Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 25


__ADS_3

Sepulang dari pesta, aku dan Arsen memang langsung pulang, dan saat sebelum bersih-bersih tadi aku melakukan tes kesuburan dengan alat yang memang aku beli dalam perjalanan pulang.


Aku keluar membawa alat tes kesuburan itu, dan menunjukkannya pada Arsen.


“Ini maksudnya gimana? Kenapa gambarnya senyum kayak kamu gini? Apa kamu udah hamil?”


“Ih bukan, Sayang. Ini maksudnya aku lagi masa subur sekarang, dan kemungkinan hamilnya akan lebih tinggi kalau kita ….”


“Kalau kita usaha malam ini kan?”


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Arsen itu. “Sebenarnya aku ngantuk, tapi ini peluang pertama kita untuk punya anak.”


“Kamu tidur aja kalau memang bisa,” bisik Arsen di telingaku. Ia mulai menjilat dan bermain di telingaku yang membuatku merasakan geli dan nikmat. “Tidurlah, Sayang.”


Bagaimana bisa aku tidur kalau Arsen terus membuatku geli?


“Kamu tidak tidur, yakin?” tanya Arsen yang kini melepas kaos dan boksernya, menyisakan kain segitiga yang membungkus lolipopnya.


“Mana bisa aku tidur kalau bertingkah, Sayang,” jawabku.


Arsen malah tertawa menggodaku. “Baiklah, malam ini, kita tidak usah tidur.”


Akhirnya, malam ini benar-benar malam yang panjang untuk kami, karena Arsen tidak mau berhenti dan berkali-kali menitipkan benih-benih cintanya di rahimku.


“Tumbuhlah sehat, dan jadilah bayi-bayi yang lucu di dalam sana,”kata Arsen yang berbicara dengan perutku, bahkan ia berkali-kali mencium perutku.


“Sayang, udah! Ayo tidur!” ajakku sambil menarik tangan Arsen agar tidur di sampingku.


“Iya, Sayang.” Arsen mengecup pipiku. “Terima kasih ya, kamu selalu bisa membuatku sebahagia ini.”

__ADS_1


“Iya, Sayang. Aku sudah sangat mengantuk.”


Aku sudah tidak sanggup lagi, dan akhirnya aku tertidur dalam dekapan hangat tubuh Arsen.


*


*


*


Minggu pagi memang waktu yang pas untuk berkumpul dengan keluarga. Arsen sedang di belakang bersama Pak Aji, dan aku membuat sarapan bersama Bi Sri dan Oma, karena Mama dan Papa belum pulang dari tadi malam.


“Mama sama Papa ke mana ya Oma, kok belum pulang?”


“Mamamu bilang sih katanya mereka mau nginep di hotel yang jadi tempat resepsi itu.”


“Iya kali, Oma mana tau.”


"Ih Oma."


"Selamat pagi Oma." Tiba-tiba Nana sudah muncul sepagi ini. Pasti sudah kangen berat sama Kak Darren.


"Eh Markonah, pagi sekali kamu ke sini," kata Oma.


Nana kemudian duduk di kursi dapur, sedangkan aku masih membuatkan kopi untuk Arsen, Kak Darren dan Pak Aji.


"Iya Oma, mau numpang sarapan." Gadis berisik itu memang selalu apa adanya, dan tidak punya rasa sungkan ataupun malu di rumah ini.


"Dasar nggak punya malu," sahutku sambil mengaduk kopi yang sudah kuseduh.

__ADS_1


"Kenapa malu kalau bentar lagi juga tiap hari aku sarapan di sini, ya kan Oma." Nana mengedipkan mata pada Oma yang dibalas dengan acungan jempol oleh Oma.


"Maksud lo apaan Na?" tanyaku. Pasti Nana dan Kak Darren sudah merencanakan hubungan yang lebih serius.


"Oma, aku pinjam Kikim bentar ya." Gadis itu sudah meraih tanganku saat aku meletakkan sendok kopi di meja.


"Ya, sana. Oma tahu kalian pasti akan bergosip," jawab Oma.


Nana hanya cekikikan lalu ia membawaku ke halaman belakang dekat lapangan basket.


"Lo sama Kak Darren udah ada rencana mau married?" tanyaku serius. Kalau berita ini benar, pasti kebahagiaan keluarga ini akan semakin lengkap karena awalnya aku ragu Nana akan mau menikah dalam waktu dekat.


"Iya, tapi nunggu gue selesai skripsi dulu lah, tapi bukan itu alasan gue narik lo ke sini," kata Nana yang membuatku mengernyit.


Nana ini seorang tukang gosip yang terpercaya di kampus, kalau dia sudah menampilkan cengiran menyebalkan itu, artinya dia punya gosip yang sangat menghebohkan.


"Terus apaan?"


"Lo tau nggak, si Yumna hamil."


Yumna? Hamil? Sama siapa? Bukankah dia pacaran sama Dion sepupu Arsen? Apa Dion yang menghamili Yumna?


🌹🌹🌹


...Selamat pagi, pagi pagi sudah menyebarkan gosip....


Jangan lupa ritualnya gaess 😍


Sampai ketemu lagi 😘😘

__ADS_1


__ADS_2