah mengkhianatinya?’
Rasa kantuk dan lelah menyergap kedua laki-laki kakak beradik itu. Garis hitam di bawah mata Ammar menandai ia kurang tidur. Rasyid melihat abangnya kasian.
“Besok pagi kita lanjutkan, Bang. Kita istirahat dulu!”
Ammar terdiam beberapa detik lamanya. Tanpa sepatah kata pun terucap Ammar melangkah menuju lift. Rasyid mensejajari abangnya. Tak ada percakapan antar keduanya. Hingga keduanya sudah berada di depan kamar masing-masing. Terasa ada sakit di dada Ammar. Hari ini dirinya mendapatkan kebahagiaan sekaligus kesedihan yang luar biasa.
❤❤
__ADS_1
Like dan vote yaa...
makasih sudah baca..