
Topi hitam itu kulepas paksa setelah yakin siapa sosok laki-laki di sampingku ini. Benar, dialah laki-laki yang selalu kutunggu kehadirannya. Wajah tampannya masih sanggup membuat debaran di hatiku. Aku tak tahan lagi, langsung saja aku menghambur dalam pelukannya.
"Surprise." Ia mengusap rambutku yang tergerai. Sedangkan aku tenggelam dalam dekapannya.
Oh, bangku bioskop ini benar-benar mengganggu, dengan terpaksa aku melepaskan pelukan kami.
"Aku kangen. Kamu jahat banget nggak ngabarin aku." Kutumpahkan segala rindu yang selama beberapa bulan ini menyiksa, air mata masih saja lolos dari mataku, mengalir keluar tanpa bisa ditahan. Bukan karena kesedihan pastinya, tapi ini air mata bahagia.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulutnya, kami saling memandang, sampai akhirnya.
"Cie cie." Suara dua manusia di sampingku yang kini tengah meledek kebahagiaanku.
Masa bodoh dengan film, aku ingin memeluk suamiku lebih leluasa lagi.
"Ayo kita keluar, di sini banyak setan." Aku berdiri dan menarik tangan Arsen untuk ikut denganku.
"Filmnya gimana?" tanya Arsen.
"Kita buat film kita sendiri." Aku mencium pipinya supaya dia tidak banyak bertanya lagi. "Kita pulang dulu ya," pamitku pada dua sejoli itu.
Akhirnya aku dan Arsen keluar dari gedung bioskop. Kami bergandengan tangan menuju melewati pertokoan di pusat perbelanjaan ini.
"Kamu tadi ke sini naik apa?" tanya Arsen saat kami berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
"Nebeng sama Nana, kamu bawa mobil, 'kan?"
"Enggak," jawab Arsen yang seketika membulatkan mataku dengan sempurna.
"Lah terus kita pulang gimana? Naik bus? Naik taksi?" tanyaku setengah panik.
"Naik motor, Sayang." Arsen membawaku ke tempat parkir sepeda motor.
Setelah sekian purnama, akhirnya aku bisa merasakan lagi dibonceng Arsen. Bagiku naik motor berdua itu lebih romantis daripada naik mobil. Kalau naik motor, aku bisa memeluk punggungnya dengan puas, sedangkan saat naik mobil, kita palingan cuma bisa gandengan tangan.
Aku kembali menghirup aroma tubuh Arsen, meskipun bercampur dengan asap kendaraan di jalanan, aku masih bisa mencium aroma mint yang selalu kurindukan ini. Tanganku semakin erat memeluknya, seakan-akan jika tidak erat, ia akan kembali terbang ke Jepang.
Terlalu asyik menikmati moment pelukan ini, aku tidak sadar jika motor melaju bukan ke arah pulang. Ini, seperti jalan menuju pantai. Apa Arsen akan membawaku liburan ke pantai?
"Liburan." Arsen berteriak, tangan kirinya menyentuh kedua tanganku yang saling bertautan memeluknya dari belakang.
Kupikir Arsen hanya menggenggam tanganku saja, tapi aku salah, tangan itu menarik kedua tanganku untuk menyentuh sesuatu yang keras di balik celana panjangnya, membuatku me*re*masnya karena gemas.
"Kimmora aku mencintaimu," teriaknya dengan sangat kencang.
Secara refleks aku menoleh ke kanan kiri, malu juga kalau ada yang melihat kami. Ternyata aman, jalanan ke pantai ini lumayan sepi, hanya beberapa mobil yang melaju dengan kencang.
"Rafandra Arsenio, aku juga mencintaimu. I miss you so much" Aku ikut berteriak menyerukan namanya.
__ADS_1
Hari sudah gelap, dan kami berteriak-teriak di jalan. Sungguh, manusia jika sudah dimabuk cinta pasti menganggap dunia milik berdua, iya kan? Itu juga yang sedang aku dan Arsen rasakan.
"Dia juga merindukanmu, Sayang," kata Arsen menggenggam tanganku yang masih memegang pusakanya yang tertutup celana, meski Arsen tidak lagi berteriak, tapi aku bisa mendengarkannya.
Malam ini, akan menjadi malam panjang untuk kami berdua.
🌹🌹🌹
...Kalian berdua tuh benar-benar mesum ya. Awas aja bentar lagi aku ajak bulan madu lagi ke Jepang. Istri kedua juga punya hak yang sama Kim 🤣🤣🤣...
Nah, aku udah up 2 bab ya, kenapa sih nggak barengan aja thor??
Biar likenya adil, kayak Bang Arsen yang adil sama Othor dan Kikim.
Kembang sama kopi mana ya, ngantuk banget nih 🤣🤣🤣
Oke deh kalau nggak ada, hati sama pisau juga boleh (Matre thor)
Hmm, yaudah deh.
Ritual Jejaknya aja, Like+Komentar+Hadiah+Vote 🥳🥳🥳
sampai ketemu lagi ❤❤
__ADS_1