
"Berhenti Dion, jangan sakiti Arsen lagi, dia nggak bersalah." Aku segera berdiri di hadapan Dion sebelum mantan kekasihku itu memukul Arsen lagi.
"Untuk apa kamu membelanya?" tanya Dion yang masih diselimuti amarah.
"Karena dia suamiku,” jawabku tak kalah berapi-api darinya.
Entahlah, secara refleks aku mengakui pernikahanku dengan Arsen di hadapan Dion. Aku kembali memeluk Arsen, rasanya aku begitu takut saat melihatnya terus menerus dihajar Dion. Arsen, maafkan aku. Maafkan aku.
“Tunjukkan buktinya!”
“Apa kita punya bukti?” tanyaku pada Arsen setelah melepas pelukanku.
Bukti seperti apa yang bisa membuat Dion merasa yakin, sedangkan foto pernikahan saja kami tidak punya. Apa Arsen bisa membuktikan pernikahan kami. Bagaimana ini?
“Tunggu bentar!” ucap Arsen pada Dion. Dia kemudian membantu tubuhku untuk berdiri.
Sementara Arsen masuk ke rumah, kulihat Dion hanya terdiam. Meskipun hubungan kami telah berakhir seminggu yang lalu, tapi laki-laki itu sepertinya belum menerima kenyataan. Memang semua ini kesalahanku sih, dan aku terjebak di situasi yang sama-sama menyakiti mereka berdua.
“Maaf,” ucapku tulus pada Dion.
“Kamu wanita paling jahat yang pernah aku temui,” ucap Dion. “Mungkin ini juga karma dari Tuhan karena dulu aku sering mempermainkan hati wanita.” Dion tersenyum kecut.
Saat ini, wajah imut Dion masih utuh tanpa luka berarti, karena setahuku tadi Arsen hanya memukul Dion sekali. Tentu sangat berbeda dengan Arsen yang hampir seluruh wajahnya babak belur.
“Aku benar-benar nggak nyangka akan seperti ini jadinya,” ucapku lirih.
“Dia juga bodoh.”
Kemudian Arsen muncul dari dalam rumah, membawa sebuah amplop coklat yang aku tak mengerti apa isinya.
“Lo buka sendiri, itu ada kopinya kalau lo pengen cek keasliannya.” Arsen menyerahkan amplop yang seketika langsung dibuka oleh Dion.
Dion tampak berkerut saat menyaksikan dua buah buku kecil berwarna merah dan hijau tua. Aku seperti pernah melihat buku itu, tapi di mana?
Dion membuka buku itu lalu ia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Jadi, kalian benar-benar sudah menikah!” Dion menunjukkan fotoku yang bersandingan dengan foto Arsen pada salah satu halaman buku kecil itu.
Apakah itu yang dinamakan buku nikah? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Sejak kapan fotoku ada di sana?
“Hampir empat bulan yang lalu,” jawab Arsen.
“Dan lo dengan beg*nya membiarkan istri lo pacaran sama gue, suami macam apa lo.” Dion mendorong tubuh Arsen.
“Gue nggak mau maksa apapun ke dia, dari dulu gue cuma bisa lihat dia dari jauh. Gue udah mundur sebelum dapetin hatinya, karena sadar posisi gue.”
“Gue nggak ngerti lo ngomong apa?”
“Kesempatan tiba-tiba datang saat gue udah berusaha mengikhlaskan dia, dan gue terpilih jadi suaminya. Pernikahan ini sangat menyakiti hatinya, gue tahu itu, dan saat gue lihat dia ketawa sama lo, gue pilih diem sambil terus berusaha buat dapetin hatinya. Gue minta maaf sama lo, atas semua keegoisan gue.”
“Lo udah gila Asen.” Dion mengembalikan buku nikah itu pada Arsen, dan meninggalkan rumah ini. Menyisakan aku dan Arsen saja di rumah ini.
__ADS_1
Sejujurnya, aku tidak paham apa yang dikatakan Arsen pada Dion, tapi aku tidak ingin bertanya untuk saat ini.
"Sakit ya?" tanyaku demi memecah keheningan.
"Ini nggak seberapa kok, dibandingkan sakitnya melihat kamu jalan sama cowok lain." Arsen meraih tanganku.
"Aku obatin dulu, luka kamu." Aku mengajak Arsen masuk ke rumah kontrakan kami.
Saat memasuki rumah, rasanya seperti baru saja dibersihkan, tak terlihat seperti rumah yang lama ditinggalkan.
"Aku cari air hangat dulu buat kompres luka kamu ya,” ucapku setelah kami tiba di ruang tv.
Arsen malah menarik tanganku membuat langkahku tertahan.
“Kalau mau kompres pakai air dingin dulu, Kim.” Arsen berusaha tersenyum meski dia terlihat kesakitan karena kedua ujung bibirnya yang memar.
“Yaudah aku cari di kulkas.” Aku melepas genggaman tangan Arsen.
“Di kulkas nggak ada, ‘kan belum aku colokin lagi kulkasnya setelah kita tinggal,” kata Arsen. “Udah nggak usah dikompres, ada kamu di sampingku aja udah ngurangin sakitnya kok.”
Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di saat dia sedang terluka parah.
“Ih, gombal banget, yaudah aku cari ke minimarket dulu.”
Aku pun pergi membeli keperluan untuk mengobati luka Arsen. Karena hari sudah gelap, aku pergi menggunakan mobil.
Setelah berhasil mendapatkan semua yang kurasa perlu, aku pun segera pulang dan langsung mencari keberadaan Arsen.
Di ruang tv, di kamarnya, bahkan di kamarku dia tidak ada. Namun, aku merasa lega saat mendengar suara air di kamar mandi.
Dengan pelan aku mengompres memar-memar di wajah Arsen yang kini telah berbaring di headboard. Sedangkan aku duduk di tepi ranjang.
“Auw. “ Arsen meringis kesakitan saat dinginnya es batu berbalut kain ini mengenai lukanya.
“Sakit?” tanyaku, meskipun aku tahu jawabannya pasti sangat sakit.
“Iya, apa karena esnya ya."
"Terlalu dingin ya?"
"Iya, tapi lama-lama pasti mencair, sama kayak hati kamu."
Aku tersipu karena ucapan Arsen. Dulu, hatiku memang membeku tanpa mau menyelami hati Arsen.Namun, saat ini aku merasa hatiku mulai mencair perlahan.
“Bisa aja kamu.” Aku memukul pelan perut Arsen sambil tersenyum malu.
“Auw, auw.” Arsen kesakitan lagi sambil memegang perutnya. Wajahnya terlihat seperti sedang menahan kesakitan.
“Arsen, kamu kenapa?”
Arsen menggenggam tanganku erat, ia pasti sangat kesakitan.
__ADS_1
Karena penasaran, aku pun menyingkap ke atas kemeja lengan panjang yang dikenakan Arsen.
“Arsen, perut kamu juga terluka!”
“Gara-gara tendangan pacar kamu tuh, dia kan jago taekwondo.”
“Mantan,”
Aku membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Arsen, lalu membantunya melepaskan kemeja itu dari tubuh Arsen yang putih bersih. Setelahnya aku mengompres perut Arsen dengan es batu.
“I love you, Nona Kimmy,” kata Aren yang membuatku tersenyum malu mendengarnya.
“Kamu pakai pemerah pipi?” tanya Arsen.
“Nggak, kenapa?” Aku memegang kedua pipiku, aku bahkan belum mandi setelah pulang dari kampus.
“Pipi kamu merah gitu. Aku pikir kamu sekarang pakai apa itu namanya? Atau jangan-jangan kamu lagi tersipu?”
“Ih, ngapain coba tersipu sama kamu. Udah aku mau mandi, kamu lanjutin sendiri.” Aku mengambil handuk lalu meninggalkan Arsen.
Di kamar mandi, aku memandangi wajahku sendiri di cermin. Apa benar pipiku jadi merah-merah? Malu kan jadinya, pasti Arsen mikir aku lagi tersipu sama dia.
Setelah mandi, aku baru sadar bahwa aku tidak membawa baju ganti, sementara pakaian yang kukenakan tadi sudah basah akibat cipratan air. Maklumlah, kamar mandinya tanpa shower dan hanya mengandalkan gayung untuk mengambil airnya.
Dengan mengendap-endap aku berjalan masuk ke kamar hanya memakai handuk yang menutup dada sampai setengah paha. Perlahan aku mengintip dari luar, berharap Arsen akan ketiduran karena aku mandi lumayan lama.
Benar dugaanku. Laki-laki itu tengah berbaring sambil memejamkan mata, dengan tubuh bagian atas yang terbuka. Aman! Aku membelakanginya untuk mengambil baju di lemari.
Saat aku masih sibuk mencari piyamaku, tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang.
“Satu bulan yang lalu aku boleh menyentuhnya, kan?” bisik laki-laki itu tepat di telingaku.
“Apa?” tanyaku yang masih belum begitu paham maksud Arsen.
“Ini.” Tangan kanan Arsen bergerak perlahan dari perut naik ke bagian bukit kembarku, dan berhenti di bukit sebelah kiri. “Sekarang aku cuma boleh pegang, atau boleh melakukan yang lebih?”
🌹🌹🌹
*Melakukan apa dulu Bang? Emangnya kuat mendaki gunung? Bukannya lagi sakit*?
Eh, ada yang paham nggak yang diomongin Arsen ke Dion? Kasih tahu Kimmy ya, dia nggak paham soalnya.
Okay. Setelah muter-muter keliling kampung buat nyari es batu, akhirnya ketemu juga yang jualan. Es batu buat apa sih Thor repot bener? Buat ngompres Babang Arsen lah, masa mau bikin es sirup 🙈🙈
Maap ya, Othor lagi migrain, kayak mau flu gitu. Jadi lemot buat up banyak-banyak.
Jejak petualangan dulu.
Eh.
Salah.
__ADS_1
Ritual jejak maksudnya. Like, Komen, Hadiah, dan Votenya.
Okay. See You again. Gengs.