
Sepulang kerja Pak Faisol langsung menemui istrinya. Ia langsung menceritakan kejadian di kantor saat Bos Ammar memanggil di ruangannya. Istrinya yang lebih lugu dari suaminya itu pun mendengarkan semua cerita dengan sangat seksama. Ia tidak mau sedikit pun ada yang terlewatkan. Pak Faisol juga menceritakan kalau ruangan si bosnya itu bagus, besar, harum dan tentunya sangat sejuk. Kemudian ia melanjutkan, Bos Ammar itu wajahnya tampan, siapapun yang melihat pasti langsung tertarik. Tentu dengan sedikit lebay. Istri Pak Faisol langsung berimajinasi, membayangkan wajah aktor di senitron yang sering tayang di stasiun tivi ikan terbang. Wajahnya mulai senyum-senyum sendiri. Melihat istrinya senyum-senyum, Pak Faisol menghentikan ceritanya.
“Buk!, ada apa denganmu?” istrinya langsung tersipu malu tapi masih termangu. Sepertinya masih tersesat di alam imajinasi yang penuh fantasi.
“Buk!” Bentak Pak Faisol. Istrinya langsung tergagap menyadari ia sedang berimajinasi kelewat jauh.
“Eh maaf Pak! Ibuk sedang membayangkan wajah Anjasmara.” Jawab istrinya polos.
“Siapa dia? Jadi kau berselingkuh dengan pria lain? Berani-beraninya kamu mengkhianati kesetiaan bapak, Buk!” Pak Faisol mengepalkan tangan ke udara.
“Ah bapak ini, jangan lebay gitu ah.”
Diakhir cerita ia menanyakan ke istrinya, persis seperti pertanyaan bos Ammar.
“Apakah Ki sudah punya pacar, Buk? Tanya Pak Faisol seriun sambil menatap wajah istrinya.
“Bapak sudah berjanji akan memberi jawaban segera. Kalau bisa besok bapak harus menghadap bos sepagi mungkin. Jangan sampai bos Ammar kecewa.” Pak Faisol begitu berapi-api.
“Buk, tolong tanyakan ke Ki.” Pinta Pak Faisol sambil memohon.
“Baiklah Pak. Dengar baik-baik ya suamiku! Ki pernah bilang ke ibu bahwa dia tidak mau pacaran.” Pak Faisol terkesiap.
“Karena dia tidak ingin banyak hati yang terluka katanya.” Istrinya melanjutkan kemudian.
Pak Faisol manggut-manggut dengan jawaban istrinya. Ia sendiri tidak mengerti jalan pikiran anaknya. Kenapa banyak hati yang terluka. Ah sudahlah! Daripada bingung, lebih baik ia nyruput kopi pahit buatan istrinya.
“Dimana Ki sekarang, Buk? Kita harus bertanya langsung padanya.” Ujar Pak Faisol.
“Sebentar, Pak! sepertinya ada di kamarnya.”
Ibu mengetuk kamar Ki.
“Ki!” tidak ada jawaban.
“Ki! Apa kamu sudah tidur? Baru juga habis isya. Kenapa tidur sore begini? Apa kamu sakit, Ki? Ki, jawab!” karena tidak segera mendapat jawaban, ibunya langsung membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Dilihatnya Ki sedang sholat. Ia menunggu sambil duduk di tepi ranjang.
Ki baru saja menyeleseikan sholatnya.
“Ada apa, Buk?”
“Ki, Ibuk sama bapak mau bicara sama kamu, Nak.”
“Katakan saja, Buk. Ada apa?”
“Bisakah kita bicara di luar saja. Bapak sudah menunggu di sana.”
“Baiklah, Buk. Ki mau melipat mukena dulu.”
Pak Faisol sudah menunggu di ruang tengah. Ki keluar bersama dengan istrinya.
“Duduklah di sini, Ki.”
Ki mengikuti arahan Pak Faisol. Hatinya bertanya-tanya ada apa gerangan orang tuanya ini. Kenapa mendadak aneh. Bukankah setiap hari sudah aneh. Tapi hari ini benar-benar lebih aneh. Kemudian Pak Faisol menceritakan tentang kejadian di kantornya tadi pada Ki. Memang sedikit hiperbola. Tapi Ki paham betul bagaimana karakter orang tuanya ini.
