
Pagi ini, aku terbangun karena sentuhan lembut di kepalaku, juga kecupan lembut yang berkali-kali mendarat di keningku. Pelakunya siapa lagi kalau bukan suamiku.
Jika kemarin-kemarin aku terbangun sendiri, hari ini dia ada di sampingku, mendekap erat di balik selimut yang sama. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya yang bersentuhan langsung dengan kulitku.
"Sayang, kamu sudah bangun belum sih?" Arsen masih terus mengusap kepalaku, dan aku berpura-pura masih tidur.
Arsen kembali mengecup keningku, aku bisa merasakan Arsen merubah posisinya menjadi tepat diatasku.
"Bangunlah, aku tidak akan lama di sini, besok aku harus kembali, Sayang." Aku bisa merasakan tangan Arsen membelai wajahku.
Seandainya dia tahu, hatiku seperti tersayat pisau saat mendengarnya. Lagi-lagi kami harus berpisah, padahal baru kemarin sore kita bersama. Sampai kapan terus begini?
"Aku mau pulang. Kalau kamu mau pergi, pergi aja," kataku setelah membuka mata.
Aku begitu kesal dengan Arsen. Tidak bisakah dia tetap di sini saja bersamaku?
Aku mendorong tubuh polos Arsen yang masih berada di atasku. Rasa kecewa dan egois tiba-tiba menyeruak menyerbu otakku. Bukankah dia suami yang harus menjaga istrinya?
Sekuat tenaga aku mendorongnya, meski tetap saja tenaga Arsen lebih kuat dariku.
Arsen menangkap kedua tanganku dengan satu tangannya. Mengikat kedua tanganku ke atas dengan kelima jarinya. Lalu ia menciumku bibirku dengan buas.
"Belajarlah mengerti aku. Bersabarlah untuk kesuksesanku, karena aku juga harus membuat Mama di Surga bangga denganku, Sayang," kata Arsen setelah melepas ciumannya.
Aku menatap dua mata indah itu diselimuti kesedihan, mendadak perasaanku ikut bersedih. Tangan Arsen yang sebelumnya mengikat kedua tanganku, perlahan mengendur dan akhirnya terlepas.
Aku lupa, selama ini aku hanya memikirkan perasaanku sendiri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Arsen selama ini.
Melihat Arsen yang semakin tertunduk tak berdaya, aku langsung memeluknya. Perasaanku berkata, aku harus belajar mengerti dan memahami bagaimana perasaan Arsen.
"Maaf, maafkan aku." Aku mengusap rambut hitamnya dengan penuh kasih.
__ADS_1
Aku memang wanita egois, wanita yang hanya ingin dimengerti, tapi tidak pernah sekalipun aku mengerti perasaan Arsen.
Aku janji Arsen, aku tidak akan merengek lagi, aku akan berusaha lebih sabar lagi untuk menunggumu. Aku mencintaimu Arsen, sangat sangat mencintaimu.
***
Di pantai ini, aku dan Arsen melakukan semua yang bisa kami lakukan bersama. Jalan-jalan juga mengambil beberapa foto dengan kamera ponsel.
"Sayang, kamu mau nggak aku ajarin naik motor," ucap Arsen saat kami baru saja selesai makan siang di kafe dekat pantai.
"Naik motor? Di sini?"
"Ya, mumpung masih ada waktu. Di sini lebih sepi daripada di kota."
Aku mengangguk setuju, dan itu membuat senyum semringah di wajah tampan Arsen.
Pertama kali naik motor, rasanya membuat jantungku berdebar tidak karuan. Aku jadi teringat dulu saat belajar menyetir mobil bersama Kak Darren, rasanya sama-sama menegangkan.
Arsen sudah siap di belakangku, memberitahuku secara sekilas cara menjalankan motor, cara mengerem dan juga fungsi dari tombol-tombol yang ada di motor.
Aku mengikuti semua yang diarahkan Arsen, dan perlahan motor ini bisa berjalan. Meski keseimbanganku belum sempurna, tapi Arsen dengan sabar terus mengajariku. Hingga akhirnya aku berhasil mengendarai motor dengan sempurna.
Arsen memelukku dari belakang sambil memberi tahuku aturan-aturan berkendara yang harus kumengerti.
Dipeluk dari belakang begini, aku jadi tahu bagaimana perasaan Arsen ketika aku memeluk punggungnya saat di atas motor.
Setelah belajar naik motor singkat itu, kami kembali duduk di tepi pantai. Cuaca yang mendung membuat kami betah dan tidak kepanasan.
Arsen tidur di pangkuanku, sedangkan aku membelai rambutnya dengan sayang.
"Kalau kita punya anak, apa kita akan memiliki waktu berdua saja seperti ini?" tanyaku saat melihat bocah kecil yang baru belajar berlari, tengah menyusuri bibir pantai bersama ayahnya.
__ADS_1
"Kenapa bertanya seperti itu? Sebisa mungkin aku akan meluangkan waktuku untukmu dan anak-anak kita," jawab Arsen yang kemudian mengecup perutku. "Aku jadi ingin merasakan apa yang mereka rasakan saat mendapat tendangan dari sini." Arsen menatapku, sedangkan satu tangannya mengusap-usap perutku yang rata.
"Setelah kuliahku selesai, kita akan segera memiliki anak," kataku dengan sangat yakin.
Arsen kemudian bangun dari posisinya.
"Aku akan sukses sebelum kamu lulus, jadi saat dia hadir, dia akan bangga karena ayahnya sudah berhasil dan hidupnya akan terjamin." Arsen kemudian menarikku ke dalam dekapannya.
Aku mengaminkan semua doa yang Arsen ucapkan itu.
"Pastikan penantianku tidak sia-sia."
"Pasti."
"Sebelum kuliahku selesai, kamu harus sukses."
"Iya, Sayang. Aku yakin, beberapa tahun lagi aku akan sukses, dan aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Arsen mengecup keningku.
Semoga mimpi kita akan terwujud sesuai keinginan kita Arsen.
❤❤❤
...Aamiin, semoga ya Kim. Kita ketemu dua tahun lagi ya.....
Oke gaess, season 1 selesai.
Tapi novelnya masih lanjut ya. belum end 🤣🤣🤣
Season 2 fokus sama Arsen, dan perjuangan mereka untuk punya anak 🥰🥰
So, always stay with me 🥰🥰
__ADS_1
Ritual jejaknya jangan lupa, kembang sama kopinya, like dan komentarnya juga.
Sampai ketemu besok di waktu dan tempat yang sama🥳🥳🥳