
Hari ini kami berangkat ke ibu kota, setelah sarapan kami langsung menuju bandara.
Arsen sangat khawatir, sepertinya ia takut aku tidak nyaman, padahal aku sendiri merasa baik-baik saja.
"Kalau kamu mual atau gimana, bilang aku ya, nanti aku anterin ke toilet." Arsen selalu siaga, padahal kami di pesawat tidak sampai dua jam.
"Aku tidur aja ya, biar kamu nggak khawatir terus," jawabku lalu segera memposisikan diri untuk tidur.
Selama perjalanan, aku tidak benar-benar tidur, hanya memejamkan mata saja supaya Arsen tidak khawatir. Aku yang hamil, dan aku juga yang merasakan, tapi Arsen terlalu berlebihan saat mengkhawatirkanku.
Akhirnya, kami mendarat dengan selamat. Arsen membawa koper-koper kami sampai ke mobil, karena kami memang sengaja meninggalkan mobil di bandara.
Tidak ada yang aneh dengan selama perjalanan dari bandara ke rumah Papa, tapi Arsen berkali-kali menghirup minyak angin sambil menyetir.
"Kamu kenapa sih?" tanyaku khawatir, takut kalau dia sakit.
"Nggak apa-apa Sayang, aku tiba-tiba suka sama aromanya," jawab Arsen masih bisa tersenyum ganteng.
"Kamu aneh deh."
"Ya nggak apa-apa Sayang, yang penting kamu tetap cinta," jawab Arsen yang membuatku tersipu.
"Udah ah, fokus nyetir aja, yang cepet jangan pelan-pelan gini, aku udah pegel-pegel," kataku sambil menyandarkan punggung di kursi mobil.
Arsen memang menyetir dengan sangat pelan, dan itu karena aku sedang hamil.
Oh Tuhan, kehamilanku benar-benar membuatku tersiksa batin. Arsen terlalu berlebihan.
__ADS_1
*
*
*
Sampai di rumah, Oma dan Mama langsung menyambutku dengan kehebohan mereka. Saling berebut untuk memelukku, sedangkan aku sendiri bingung apa yang membuat mereka bertingkah seaneh ini.
"Cucu oma, akhirnya sampai juga, udah oma tunggu dari tadi." Oma menarik tangan kiriku.
"Mama juga nungguin dari tadi loh, ayo kita masuk, kamu pasti lelah, kan?" Mama ikut merangkul tangan kananku.
Dua wanita yang usianya tidak lagi muda itu sama-sama menuntunku masuk rumah.
"Kalian nggak kasihan sama Kimmy, biarkan dia masuk dulu, duduk tenang, kalian sudah heboh sendiri," kata Papa yang ikut berdiri menyambutku dan Arsen. "Kamu hebat Arsen," puji Papa pada menantu laki-lakinya.
"Ada apa sih sebenarnya?" Aku bingung dengan sikap mereka semua yang sangat aneh.
"Kita lagi nungguin cucu pertama di rumah ini, cicit Oma," jawab Oma antusias.
Aku langsung melirik suamiku yang duduk di samping Papa. Ia memalingkan wajah seolah takut melihatku.
Kenapa harus cerita sekarang sih? Kan jadi heboh begini mereka.
"Nanti kita periksa ke dokter sama-sama ya, biar kita bisa pastikan kalau bayi kalian sehat," kata Mama yang membuatku bingung.
Sama-sama ke dokter? Maksudnya aku akan diantar mereka semua?
__ADS_1
"Papa setuju, papa juga mau tahu keadaan cucu Papa."
"Nggak, nggak, aku nggak setuju. Masa iya periksa hamil aja rame-rame, ganggu pasien lain tahu Pa, Ma." Aku dengan tegas menolak keinginan mereka semua.
"Kamu jangan egois dong Kim, kita semua juga ingin melihat bayi kamu, tenang ya, kasihan cicit oma bisa stress kalau kamu marah-marah," jawab Oma seraya menyibakkan rambutku, lalu memijat pundakku.
"Oma, Kimmy kan baru hamil beberapa hari, pasti masih kecil, belum kelihatan bentuknya," protesku dengan nada kesal.
"Iya, iya Sayang. Jangan marah-marah, ya," kata Mama menenangkanku. "Ma, kayaknya kita tunda dulu ya, biar Kimmy nggak stres kasihan loh, Ma."
"Udah ah, aku mau ke kamar aja, kalian heboh sendiri." Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju tangga. Arsen berlari menghampiriku lalu meraih tangan kiriku.
"Kamu mau nuntun aku sampai ke kamar? Takut aku jatuh?" tanyaku masih dengan nada kesal. "Kalian semua menyebalkan."
♥️♥️♥️
...Sabar sabar sabar, tahan jangan emosi. Nanti kita pindah rumah ya, Kim 🥰🥰🥰...
Selamat siang, maaf telat up ke 2..
Othor lagi ngadat otaknya, susah menuangkan ide 🤭🤭
Masih setia ikuti ceritanya kan?
Jangan lupa ritualnya,
Sampai ketemu lagi 😘😘😘
__ADS_1