“Ki, bantu Bapak, Ya!” besok bapak harus segera memberi jawaban. Bapak sudah janji pada Bos Ammar, akan segera memberi jawaban.” Ki masih bingung apa hubungannya dia dengan Bos bapaknya itu. Kenal juga tidak.
“Ki jawab jujur, ya Nak!” ah kenapa pula bapaknya ini. Ki garuk-garuk kepala. kemudian mengangguk.
“Apakah Ki sudah punya pacar?” Ki terlonjak kaget.
“Jawab saja Nak pertanyaan Bapak!”
__ADS_1
“Benar, Ki. Jawablah! biar urusan bapakmu cepat kelar.” Ki menarik napas berat. Memandang bergantian wajah orang tuanya yang sangat polos itu.
“Kan sudah pernah bilang ke Ibu. Ki tidak mau pacaran. Nanti banyak hati yang terluka.”
“Tuh kan, Pak. Bapak sih tidak percaya. Ibuk bilang juga apa.” Kedua suami istri itu semakin meracau kemana-mana. Ki semakin tidak paham.
“Ki boleh pamit ke kamar ya, Pak, Buk? Ki capek mau istirahat.”
“Iya, Nak. Istirahatlah. Semoga kamu bermimpi indah”
Ki geleng-geleng sambil tersenyum.
Keesokan harinya Pak Faisol berangkat ke kantor dengan perasaan suka cita. Ia sudah mengantongi jawaban Ki. Berharap pagi ini Bos Ammar memanggilnya. Mondar-mandir ia di gudang. Jam sudah menunjukkan pukul 08.15 pagi. Padahal jam 08.30 ia harus mengirim barang di pasar turi. Ia memutar otaknya, apakah ia harus menemui Bos di ruangannya. Tapi sekali lagi ia tidak memiliki keberanian.
Sementara itu Ammar sudah berada di ruangannya sejak pagi sekali. Ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Pak Faisol. Ia sungguh nervous. Jangan sampai Pak Faisol sudah berangkat, gumamnya dalam hati.
“Son.”
Manajer segala urusan langsung menghadap dengan cepat.
“Siap, Pak!”
“Hari ini ada pengiriman?”
“Siap. Ada Pak ke pasar turi jam 08.30.”
“Kalau begitu tolong panggilkan Pak Faisol.”
“Siap. Sekarang, Pak?”
“Hem.” Ammar berdehem.
“Pak, ikut saya cepat. Bos sedang menunggu.” Perintah Son.
Mendengar nama Bos disebut, Pak Faisol langsung berlari menuju lantai dua. Bahkan Son kalah cepat. Maklum saat muda Pak Faisol pernah juara lari tingkat RT. Dengan mantap Pak Faisol mengetuk pintu ruangan Ammar.
“Silahkan duduk, Pak!” Ammar mempersilahkan Pak Faisol.
Ia sudah tahu bahwa Bosnya pasti sudah menunggu jawabannya. Maka tanpa ditanya, ia langsung menyampaikan pada Ammar.
“Saya sudah mendapatkan jawaban, Pak. Bahkan dari Ki sendiri.” Ujar Pak Faisol antusias.
Ammar sangat senang mendengar penuturan sopirnya ini.
“Teruskan, Pak!”
“Ki tidak punya pacar, Pak. Dia bilang tidak mau pacaran, karena dia tidak ingin banyak hati yang terluka, katanya.”
Ammar tergelak tidak bisa menahan untuk tidak tertawa. Ia berdiri sambil mengepalkan tangan.
“Iyes..iyes!”
