
Aku dan Baby Xavier sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani beberapa pemeriksaan terakhir. Hari ini setelah hampir tiga hari di rumah sakit, akhirnya Xavier pulang.
Iring-iringan mobil mengikuti kepulangan Xavier yang untuk pertama kalinya akan memasuki rumah kami. Bayi tampan itu masih nyenyak dalam gendonganku. Sementara Arsen fokus menyetir sambil sesekali melirik putranya yang duduk di depan bersamaku.
Kami disambut suka cita oleh para pekerja di rumah kami, bahkan Bi Sri dan Pak Aji juga sudah datang untuk melihat Xavier.
"Bapak sama Ibu sehat?" Arsen menyalami kedua orang tua angkatnya itu, lalu aku ikut bergantian di belakangnya.
"Alhamdulillah, sekarang sudah jadi bapak kamu Sen," kata Pak Aji dengan bangga.
"Iya Pak, semua karena Kimmy." Arsen melirikku lalu tersenyum.
"Bapak senang, akhirnya kalian benar-benar bahagia menikmati pernikahan kalian," kata Pak Aji lagi.
"Iya, bibi juga seneng, Non Kimmy sekarang sudah jadi ibu, padahal rasanya baru kemarin nangis-nangis minta ditemenin pas ada petir," kata Bi Sri yang membuatku tertawa.
Waktu aku masih SMP, memang Bi Sri yang selalu aku cari saat aku ketakutan mendengar suara petir. Biasanya Kak Darren belum pulang kuliah setiap hal itu terjadi.
"Sekarang ada aku Bu, yang dicari-cari pas ada petir," sahut Arsen yang membuatku senyum-senyum.
__ADS_1
Tak lama, mobil Papa dan Papa Raffi sampai di rumah kami. Lalu, aku dan Arsen segera masuk membawa baby Xavier yang kini digendong Bi Sri.
Seluruh keluarga merebutkan Xavier, dia benar-benar disayang semua orang.
*
*
*
Xavier sudah berusia satu bulan lebih, dia mulai berceloteh meski tidak jelas. Mulai tersenyum-senyum dan tertawa riang, membuatku semakin gemas dengannya. Sekarang, dia sudah tidak begadang lagi, hanya sesekali bangun untuk menyu*su lalu tidur lagi.
"Sayang, kamu udah selesai nifas belum?" tanya Arsen yang baru keluar dari kamar mandi.
"Udah sih, tapi kata Dokter Nayla, kita harus tunggu dulu, tunggu sampai dua minggu lagi," jawabku sambil menggantikan popoknya Xavier.
"Tapi aku udah pengen Sayang," kata Arsen yang malah memelukku dari belakang, padahal ada Xavier yang melongo menatap kami.
"Xavier, jangan lihatin Daddy, ya. Daddy lagi manja, nggak malu sama Xavier ya." Aku mengajak bayiku yang malah merespon dengan senyumnya, seolah aku sedang mengajaknya bercanda.
__ADS_1
Arsen malah merebahkan diri di samping Xavier. Ia menatap lekat bayi yang wajahnya sangat mirip dengannya itu. Sementara Xavier mulai melirik Daddy-nya yang rebahan di sampingnya.
"Xavier, kamu seneng ya bisa ngerebut Mommy dari Daddy?" tanya Arsen yang dijawab 'hu-hu' saja oleh Xavier.
Akhirnya, aku selesai mengganti popoknya Xavier, dan mengangkatnya untuk menyu*sui Xavier.
Saat aku mengeluarkan sebelah bukitku dan Xavier sudah mangap untuk melahapnya, tiba-tiba Arsen dengan isengnya menutup puncak bukitku dengan tanganya. Xavier yang sudah mangap jadi kebingungan dan akhirnya menji*lati tangan Arsen.
"Daddy, jangan dong! Kasihan Xavier, Dad." Aku menyingkirkan tangan Arsen yang menutupi sumber makanan Xavier.
"Habisnya gemes, Xavier terus yang dikasih, Daddy nggak dikasih." Arsen malah menciumi pipi Xavier dengan gemas, membuat Xavier mangap-mangap seperti ingin menghi*sap hidung Arsen. "Anak Daddy pelit nih, nggak mau bagi-bagi," kata Arsen yang terus menciumi Xavier.
Xavier yang sepertinya kesal, akhirnya menangis karena gagal mendapatkan ASI.
♥️♥️♥️
...Sabar ya Xavier sayang, Daddy iseng banget sih. Kasihan kan Xavier sampai nangis. Udah sini sama aku aja Dad 🤭🤭🤭...
Selamat malam gaes, ada yang masih melek? Aku lagi khilaf makanya update jam segini 🤭🤭🤭
__ADS_1
Kayaknya karena kopi yang kalian kirim tadi, hihihi, makasih ya 😘😘😘
Sampai ketemu lagi 😘😘😘