
Arsen terpaksa menuruti keinginanku untuk pulang pagi-pagi sekali. Kami bahkan belum sempat mandi karena aku sudah merengek minta ayam kecap buatan Bi Sri.
Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin makan ayam kecap, tapi memang saat ini aku benar-benar menginginkannya. Makanan itu berputar-putar di otak, dan sangat mengganggu pikiranku.
Sesampainya di rumah Papa, aku langsung menuju dapur dan mencari keberadaan Bi Sri. Anggota keluarga yang lain sedang sarapan, sedangkan Arsen menurunkan barang-barang kami dari mobil.
"Bi, aku mau dimasakin ayam kecap dong. Please ya Bi," kataku sambil merayu Bi Sri yang sedang membersihkan dapur.
"Tumben Non Kimmy minta dimasakin, kan biasanya masak sendiri," jawab Bi Sri.
Aku mengeluarkan ayam dari kulkas dan menyerahkannya pada Bi Sri.
"Pokoknya aku mau masakan Bibi, nggak mau yang lain." Aku memanyunkan bibir supaya Bi Sri mau mengasihaniku dan akhirnya bersedia memasakkan apa yang aku mau.
"Ya udah, bibi masakin. Non Kimmy tunggu dulu, nanti kalau sudah matang bibi panggil ya." Bi Sri mengusap pipiku dengan sayang. Bi Sri memang selalu mengerti keinginanku, karena sejak kecil, Bi Sri lah yang mengurusku.
"Oke, aku mandi dulu ya, Bi. Jangan dikasih siapapun!" kataku sambil mengecup pipinya. Lalu pergi meninggalkan dapur setelah Bi Sri mengangguk.
Semua orang masih makan di meja makan saat aku meninggalkan dapur dan akan menuju kamarku di lantai dua.
"Kamu udah pulang Kim sepagi ini?" tanya Oma.
"Iya Oma, aku lagi pengen makan ayam kecap buatan Bi Sri. Aku mandi dulu ya, Oma." Aku langsung meninggalkan Oma dan semua orang begitu saja, menaiki anak tangga satu persatu hingga akhirnya aku sampai juga di kamar.
Arsen juga baru datang saat aku baru saja masuk ke kamar, ia meletakkan barang-barang kami di sofa lalu memelukku dari belakang.
"Mandi yuk," ajakku saat Arsen mulai menciumi leherku.
Kami memang sudah lama tidak mandi berdua, tapi mandi dengan Arsen pasti tidak cukup hanya mandi, akan ada kegiatan lain sebelum mandi.
"Aku mandi sendiri deh, nanti kalau mandi sama kamu pasti lama, aku keburu pengen makan ayam kecap soalnya," jawabku lalu menyingkirkan tangan Arsen dari perutku.
"Nggak deh, janji! Cuma mandi aja, tapi nanti aku yang sabunin kamu ya," kata Arsen yang kemudian menuntunku untuk berjalan menuju kamar mandi.
"Awas kalau nakal!"
Arsen hanya terkekeh dan tetap berjalan menuju kamar mandi.
Kami benar-benar mandi berdua, aku menggosok punggungnya, dan Arsen bergantian menggosok punggungku. Hal-hal seperti ini memang jarang kami lakukan, tapi selalu menyenangkan dan menambah kesan romantis dalam hubungan kami.
__ADS_1
"Sayang, kayaknya ini tambah besar deh." Arsen memegang bukit kembarku dengan telapak tangannya yang besar, khas laki-laki dewasa.
"Masa sih, kayaknya biasa aja deh," jawabku yang merasa tidak ada yang aneh dengan itu.
"Beneran, aku yang selalu pegang kok, jadi aku udah hafal ukurannya." Arsen tak ingin kalah dan semakin mere*masnya.
"Udah ah, aku mau bilasan dulu, keburu habis nanti ayam kecap aku." Aku menepis tangan Arsen lalu melanjutkan mandi.
*
*
*
Usai mandi dan berdandan rapi, aku langsung menuju dapur untuk mendapatkan apa yang sedari tadi sangat aku inginkan. Ayam kecap buatan Bi Sri sudah matang, dan akhirnya aku bisa menikmatinya. Aku dan Arsen sarapan berdua, karena hanya kami yang belum makan dari tadi.
