Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
Kirana di culik


__ADS_3

Part 8


Selamat Membaca


❤❤


Ia telah mencoba untuk mengenyahkan perasaan yang tak lazim ini. Sebuah rasa yang sebetulnya tak dikehendaki. Hatinya terus menuntut. Hal yang paling sulit, tatkala ada pertentangan batin. Perang antara logika dan perasaan. Ini sangat menyiksa hari-harinya. Detik terakhir mungkin ia sudah kehilangan setengah kewarasan.


Kembali ke jalan yang benar. Bukan tak pernah ia mencoba. Nyatanya tak mudah. Ia ingin jujur dengan perasaannya. Ini salah. Tapi hatinya yang lain terus bersuara. Lebih keras dan ingin didengarkan. Jalan satu-satunya ia harus berdamai dengan hatinya.


Bukankah Tuhan yang Maha membolak-balikan hati. Berarti Tuhan pula yang menghendaki dirinya seperti ini.


Bagaimana rasanya tidak diterima, dicaci dan dikucilkan. Semua itu pernah ia rasakan.


Dan…Perjalanan hingga di titik ini penuh liku dan luka. Ia telah bermetamorfosa menjadi sosok yang lain. Mungkin ini sebuah pelarian dari fase hidupnya. Namun bukan kebahagiaan yang ia dapatkan. Justru ia semakin jauh tersesat.


Sampai ia pun lupa bagaimana caranya tersenyum.


Pemandangan di depan matanya telah menyempurnakan kekecewaannya. Haruskah ia menerima kenyataan pahit ini? Atau ia harus memperjuangkan suara hati yang kian meronta.


‘Kalau aku tak mendapatkanmu, aku tak akan membiarkan kamu bahagia dengannya.’


Resepsi tengah berlangsung dengan meriah. Banyak sekali tamu undangan yang hadir biarpun persiapan acara sangat mendadak. Ammar dan Kirana laksana raja dan ratu duduk di pelaminan. Pemandangan serasi yang begitu indah. Ganteng dan cantik maksimal. Dengan berbalut gaun berwarna keemasan, kian menyempurnakan kecantikan Kirana. Ammar tak henti-hentinya memandangi istrinya. Sementara tangannya terus menggenggam jemari Ki.


“Kamu cantik sekali, Ki.” Ammar menatap wajah istrinya.


Kirana tersipu malu.


“Abang, jangan gitu donk. Kan mau dilihatin orang.”


“Ssst. Abang gak peduli. Sekarang kan kamu sudah jadi istri Abang.” bisik Ammar lirih di telinga Ki.


Wajah Kirana kian merona menahan malu. Beberapa tamu memperhatikan kemesraan kedua mempelai. Mereka ikut senyum-senyum.


Rasyid-sepupu Ammar yang baru datang lima belas menit yang lalu tampak begitu bahagia melihat abangnya bersanding dengan gadis pilihannya. Setelah menyapa beberapa kerabat, Ia menghampiri abangnya di pelaminan untuk mengucapkan selamat.


“Alhamdulillah, akhirnya abang gue menikah juga.”


Mereka saling memeluk dan menepuk pundak.


“Gak sabaran amat sih,” bisiknya di telinga Ammar. Rasyid sedari tadi memperhatikan sikap Ammar yang tangannya tak lepas dari Kirana. Sementara Ammar memilih tidak menanggapi, hanya mengulum tersenyum. Karena ia paham, kalau meladeni Rasyid bisa panjang obrolannya.


“Ntar Lu nginep di sini aja. Son sudah sediain kamar buat Lu.” kata Ammar pada adik sepupunya itu.


Sebelum beranjak, Rasyid juga mengucapakan selamat pada Kirana dengan menelungkupkan tangan di dada.


“Selamat kakak ipar. Abang gue bakal bahagiain kakak lahir batin. Kalau sampai macam-macam panggil Rasyid,” kata laki-laki yang berewokan itu sambil menepok dadanya. Ammar hanya geleng-geleng. Ingin rasanya ia meninju saudaranya itu biar tidak sembarangan bicara. Mereka memang akrab dan sudah biasa becanda.



Sementara Son tak tampak diantara banyaknya tamu yang hadir. Hanya sebentar terlihat tidak lebih dari lima menit. Itu pun ia memilih duduk menyendiri di tempat yang sepi. Ini bukan pestanya. Tugasnya hanya membantu mengurus acara ini. Dan ia sudah melakukannya dengan sempurna. Saat ini ia akan fokus dengan dirinya.

__ADS_1


Pukul setengah sepuluh pesta telah usai. Tamu-tamu sebagian besar telah pulang. Tinggal beberapa kerabat yang masih asyik mengobrol. Ammar dan Kirana telah berada di kamar pengantin yang begitu indah. Hari ini begitu melelahkan bagi pasangan ini. Dari pagi hingga malam mereka belum sempat beristirahat. Terutama bagi Kirana. Kalau Ammar karena terbiasa kerja keras, jadi tidak begitu terasa.


Ammar sangat bahagia. Rasanya benar-benar seperti mimpi bisa melewati hari ini. Terlintas awal perjumpaan dengan Kirana. Ia senyum-senyum sendiri. Sementara Kirana tampak begitu lelah dan mengantuk. Ia memperhatikan sikap Ammar yang menurutnya aneh.


