
Kami sampai di sebuah pusat perbelanjaan saat keadaan masih cukup sepi, karena kami datang saat hari biasa dan belum terlalu siang untuk ke mal.
"Xavier tidurnya sendiri apa sama kalian sih, Kim? Aku tuh masih kepikiran kalau tidur sama bayi-bayi gitu gimana rasanya ya," kata Dera saat kami baru sampai di lantai tiga.
"Kalau cuma satu bayi sih bisalah diatasi, kalau banyak, nggak tahu deh. Xavier sebenarnya ada box bayi juga, tapi aku belum tega biarin dia tidur sendiri di box gitu."
"Susah kalau daddy nya minta jatah," sahut Mama yang membuatku tercengang. "Mama salah bicara ya?"
"Mama frontal banget deh," kata Dera yang malah tertawa.
Kami sudah sampai di toko perlengkapan bayi yang sangat lengkap, karena aku pernah belanja di tempat ini.
"Kalian tunggu sini dulu!" kata Dera yang menyuruh Arsen dan Zayn itu menunggu di sofa yang memang disediakan.
"Xavier sama Daddy, jangan nakal ya." Aku memegang tangan Xavier sebelum meninggalkannya bersama para lelaki.
Kami bertiga menuju deretan box bayi yang lucu-lucu dengan berbagai macam bentuk dan hiasan.
"Tapi yang dibilang Mama itu bener loh." Aku kembali melanjutkan topik pembicaraan yang sempat tertunda beberapa saat.
"Bener gimana?" tanya Dera yang pasi penasaran.
"Jangan-jangan Xavier pernah bangun pas Arsen minta jatah," tebak Mama yang membuatku menutup mulut karena malu.
"Ya ampun, Kim. Terus Xavier lihat kalian pas begituan?" tebak Dera.
__ADS_1
"Ngaco, ya nggak lah. Aku ke*lonin Xavier biar tidur lagi."
"Makanya, kalau mereka udah mulai ngerti itu, latih mereka tidur terpisah. Anaknya mandiri, orang tuanya juga bisa bebas tanpa khawatir terganggu."
Aku dan Dera saling melirik lalu tertawa bersama.
***
"Kok kamu belinya dikit. Ambil lagi Sayang, mama yang bayar," kata Mama
Saat ini kami sedang membayar barang-barang belanjaan kami di kasir.
"Nggak, Ma. Ini nggak terlalu kepakai kok, punya Xavier juga masih bagus-bagus. Masih bisa dipakai," jawabku.
"Iya sih, kayak bedong gini kan palingan bentar aja dipakainya. Kamu hemat dan cermat juga ya ternyata," puji Mama sembari mengusap pundakku.
"Dia emang sederhana sekali ya. Mungkin ibunya juga orang yang sederhana seperti dia."
"Mungkin Ma. Kalau bukan karena Arsen, mungkin sampai hari ini aku masih suka jajan habisin uang Papa."
Mama hanya tersenyum lalu membayar semua belanjaan kami. Dera sedari tadi sudah kelelahan dan memilih duduk bersama suaminya dan Arsen yang menjaga Xavier.
...----------------...
Saat ini, aku dan Arsen sudah berada di rumah, membongkar barang belanjaan yang tadi dibelikan Mama.
__ADS_1
"Kata Mama, besok baby sitternya udah datang, Dad. Nanti Mama yang jemput dari yayasan."
"Ya, baguslah Sayang. Kan kamu jadi bisa lebih santai."
"Iya sih, semoga aja babby sitternya cocok sama Xavier."
"Udah nggak usah terlalu khawatir, kita kan jagain Xavier juga, ada Mama juga yang ikut ngawasin."
Aku menyandarkan kepala di bahu Arsen, kami duduk di karpet lantai sambil mengawasi Xavier yang sedang bermain.
"Mom-mi, Mom-mi," kata Xavier yang beberapa hari ini sudah bisa menyebutkan kata mommie meskipub tidak terlalu jelas.
"Iya, Sayang. Sini! Xavier kiss mommie." Aku menunjuk pipiku, lalu Xavier merangkak dengan cepat menghampiriku.
Xavier menciumku, lalu ganti mencium Arsen yang juga minta dicium.
"Kiss baby, Xavier. Baby twin mau kiss dari Abang Xavier," kata Arsen lalu mengusap perutku.
Dengan pelan Xavier mencium perutku, bibirnya mengerucut saat mencium adiknya itu. Tiba-tiba sebuah gerakan cepat dari perutku mengenai bibir Xavier.
Xavier terbengong dan menatapku dan Arsen.
β€β€β€
Gemes sama Xavier apa sama Daddy nya π€π€π€
__ADS_1
Aku mau dua duanya.
Awas jempolnya jangan lupa πππ