
Arsen sudah menungguku di depan kelasku, entah sejak kapan ia berdiri di depan pintu sendirian. Laki-laki itu benar-benar mengkhawatirkan keadaanku. Buktinya begitu melihatku keluar kelas, yang dia tanyakan pertama kali adalah nyeri di lenganku, apakah sudah membaik?
Aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung, menikahi Arsen yang begitu perhatian. Walaupun dia laki-laki yang sederhana, tapi Arsen sangat bertanggung jawab. Lihat saja, bagaimana dia menungguku seharian di kampus padahal dia tidak ada kelas lagi.
Aku masih tersipu malu saat Arsen tersenyum menantiku di depan kelas. Namun, tiba-tiba sahabatku yang minim akhlak mendorong tubuhku, hingga aku jatuh tepat di pelukan Arsen.
“Eh, sorry, Kim. Kebablasan ya,” ucapnya tanpa rasa bersalah, ditambah dengan suara cekikikan yang membuatku ingin sekali melemparnya ke laut.
Aku beruntung karena Arsen langsung menangkap tubuhku, kalau tidak, mungkin aku akan jatuh tersungkur ke lantai.
“Kamu nggak kenapa-napa?” tanya Arsen yang terlihat begitu khawatir.
Aku hanya menggeleng pelan, tapi Arsen justru terlihat tidak tenang.
“Kita ke dokter ya, aku takut kamu kenapa-napa,” katanya lagi.
Arsen mungkin sedang mengkhawatirkan implan yang kupasang, tapi aku benar-benar tidak kenapa-napa.
“Ih, Kak Arsen lebay banget deh, Kimmy kan nggak jatuh, nggak luka juga, ngapain dibawa ke dokter?” celoteh Nana.
Aku belum cerita dengan Nana mengenai keputusanku dan Arsen untuk menunda kehamilan, lagipula itu bukan sesuatu yang harus diceritakan dengannya, ‘kan?
“Emm, ya gitulah, Na. Orang kalau beneran sayang,” sahutku sebelum Arsen mengatakan yang sebenarnya. “Udah yuk, kita pulang!” Aku menggandeng lengan kiri Arsen, sementara Nana berjalan di sisi kiriku.
“Kim, kapan-kapan gue pengen dong mampir ke kontrakan lo, rasanya gue kayak nggak percaya lo bisa tinggal di kontrakan,” ujar Nana saat kami akan berpisah di parkiran.
“Ya udah kapan-kapan lo main, biar lo tahu gimana rumah gue yang keren.” Aku tersenyum sambil melambaikan tangan pada Nana yang sudah membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
“Oke deh. Oh ya Kak Arsen, aku cuma pesen, jagain Kimmy, takutnya dia kumat kepincut Dion-Dion yang lain.” Nana langsung masuk ke mobil dan segera meninggalkanku yang kesal dengannya.
Arsen tertawa melihat tingkahku yang mengepalkan tangan di udara saat mobil Nana melaju ke pintu keluar.
“Udah yuk pulang, aku mau setrika baju buat kerja besok.” Arsen membukakan pintu mobil untukku, lalu ia berputar dan masuk ke mobil untuk mengemudi.
Arsen pun melajukan mobil ke luar dari area kampus. Bergabung dengan hiruk-pikuk kota yang tak pernah sepi. Aku duduk tenang sambil sesekali memperhatikan Arsen yang sedang mengemudi.
“Kamu kerja di bagian apa sih di kantor Papa?” tanyaku saat kami hanya saling diam.
Sebelumnya aku dan Arsen belum pernah membahas ini, karena terlalu sibuk dengan urusan tugas dan juga kontra-sepsi.
“Bikinin kopi sama bersih-bersih kayaknya,” jawab Arsen yang terdengar aneh di telingaku.
“Kamu jadi OB?” tanyaku yang refleks sedikit berteriak.
“Iya, kenapa emangnya? Yang penting kan halal, Kim,” jawab Arsen yang dahinya mulai berkerut.
“Nggak, aku nggak terima kalau kamu beneran kerja jadi OB. Masa menantu seorang Erick Ardiansyah jadi OB di kantornya sendiri?” Aku bergidik ngeri saat membayangkan Arsen bersih-bersih di kantor Papa. Dengan kain lap dan juga memegang sapu juga alat pel di tangan, aku tidak sanggup membayangkan wajah tampan Arsen yang akan sia-sia saat menjadi pesuruh di kantor milik papaku sendiri.
“Emang kenapa? Kamu gengsi?”
“Ya, bukan gitu maksud aku, masa Papa sama Kak Darren nggak bisa kasih kamu posisi yang bagus di perusahaan, aku jadi makin pengen cepet-cepet lulus biar bisa melengserkan Papa dari posisinya,” sungutku. Kali ini aku merasa Papa benar-benar keterlaluan.
“Hahahaha … kamu lucu banget sih Kimmy sayang,” kelakarnya.
Aku benar-benar berniat untuk membuat perhitungan dengan Papa, masalah pernikahanku dengan Arsen saja aku belum membalasnya, sekarang setelah aku menerima Arsen, Papa malah ingin menjadikannya Office Boy. Apa benar-benar berencana membuat hidupku hancur?
__ADS_1
“Arsen, kamu beneran jadi OB nggak sih? Jangan bercanda!” tanyaku sekali lagi.
“Iya sayang, namanya juga bantu-bantu, ya apa aja yang bisa aku bantu. Kalau disuruh bikin kopi ya bikin kopi, kayak kerja di kafe aja, cuma ini kan lebih santai dan nggak pulang malam.”
Papa benar-benar keterlaluan. Lihat saja, besok aku akan datang untuk membuat perhitungan dengan Papa!
...♥️♥️♥️M.A.S🚗🚗🚗...
Waduh, masa Bang Arsen beneran jadi OB? Wah nggak bener nih, aku dukung Kim. Semangat buat besok ya. Ada yang bisa bayangin nggak Bang Arsen pegang sapu sama pel?
👀Hai hai hai, ada yang kangen nggak? Kemarin cuma up 1 bab!
👁Nggak ada yang nyariin Thor. Oh gitu, ya udah kalau gitu.
Tapi Othor mah baik, aku kasih up lagi ya. Syaratnya harus like dan komentar di bab ini, syedih aku kalau double up yang bab awalnya diabaikan, uh rasanya pengen tak kasih 1 bab aja nggak usah banyak-banyak.
👁Bawel deh Thor, yang penting kan dibaca.
👀Iya sih, tapi rasanya kecewa loh aku.
👁Jangan baperan deh!
👀Kalau nggak baper novelnya hampa, readersnya ambyar.
Dah lah, kebanyakan ngomong, eh kebanyakan ngetik. Ritual Jejaknya dulu ❗❗❗
Langsung aja cek it out ⬇️⬇️⬇️
__ADS_1