
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun untuk menyapu rumah, sambil menanak nasi, kemudian aku mulai masak.
Aku baru belajar resep-resep sederhana di internet. Kali ini aku memasak sayur sup dengan lauk tahu dan tempe, walaupun sederhana tapi aku bersyukur karena aku sekarang sudah bisa memasak sedikit-sedikit.
Arsen sudah rapi dengan kemeja putih polosnya yang digulung sampai ke siku. Rambutnya sudah ditata rapi dengan minyak rambut, juga wangi mint yang begitu menyegarkan.
“Kamu masak apa?” tanya Arsen yang kini merengkuh pinggangku saat aku selesai menyiapkan sarapan.
“Seperti yang kamu lihat, aku masih harus banyak belajar,” jawabku sambil mengecup pipinya.
“Ini dah lebih dari cukup, aku cobain ya.” Arsen menarik kursi untuk duduk.
Aku ikut duduk di sampingnya, lalu menyiapkan piring dan isinya untuk sarapan Arsen. Aku membiarkan kepalaku bersandar di tanganku dengan siku yang menjadi tumpuan, menanti reaksi Arsen saat mencoba masakanku.
“Gimana?” tanyaku saat Arsen selesai menelan makanannya.
“Ini enak sayang, emm … tapi kurang garam dikit,” jawab Arsen yang mencoba memaksa senyum.
“Yah, gagal lagi.” Aku menyandarkan punggung pada kursi makan.
“Hebat kok kamu, kurang garamnya cuma dikit.” Arsen bangkit lalu mencari sesuatu di dapur, dan kembali dengan sejumput garam yang kemudian dituangkan ke mangkuk sup yang aku masak. “Semangat ya,” lanjutnya yang kemudian mencium keningku.
Usai sarapan, Arsen berangkat kerja dengan naik ojek yang dipesan melalui aplikasi. Motor Arsen memang masih ada di rumah Papa, dan dia menolak saat aku akan mengantarnya ke kantor.
***
Sesampainya di kampus, aku mencari keberadaan Nana di kantin. Namun, sahabat minim akhlak itu tidak ada juga. Kemana dia? Apa dia bolos?
Lama menunggu membuatku bosan, akhirnya aku mengirim pesan pada Arsen. Bagaimana hari pertamanya kerja di kantor Papa?
[Oppa, gimana kerjanya?] Pesan terkirim ke Oppa My Hubby
__ADS_1
Aku menikmati makanan ringan yang aku beli di kantin, sambil menunggu balasan dari Arsen.
Pesan diterima dari Oppa My Hubby [Mau lihat aku bikin kopi?]
Lalu, Arsen mengirimkan foto dirinya yang sedang membuat kopi di pantry. Lalu ia juga mengirimkan foto saat dirinya terlihat lelah sambil memegang alat pel.
Aku begitu kesal dengan Papa saat melihat foto yang Arsen kirimkan. Lalu tanpa berpikir panjang, aku berniat mendatangi Papa ke kantor.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan penuh hingga akhirnya aku sampai di kantor Papa.
Di lobi kantor, aku melihat Kak Darren sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang sepertinya warga negara asing. Lalu, aku bertanya pada resepsionis yang sedari tadi sudah menyapaku dengan senyuman.
“Mbak, Pak Darren lagi ada tamu ya?” tanyaku pada resepsionis di kantor Papa itu.
“Iya Nona, apa ada janji dengan Pak Darren?” tanyanya sopan.
Di kantor ini sangat jarang ada yang mengenalku, karena aku sendiri tidak pernah datang ke kantor Papa.
“Kalau ruangan Pak Erick Ardiansyah di mana ya?”
Ribet sekali sih ingin bertemu papaku sendiri, mana Kak Darren sedang ada tamu.
“Saya Kimmora, putrinya Pak Erick Ardiansyah, ruangan Papa ada di mana?” Aku tak ingin memperpanjang urusan dengan pertanyaan bertele-tele itu.
“Di lantai 15 Nona,” jawab wanita itu.
Aku kemudian berjalan menuju lift untuk ke ruangan Papa. Namun, sesampainya di depan ruangan Papa, aku sudah dihadang oleh seorang wanita yang sepertinya adalah sekretaris Papa.
“Maaf, mau cari siapa?” Wanita itu bangun dari duduknya, lalu menghampiriku.
“Saya mau ketemu Papa saya.” Aku menunjukkan kartu identitasku pada wanita itu daripada berlama-lama.
__ADS_1
“Maaf Nona, Pak Erick sedang ada tamu di dalam!”
“Kenapa semuanya ada tamu sih. Udahlah saya cuma sebentar, sebelum balik lagi ke kampus.” Aku mendorong pintu ruangan Papa yang terbuat dari kaca.
Setelah aku berhasil masuk, Papa memang benar-benar ada tamu. Seorang wanita yang pakaiannya tidak formal seperti klien atau rekan bisnis pada umumnya. Wanita itu membelakangiku, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
Aku berjalan menghampiri Papa yang raut wajahnya berubah tegang. Aku mendengar wanita itu terisak, apa dia menangis? Kenapa Papa membuatnya menangis?
“Pa, aku mau bicara lima menit aja. Setelah itu aku balik ke kampus.” Aku berjalan semakin dekat dengan Papa.
“Ayo kita ke ruang rapat.” Papa menarik tanganku.
“Tunggu, Mas!” Wanita itu membuat langkah kaki Papa terhenti.
Papa hanya diam dan menunduk, tangannya yang menggandeng tanganku terasa bergetar. Papa kenapa?
Aku penasaran siapa wanita yang memanggil Papa dengan sebutan akrab itu? Apa Papa punya calon istri?
Namun, aku sangat terkejut melihat wanita wajah wanita itu.
“Dia kan ….”
🌹🌹🌹
...Hayo loh, dia siapa Kim? Jangan gantungin aku kayak jemuran 😥😥😥...
Gengs, aku khilaf lagi, beneran loh ini 3 bab 😅😅😅
Dah lah ya, cukup 3 bab aja.
Jangan lupa ritual jejaknya Like, Komen, Hadiah, dan Votenya.
__ADS_1
Poin mau buat apa sih? Mending jadiin kembang sama kopi kirim ke aku 😄😄
Okay, See You again gengs 👋👋👋