‘Kok senyam-senyum. Ada apa gerangan suamiku ini’


“Ada apa Bang?"


Kirana memberanikan diri untuk bertanya. Ia khawatir ada sesuatu pada dirinya yang membuat Ammar bertingkah tak wajar.


Ammar tersentak dari lamunan.


“Kita sholat dua rakaat dulu ya?” ajak Ammar pada Kirana yang saat ini sudah menjadi istrinya.


“Iya, Bang.”


Kirana melangkah ke kamar mandi untuk ambil wudhu sambil membersihkan sisa riasan.


Setelah berjamaah sholat sunnah, Ammar berdoa dan mengusap kening istrinya. Seperti yang pernah ia lihat di film-film religi. Jantungnya berdebaran.


‘Ah perasaan apa ini?’


“Ki capek? tanya Ammar sambil menyentuh pipi istrinya.


Kirana ingin mengangguk. Tapi kalau ia jujur..ia tak ingin mengecewakan suaminya. Sebenarnya matanya hanya tinggal lima watt. Ia juga tak berani menatap wajah Ammar yang kini hanya berjarak satu inchi dengannya.


“Ki mau menyempurnakan malam ini?” bisik Ammar lirih. Bulu kuduk Ki mulai merinding.


Kali ini Ki hanya memejamkan mata. Ia sudah tak sanggup membuka mulutnya. Bukankah diam itu sudah jawaban. Seketika badannya terasa panas dingin.


“Iseng banget. Siapa sih,”gerutu Ammar.


“Biar Ki yang buka pintu, Bang.” Pinta Kirana karena melihat ekspresi kesal Ammar.


“Jangan..! Ki sini saja, biar Abang yang ngadepin.” Ammar merapikan bajunya, kemudian melangkah dan membuka pintu. Wajah Son menyembul dibalik pintu.


“Ada apa?” tanya Ammar pada Son dengan mimik kesal.


“Maaf kalau menganggu. Tapi ini sangat penting.” jawab Son datar.


“Okey. Di luar saja ngobrolnya.” Ammar segera menutup pinta. Ia tak ingin Son melihat Kirana yang sedang rebahan di kasur.


‘Bisa untung besar tuh anak’


“Katakan saja, cepat!” ucap Ammar tanpa menoleh.


Son senang melihat wajah Ammar. Seperti biasa Son selalu menampakkan wajah kaku yang sulit ditebak.


“Pabrik kebakaran.”


“Astagfirullah. Bagaimana bisa terjadi?” Ammar menatap Son. Sorot matanya tajam meminta jawaban.

__ADS_1


“Menurut saya, Pak Ammar harus kesana untuk mengetahui lebih lanjut.” jelasnya.


“Okey aku ganti baju dulu.” Ammar balik ke kamarnya.


Ia bergegas mengganti baju tidurnya dengan buru-buru.


“Bang..! Ki bangkit dan mendekat.


“Ki, maaf Abang keluar sebentar. Pabrik kebakaran.”


"Astagfirullah."


“Ki boleh ikut, Bang?”


Ammar menggeleng.” Ki tunggu sini saja. Abang segera kembali.” Jawab Ammar seraya mengelus kepala istrinya.


“Abang hati-hati, ya!”


"Iya Ki, sayang."


Bersama Son, Ammar menuju pabrik. Son dibelakang kemudi melajukan mobil dengan cepat. Sementara itu Kirana menunggu di kamar dengan perasaan tidak tenang. Baru saja ia hendak merebahkan diri, terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru Kirana mengenakan jilbab instannya.


“Maaf, Nona Ki. Saya diminta Tuan Ammar untuk menjemput Anda segera” kata laki-laki yang berdiri di depan pintu.


Ki tampak berpikir sejenak. Berdiri mematung.


“Apa Anda tidak percaya, Nona!”


“Bukan..tadi saya diminta untuk menunggu.”


“Sesuatu telah terjadi, Nona!”


“Apa ? jelaskan!”


“Nanti saja dimobil saya jelaskan. Ayo Nona, saya bisa dimarahi Tuan Ammar kalau kelamaan.”


“Baik, tunggu sebentar saya mau ganti baju.”


“Menurut saya tidak perlu, Nona!”


“Masak pake baju tidur.” Sergah Kirana.


“Silahkan lebih cepat Nona.”


Hanya berselang dua menit, Kirana sudah menemui laki-laki bertubuh tegap itu.


“Ayo ikuti saya, Nona!”


Tanpa rasa curiga Kirana mengikuti laki-laki itu menuju parkiran.


Di dalam mobil laki-laki itu langsung melumpuhkan kirana sehingga gadis itu tak sadarkan diri. Ia tersenyum puas karena bisa menjalankan misinya dengan lancar dan cepat. Segera ia merebahkan tubuh Kirana di belakang. Ia sendiri langsung pindah ke depan. Mobil melaju dengan cepat di keheningan malam. Ia membawa gadis itu jauh meninggalkan kota Surabaya.

__ADS_1


❤❤


jangan lupa like dan vote


__ADS_2