Pak Faisol melihat kelakukan bosnya sambil melongo. Kenapa bosnya sampai begitu bahagia. Apakah ia harus ikut berteriak horee. Rasanya ia ingin mengabadikan moment langka ini. Ia merogoh hanphone di sakunya. Ki harus tahu. Istrinya juga. Tapi sayangnya tidak ada camera jahat di hapenya yang jadul. Maklum ia hanya memiliki ponsel merk lama yang pernah booming berpuluh tahun silam. Pak Faisol hanya menelan ludah. Ia sendiri tidak menyangka, dibalik sikap Bos Ammar yang cool dan berwibawa ini, ternyata menyimpan kekonyolan yang sangat hakiki dan massif. Ah bahasa itu? Entahlah Pak Faisol hanya menirukan orang-orang yang pintar berdebat di televisi.
Ammar menyadari betapa dirinya kekanak-kanakan. Kemudian ia duduk sambil tersenyum. Ia tidak berani melihat wajah pak Faisol yang masih terlihat shock dengan segala aksinya. Ia kembali pada sikap coolnya.
“Terima kasih, Pak. Bapak boleh melanjutkan pekerjaan lagi.”
Seperti biasa Pak Faisol pamit dengan penuh hormat. Ammar terlihat begitu bahagia pagi ini.
“Son.”
__ADS_1
“Siap, Pak.”
Manager segala urusan ini selalu dengan cepat merespon panggilan bosnya. Makanya ia selalu dipertahankan di posisinya sampai saat ini. Rasanya ia tak kan tergantikan oleh siapapun.
“Bilang ke Ema untuk pesan nasi sejumlah karyawan.”
“Tapi ini bukan hari jumat kan Pak. Apa Bapak lupa?” Biasanya saat hari jumat kantor memberi makan siang gratis.
“Saya mau syukuran hari ini.”
“Baik Pak. Siap laksanakan.” Son bergegas menemui Ema, staf bagian keuangan.
Tidak lama kemudian Ammar baru ingat untuk menanyakan sesuatu yang sangat penting pada Pak Faisol. Ia menggaruk kepalanya karena lupa. Kenapa mendadak loading.
“Son.”
“Siap Pak.” Dengan sigap ia sudah berdiri di hadapan Ammar.
“Pak Faisol! Minta tolong panggilkan! Sangat penting.”
“Siap Pak. Laksanakan!” Maklum Son ini sering menjadi pemimpin upacara saat di sekolah.
Tidak sampai lima menit ia sudah berbalik.
“Maaf Pak. Pak Faisol sudah berangkat sepuluh menit yang lalu. Mungkin belum jauh. Apa perlu disuruh balik?”
“Hadueh.” Ammar tampak kecewa. Tampak sedang berfikir berat. Son memperhatikan mimik bosnya.
“Bagaimana, Pak?” Son sudah tak sabar menunggu jawaban.
“Coba hubungi dulu sampai mana!”
“Siap!” Son tampak menekan tombol di layar hapenya. Tidak berapa lama sudah terhubung.
“Masih di Pom Bensin dekat sini, Pak.”
“Hemm.” Ammar berdehem.
“Saya minta Mukhlis ke sana menyusul biar menggantikan Pak Faisol. Nanti Pak Faisol pakai motor Mukhlis ke sini.”
“Kamu cerdas.” Kata Ammar puas dengan ide Son. Ammar mengakui Son ini pintar memberikan solusi bahkan seolah bisa membaca pikirannya.
Lima belas menit kemudian, Son sudah membawa Pak Faisol ke hadapan Ammar.
“Kamu boleh tinggalkan kami, Son.”
“Siap, saya menunggu di luar Pak.” Son keluar dari ruangan Ammar.
Pak Faisol terlihat gugup dan grogi. Ia duduk menunggu Bos Ammar berbicara.
“Pak Faisol.” Ammar memulai dengan hati-hati. Kali ini ucapannya tampak berwibawa. Pak Faisol mengangkat kepala perlahan.
“Bolehkan saya melamar putri Bapak untuk saya jadikan istri.”
Suara Ammar bergetar. Begitu juga dengan Pak Faisol. Ia langsung terlonjak karena kaget seketika pingsan di atas kursi.
“Pak. Pak Faisol.” Pak Faisol tidak bergerak karena memang pingsan.
“Son..Soooon!” teriak Ammar panik.
❤❤❤🌴🌴
__ADS_1