Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 74


__ADS_3

Resepsi pernikahan Nana dan Kak Darren mengusung budaya adat, karena maminya Nana memang keturunan jawa tulen. Selama ritual adat, Nana terlihat sangat cantik dengan balutan pakaian adat juga riasan khas pengantin adat jawa. Mereka berdua terlihat serasi.


Di saat masih resepsi, aku mengajak Arsen untuk pulang terlebih dahulu. Kami tidak menginap di hotel yang menjadi tempat resepsi, karena aku memang ingin tidur di kamarku sendiri.


Aku dan Arsen pulang, Oma juga ikut pulang.


“Dad, badan aku tu pegel-pegel banget ya,” ocehku saat kami baru memasuki rumah.


“Kalau tidur diganjal bantal, Kim. Biar nggak terlalu sakit, istirahat yang cukup,”kata Oma yang sebelum membuka pintu kamarnya.


“Iya, Oma. Aku tidur dulu.” Aku berjalan menuju kamarku dan meninggalkan Oma, disusul Arsen yang mengekor di belakangku.


Setelah masuk kamar dan bersih-bersih, kami segera naik ke ranjang. Arsen langsung memijat kakiku yang memang terasa pegal-pegal.


“Dad, udah mijitnya, kamu pasti juga capek.” Aku mencoba duduk untuk bisa menyamakan posisiku dan Arsen.


“Tapi kamu lebih capek Sayang, karena kamu bawa dia nih yang sebentar lagi akan keluar.” Arsen mengusap perutku dan menciumnya.


“Yaudah peluk aja sini, kita tidur sama-sama.” Aku menarik Arsen untuk tidur di belakangku. Lalu, aku mengarahkan tangannya untuk mengusap perutku.


“Selamat tidur Sayang, anak Daddy juga tidur ya, jangan bangun kalau belum pagi ya, kasihan Mommy.” Arsen mengusap perutku, lalu kami mulai tidur sambil berpelukan.


*

__ADS_1


*


*


Aku sudah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan kebutuhan Arsen, karena semenjak hamil tua, aku lebih sering buang air kecil. Jadi, sekalian saja menyiapkan semua keperluan Arsen sekaligus memasak untuknya.


“Sekarang masakan kamu udah enak Kim, coba bayangin kalau kamu nggak punya Oma! Pasti sampai sekarang kamu belum bisa masak,” kata Oma saat kami sarapan bersama.


Arsen hanya tersenyum tipis sambil menyeruput kopinya.


“Iya Oma, makasih ya udah ngerubah aku jadi istri yang baik buat suamiku.” Aku melirik Arsen yang sepertinya menyimak kata-kataku.


“Makanya, kalau dikasih tau orang tua itu nurut!”


“Iya, Oma.”


“Aku berangkat dulu, ya Sayang.” Arsen mencium kening, kedua pipi dan terakhir ciuman singkat di bibir.


Setelah itu, Arsen mengusap perutku, dan menciumnya. “Daddy berangkat ya, jangan nakal sama Mommy.”


“Hati-hati ya,Dad!” Aku mencium tangan Arsen yang kemudian melambaikan tangan melepasnya berangkat kerja.


Setelah mengantar Arsen, aku kembali ke dalam untuk menyibukkan diri membantu Mbak Lastri mengurus rumah.

__ADS_1


Setelah sedikit melakukan pekerjaan rumah, aku merasa sangat lelah dan memutuskan untuk rebahan di sofa. Oma sedang berkebun di belakang, sehingga tidak akan marah-marah kalau aku tiduran di pagi begini.


Saat aku merebahkan tubuhku, aku mulai merasakan sakit yang yang terkadang muncul sesekali. Rasanya nyeri-nyeri seperti kontraksi. Karena rasanya masih belum parah, akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja.


“Kim, jangan tidur jam segini, nggak baik loh!” kata Oma yang tiba-tiba muncul, mengganggu istirahatku saja.


“Oma, aku capek banget, ngantuk, perut aku rasanya nggak enak banget Oma.”


“Nggak enak gimana? Sakit yang mana? Oma telepon Arsen ya?”


“Arsen baru saja berangkat Oma, lagian ini belum intens sakitnya. Aku mau tidur aja ya, Oma.”


“Tahan dulu, Kim. Sebentar biar Oma telepon Arsen, jangan tidur ya.”


♥️♥️♥️


...Nah loh, beneran melahirkan nggak nih, Oma jangan panik dulu lah!...


Mon maaf ya, sedikit aja. Aku habis minum obat jadi ngantuk banget.


Oh ya, mau tanya. Mau tamat sampai anaknya kikim lahir atau mau lanjut nih mereka ngurusin anaknya.


Aku tunggu ya, usulannya.

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya.


Sampai ketemu lagi 😘😘😘


__ADS_2