
❤❤
Selamat membaca🌴🌴🌸
🌻
Ammar sedang hanyut dalam pikirannya. Tidak sedikit pun terlintas untuk menarik ucapannya. Apalagi membatalkan lamarannya pada Kirana. Ia hanya tidak habis pikir, bagaimana ada kisah begitu rumit. Dan ia akan masuk ke dalam pusaran masalah itu.
Sementara Pak Faisol dan istrinya menduga, bahwa Ammar akan berubah pikiran. Apa yang ia takutkan selama ini mungkin akan terjadi.
Sungguh tidak mudah menerima masa lalu seseorang. Bagaimanapun, dalam memilih jodoh, bibit bobot menjadi faktor yang amat penting. Tidak bisa diabaikan begitu saja. Siapa pula yang sudi menikahi gadis yang lahir di luar nikah. Bahkan hingga kini bapaknya saja tidak jelas. Kenapa pula dosa yang dilakukan orang tua, anak harus ikut menanggung. Padahal ia tak tahu apa-apa. Si anak harus menerima kenyataan pahit seumur hidup. Lain hal dengan kedua orang tuanya, mereka bisa menjalani kehidupan baru. Melupakan begitu saja masa lalunya. Seolah itu tidak pernah terjadi. Tiba-tiba mata Pak Faisol berembun.
“Bisa saya minta tolong panggilkan Ki. Saya ingin bicara?” Akhirnya Ammar membuka mulutnya.
Pak Faisol terkesiap. Ada gemuruh dalam dada yang seakan meronta. Apalagi melihat ekspresi Ammar yang datar. Tentu sulit diartikan. Apa maksud pria berhidung mancung itu.
“Untuk apa? Kalau bapak hanya ingin menyakiti putri saya sebaiknya- Bapak pulang saja. Lupakan kalau Bapak pernah..” Pak Faisol tidak melanjutkan ucapannya.
Terlampau sakit hatinya menerima kenyataan ini. Ia memikirkan perasaan putrinya yang berhati lembut. Pasti Ki amat terluka, batinnya.
Ammar menghela napas.
“Saya ingin mengajak Kirana-- untuk membeli baju pengantin,” ucap Ammar. Ekspresinya lempeng. Tidak tampak sumringah atau sedih. Siapapun akan bingung dengan penampakan wajah Ammar seperti itu.
Istri Pak Faisol menjerit histeris karena terharu. Tangisnya pecah. Sambil mengguncang-guncang bahu suaminya. Begitu juga dengan Pak Faisol. Bulir-bulir kristal itu membasahi pipinya yang mulai keriput. Ia mengusap dengan tangannya perlahan. Ammar bingung. Baginya ini terlalu lebay. Tapi ya sudahlah.
“Saya akan panggilkan Ki sebentar.” Wanita berkulit coklat itu melangkah ke dalam. Langsung menerobos ke kamar Ki yang tidak ditutup rapat.
“Ki..! wanita setengah baya itu tertegun. Ia melihat putrinya berurai air mata. Ki membalikkan badan sambil menghapus air mata dengan ujung jarinya.
“Kenapa kamu menangis, Sayang? Ini hari bahagiamu. Bos Ammar akan mengajakmu membeli baju pengantin. Ayo, dia sudah menunggumu!”
Hati Kirana terasa sesak. Sulit sekali menerima kenyataan hidup sepahit ini. Seharusnya hari ini ia berbahagia akan dinikahi pria sebaik Ammar. Namun entah kenapa kebahagiaan dan kesedihan harus hadir di waktu yang sama.
Kirana memeluk ibunya. Ia tumpahkan tangisan itu dalam pelukan wanita yang telah merawatnya selama ini.
“Bu, terima kasih sudah membesarkan dan merawat Ki. Yang Ki tahu hanya ibu dan bapaklah orang tua Ki.” Tangis Ki semakin menjadi.
“Iya Ki, kamu tetap anak ibu sampai kapan pun. Namun kamu juga harus tahu asal usulmu, Nak. Begitu juga dengan Ammar. Dia akan menjadi suamimu. Jadi dia harus tahu kamu siapa,” ucap ibunya sambil membelahi pundak Kirana.
Kedua ibu dan anak itu larut dalam tangisan untuk beberapa menit. Ibunya tidak menyangka bahwa hari ini, rahasia yang ia tutup rapat selama bertahun-tahun harus terurai. Pesan ibu kandung Ki untuk tidak memberitahukan masalah ini, jelas tidak mungkin ia pegang. Apalagi hari ini Ki akan menikah. Bapaknya tidak bisa menjadi wali. Ia harus memakai wali hakim. Kalau ini tidak dijelaskan akan menimbulkan tanda tanya baik bagi Ki maupun Ammar. Lagian ia sudah tidak sanggup menyimpan rahasia ini begitu lama. Bagaimanapun kebenaran harus disampaikan walau itu pahit pada akhirnya.
❤❤❤
Ki melangkah dengan berat di temani ibunya ke ruang tamu. Ammar memandangi wajah Ki yang basah bekas air mata. Walau Ki sudah berusaha memoles dengan sedikit bedak supaya tidak terlihat kucel. Namun sembab di matanya masih terlihat meski samar.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Ammar pamit mengajak Ki ke butik milik temannya. Awalnya Ki ragu. Tapi orang tuanya terus mendesak.