"Enak banget ya, Sayang?" tanya Arsen saat ia selesai makan, tapi aku malah menambah lagi.
Aku hanya mengangguk dan kembali fokus pada makananku.
"Nanti siang kita ke rumah Mahendra, terus sorenya kita terbang ke Bali," kata Arsen yang lagi-lagi hanya kujawab anggukan. "Ya udah habiskan makananmu, biar makin berisi Sayang." Arsen meninggalkan meja makan.
*
*
*
Rumah keluarga Mahendra, ini kedua kalinya aku datang bersama Arsen. Yang pasti aku sangat bersyukur karena Arsen diterima dengan baik di rumah ini. Tidak ada drama-drama menyedihkan seperti yang aku bayangkan.
"Di sana tempatnya cocok banget buat bulan madu. Suasananya sejuk dan tenang banget," kata Mama mertua, ibu tirinya Arsen.
"Itu salah satu resort milik kita juga di Bali, yang suatu hari nanti juga akan menjadi milik kalian kalau kamu bersedia mengurus bisnis keluarga kita," kata Kakek pada Arsen.
Arsen hanya menunduk, aku tahu dia bukan penggila harta yang dengan mudah menerima tawaran mereka.
"Sudah ada Dion yang akan mengurus semuanya Kek, dari dulu aku ingin buat bisnis sendiri, tapi karena Papa masih butuh bantuanku, ya akhirnya tertunda lagi," kata Arsen.
"Dion tidak bisa diandalkan, dia seperti tidak tertarik dengan bisnis kita."
__ADS_1
Setahuku, keluarga Mahendra memang memiliki usaha resort di beberapa daerah wisata, termasuk Bali, dan juga beberapa restoran mewah di ibu kota.
"Nggak perlu buru-buru kok Arsen, papa akan dukung kamu sepenuhnya," kata Pak Raffi.
"Kimmora, Kak Arsen, kalian di sini?" sapa Dera yang baru datang bersama suaminya.
"Iya, kita ke sini sekalian pamitan buat honeymoon," jawabku.
Aku dan Dera memang sudah lumayan dekat, kami berkomunikasi dengan baik lewat sosial media meskipun kami sangat jarang bertemu.
"Wah enak ya, bisa honeymoon, aku kapan ya." Dera duduk bersebelahan dengan suaminya yang terlihat biasa saja menanggapi ocehannya, mungkin karena Pak Zayn sangat sibuk makanya mereka belum pergi bulan madu setelah menikah.
Bibi datang membawakan bolu kukus yang aromanya sangat menggoda, kata mama mertua itu bolu buatannya sendiri, dan rasanya sangat enak Aku belum menemukan bolu pisang seenak ini sebelumnya, dan dengan tidak tahu malunya aku makan cukup banyak.
"Kamu makan banyak banget, jangan ngeluh timbangan naik, ya!" kata Arsen yang tersenyum melihatku makan sedari tadi, sedangkan dia sibuk berbicara bisnis dengan keluarganya.
Rasanya memang enak sekali, membuatku tidak berpikir aku akan gemuk karena banyak makan. Apa kalau aku gemuk Arsen tidak akan cinta lagi sama aku?
"Hei, Kim. Kenapa bete gitu mukanya? Kamu mau pancake durian?" Dera membuka kotak bening yang dari luar sudah terlihat jelas isinya. Saat aku mencium baunya, mendadak perutku sangat mual.
"Kalau Kimmy suka durian, kalau aku malah nggak suka," kata Arsen sambil mengusap kepalaku.
"Kebetulan dong, aku juga suka banget Kim, coba kamu cicipi dulu, pasti enak, ini buatan temanku loh!" Dera menyodorkan kotak bersisi panekuk durian itu.
Saat makanan itu semakin dekat denganku, aku tidak tahan lagi untuk memuntahkan isi perutku.
"Toilet di mana?" tanyaku sambil menahan mual.
"Di sana!"
Aku segera berlari menuju toilet yang sesuai petunjuk Dera.
♥️♥️♥️
...Jangan sakit Kim, mau honeymoon loh!...
Selamat hari senin, bagi vote nya dong gaess 🥰🥰🥰
Jangan lupa ritualnya, like+komen+hadiah+vote
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 😘😘