Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 92


__ADS_3

Dua minggu sudah Arsen dirawat. Belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Alat-alat yang menopang kehidupan masih terpasang di tubuhnya.


Xavier mulai sering rewel tanpa Arsen. Mungkin Xavier merindukan sosok daddy yang biasa menemaninya. Apalagi, seusia Xavier tidak diizinkan masuk ke ruang Intensive Care Unit atau biasa disebut ICU.


Sebenarnya, aku sendiri juga dilarang memasuki ruangan Arsen, karena aku sedang hamil. Akan tetapi, aku tetap memaksa karena aku ingin bertemu dia walau tanpa bicara.


Usia kehamilanku saat ini baru enam minggu, sedangkan Arsen sama sekali belum tahu. Aku merasa, saat ini dunia sangat kejam padaku. Di saat aku belum siap hamil, aku malah hamil dan suamiku terbaring tidak berdaya.


Hari ini, aku mengunjungi Arsen yang masih terbaring di tempat tidur. Alat-alat medis masih menempel di tubuhnya, membuat perasaanku semakin tidak karuan.


"Sayang, kamu kapan bangunnya?" Aku menggenggam tangan Arsen. Kepalanya diperban, wajah tampannya luka-luka.


"Xavier kangen Daddy-nya. Yang di dalam perutku juga sepertinya ingin dipeluk Daddy-nya."


Tidak ada respon apapun dari tubuh suamiku yang membuatku semakin terluka.


"Sayang, kamu tahu? Xavier udah tumbuh giginya. Dia suka gigit roti sekarang." Air mata terus meluncur deras. "Kamu nggak kangen kita? Kamu nggak pengen gendong Xavier? Dulu kamu bilang pengen ajarin dia manjat pohon, apa kamu nggak mau ajari dia jalan dulu? Aku nggak sanggup urus Xavier kalau mualnya datang. Mama sama Mama Nisa sekarang nginep di rumah. Rumah sekarang rame banget, tapi tanpa kamu aku tetep aja kesepian."


"Kamu jahat, kamu jahat sama aku." Tanpa sadar, aku melepaskan tangan Arsen yang kugenggam. Air mata yang membanjiri wajah membuatku tidak sanggup lagi, dan ingin segera keluar. Akan tetapi, dokter khusus yang merawat Arsen melihat pergerakan lemah dari jari-jari Arsen.


"Katakan semua keluh kesah Anda Nyonya, mungkin dengan begitu otak pasien akan merespon dan memicu kesadarannya," kata dokter itu.

__ADS_1


Aku yang bingung antara senang, sedih, dan haru akhirnya tidak jadi berniat pergi.


"Sayang, bisakah kamu dengar aku?" Aku mengecup pipinya cukup lama.


"Aku pengen bawa Xavier ke sini, tapi kamu tahu kan dia masih sangat kecil. Kalau bukan karena Papa, mungkin aku juga nggak akan bisa ke sini. Bangunlah, aku kangen banget, Sayang."


Air bening tiba-tiba meluncur keluar dari mata Arsen. Gerakan tangannya kembali terlihat, kali ini aku bisa melihatnya langsung dan yakin kalau Arsen akan sadar.


"Ayo Sayang, kamu pasti bisa. Demi aku, demi Xavier, dan demi janin yang aku kandung ini. Ayolah bangun, aku ingin buat banyak permintaan biar kamu repot, karena aku tahu, kamu daddy terbaik di dunia ini. Aku sayang kamu, bangunlah."


Mata itu mulai mengerjap perlahan. Aku mendekat dan mencoba memastikan bahwa Arsen memang sadar. Dokter langsung bergerak cepat memeriksa Arsen, dan akhirnya aku disuruh menunggu di luar.


"Pa." Aku memeluk Papa yang memang menunggu di luar.


"Arsen tadi udah buka mata, Pa," jawabku yang masih berderai air mata.


"Syukurlah! Papa tahu dia laki-laki hebat. Dia pasti akan segera sadar."


Beberapa menit kemudian, dokter mengizinkan aku masuk ke ruangan Arsen. Dokter mengatakan akan memindahkan Arsen ke ruang perawatan.


"Sayang, kamu beneran kembali sama aku?" Aku menghampiri Arsen yang kini sudah terlepas dari alat-alat medis.

__ADS_1


"Maaf," ucapnya lirih.


Aku tidak bisa menahan perasaanku dan memeluk tubuhnya yang benar-benar aku rindukan.


"Aku kangen, Dad. Xavier juga kangen."


"Xavier, dia sehat?"


Aku melepaskan pelukanku, lalu mengangguk dengan cepat.


"Dia juga sehat," kataku sambil menarik pelan tangan Arsen untuk menyentuh perutku.


"Kamu hamil?"


Aku mengangguk dan kembali memeluknya. "Xavier kita akan punya adik."


♥️♥️♥️


Kan kan, udah aku cium sih jadi sadar deh 😍😍


Aku baik kan? Iya dong, harus bilang aku baik.

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya, kembang kopinya. 😍😍😍


__ADS_2