Selama dalam perjalanan Ammar dan Kirana lebih banyak diam. Kirana lebih sering membuang pandangannya keluar melalui kaca di sampingnya. Ia larut dalam pikirannya yang carut-marut. Sementara Ammar fokus menyetir ke depan sambil sesekali melirik gadis cantik di sebelahnya. Namun Ki sama sekali tidak menyadari itu. Sambil nyetir, Ammar tampak menghubungi seseorang.
“Hai Len, aku meluncur nih,” kata Ammar.
“Mendadak amat sih. Selalu deh kamu begitu, bikin orang jantungan aja. okeylah aku tunggu,” sahut perempuan di ujung telpon.
Walaupun tidak di loudspeaker Kirana bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
Alena tak lain adalah pemilik butik baju pengantin, teman Ammar waktu SMA.
Pada dasarnya yang dirasakan Kirana adalah kegalauan. Ia tak mau Ammar menikahinya karena faktor kasihan. Mungkin Ammar merasa tak enak hati membatalkan pernikahannya seperti yang diucapkan di depan orang tuanya. Walau kenyataan begitu pahit baginya. Tidak hanya bagi Ammar, Kirana juga merasa ini sebagai dentuman keras dalam hidupnya. Kirana sempat melihat ekspresi Ammar saat melangkah keluar rumah. Di sana tidak tersirat kebahagiaan seperti layaknya orang mau menikah. Bahkan wajah Ammar terkesan beku. Dari situ Kirana tahu, bahwa laki-laki ini sedang tidak bahagia. Berbeda ketika ia belum tahu siapa dirinya.
“Maaf Pak. Bisakah kita berhenti sebentar,” ucap Kirana lirih penuh kehati-hatian.
“Bisa tidak, tidak panggil Bapak. Aku bukan bapakmu. Panggil aku abang.”
“Mma-af. Iya Bang,” jawab Kirana.
“Ada apa?” tanya Ammar.
“Kita tidak perlu ke butik. Balik saja ke rumah. Ki mohon, ini jangan diteruskan.”
“Apa maksudmu? Kita hampir sampai ini.”
Ki menggeleng. “ Ki tidak bisa..” Tenggorokan Kirana seperti tercekat. Gadis cantik berdagu belah itu terisak.
“Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak suka menikah denganku?”
“Bukan begitu, Bang. Ki hanya tidak mau, Abang menikahi Ki karena terpaksa. Ki tidak pantas untuk Abang.”
“Harap kamu tahu, Abang tidak peduli dengan latar belakangmu, Ki. Abang sudah mantap menikah denganmu. Dalam hal ini kamu tidak bersalah apa-apa. Sudah..jangan membahas ini. Hari ini kita akan menikah. Banyak yang harus disiapkan.”
“Tapi, Bang…!”
“Kirana. Apa kamu meragukan Abang?”
Kirana menunduk. Ia tidak tahu kenapa laki-laki di sampingnya ini begitu mantap memilihnya. Padahal ia merasa tidak pantas mendapatkan ini. Apalagi setelah tahu, bahwa hanya seorang anak yang tidak jelas.
Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di sebuah butik. Ini salah satu butik khusus baju pengantin yang brandnya sangat terkenal di Surabaya. Terletaknya di pusat kota.
Alena menyambut kedatangan Ammar dengan wajah berbinar-binar. Sudah beberapa tahun mereka tidak bertemu.
“Len, kenalin, ini Kirana calon bini gue.”
__ADS_1
“Hai Kirana, aku Alena temannya Ammar waktu SMA.” Balas Alena.
“Aku Kirana.”
Mereka berjabat tangan.
“Wah, kamu cantik sekali Kirana. Pantesan Ammar..” goda Alena.
“Masyallah tabarokallah,”jawab Kirana.
“Jadi kapan nih acaranya?” tanya Alena sambil melirik Ammar.
“Insyallah nanti ba’da ashar akad. Ntar malam resepsinya.
“What! Gak salah dengar nih. Lu gak sedang becanda kan, Mar?”
“Ya seriuslah. Masak gini becanda.” Jawab Ammar tenang.
“Kenapa? MBA ya?” bisik Alena lirih di telinga Ammar.
“Ngaco kamu, Ah!”
“Lha Lu bilang kemaren bulan depan. Ngapain kok diajukan mendadak gini. Pasti takut Kirana berubah pikiran ya.” tanya Alena sambil nyengir.
“Lu tahu ajalah. Ada gak nih stocknya?”
“Ada dong. Mau konsep apa nih? Modern, islami atau ala timur tengah.”
Ammar berhenti dan mencari sosok Kirana yang tertinggal di belakang.
“Ki, kamu jangan jauh-jauh dari Abang.” bisik Ammar.
Ammar tidak berani menggandeng tangan Kirana. Walau sebenarnya ia ingin supaya Kirana bisa berdampingan dengannya. Lagian siapa yang tidak ingin mengandeng gadis secantik Kirana. Namun Ammar sadar mereka belum halal. Saat netra mereka bertemu, Ki melempar pandangannya ke samping. Wajahnya merona. Ammar senyum-senyum.
Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang mengamati gerak-geriknya. Alena tersenyum iri. Sebenarnya Alena pernah menyukai Ammar dulu. Tapi karena perbedaan keyakinan, perasaan itu dibiarkan menguap begitu saja.
❤❤
Bersambung...
Di tunggu krisannya biar tambah semangat ngetiknya. Semoga suka
🌸🌸❤
Pa
__ADS_1