
Wanita di hadapanku ini sangat mirip dengan Tante Sabila, hanya saja penampilannya sangat berbeda dengan Tante Sabila yang bertemu denganku bulan lalu.
Tante Sabila memiliki rambut lurus sampai ke punggung, rambutnya hitam dan lebat. Tante Sabila berpenampilan sederhana, dan sangat natural. Sedangkan wanita ini, rambutnya dikeriting gantung, warnanya coklat gelap, dan riasannya seperti wanita berkelas, bulu mata lentik, perona pipi juga lipstik merah merona. Wanita ini bukan Tante Sabila, apa dia Mama?
"Kamu pasti salah orang, saya Sabrina, saudara kembarnya Sabila." Wanita itu tersenyum dengan anggun, lalu mengusap bahu kiriku.
Benar, dia Mama. Mama kandungku. Mama yang telah meninggalkanku. Apa ini saatnya aku bertemu Mama. Mama bahkan tidak mengenaliku, tidak seperti Tante Sabila yang langsung tahu saat melihatku.
"Kamu suka gaun ini?" tanya wanita itu yang kemudian kubalas dengan anggukan. “Selera kita sama, ya,” imbuhnya sambil tersenyum.
Iya Ma, karena aku adalah anakmu, itulah sebabnya selera kita sama.
“Terima kasih, Tante.” Aku menerima gaun yang akhirnya wanita itu lepaskan.
“Kim, Kimmy, Kimmora! Sini deh!” Aku melihat Nana sudah melambai-lambai memanggilku.
Saat Nana memanggilku wanita yang kupastikan adalah mamku itu hanya diam mematung.
“Maaf, saya permisi!” Aku meninggalkan wanita itu dan menghampiri Nana.
Nana sedang kewalahan dengan empat pasang sepatu di hadapannya. Namun, aku tidak bisa fokus dengan beberapa sepatu cantik itu. Pikiranku melayang pada sosok Mama yang selama ini aku rindukan. Mama yang selalu kupanggil di setiap rasa sedih dan ketakutanku, Mama yang aku rindukan setiap kali aku dikecewakan Papa, ternyata wanita itu tidak mengenaliku.
“Kim, lo nangis?” nana mengusap air bening yang entah kapan sudah ada di wajahku.
Aku dengan cepat mengusap seluruh wajah dan mataku, menghilangkan air mata sampai benar-benar hilang tak tersisa di wajahku.
“Gue kelilipan kayaknya. Gue udah dapet gaunnya nih, lo gimana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Namun, Nana sepertinya tahu aku menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
“Oke gue beli empat ini langsung. Tadinya gue mau nanya pendapat lo, satu aja yang bagus, tapi kayaknya lo lagi nggak mood deh.” Nana memungut empat pasang sepatu pilihannya itu, lalu kami membayarnya.
Saat di kasir, Mama juga sedang membayar pesanannya. Mama membeli beberapa gaun dan sepatu. Benar kata Papa, Mama cuma memikirkan penampilannya sendiri. Aku yang nyata di hadapannya tidak bisa ia kenali. Cukup! Dia bukan mamaku, dan tidak pantas menjadi mamaku.
...♥️♥️♥️M.A.S.🚗🚗🚗...
Nana mengantarku sampai di rumah Papa, karena tadi aku memang tidak membawa mobil.
Semenjak libur kuliah, aku menginap di rumah Papa sesuai permintaan Oma yang belum juga kembali ke negaranya.
“Lo langsung pulang, ‘kan?” tanyaku sebelum turun dari mobil Nana.
“Iyalah, lo kalau udah siap cerita, cerita aja sama gue, jangan lo pendam sendiri.” Nana memberiku nasihat seperti biasanya.
“Iya, Markona. Udah ya, gue turun, lo ati-ati pulangnya.” Aku membuka pintu mobil Nana. Sementara Nana hanya mengatakan iya dan segera berlalu.
Tepat saat mobil Nana meninggalkan rumah Papa, Oma turun dari taksinya. Sepertinya Oma juga baru berbelanja.
Dengan malas aku menghampiri Oma yang terlihat kerepotan dengan beberapa paper bag di tangannya.
“Oma kenapa nggak manggil Mang Asep aja sih,” ocehku.
“Udah, jangan cerewet, kamu hari ini nggak akan nyapu depan, ‘kan? Anggap aja itu gantinya.” Oma membayar taksi, sedangkan aku berjalan masuk setelah Mang Asep membuka gerbang rumah Papa.
Tepat sebelum aku melangkah masuk ke dalam gerbang, seseorang menarik lengan kananku, yang kupikir adalah Oma.
“Apa lagi sih, Oma?” tanyaku sambil menoleh padanya.
Akan tetapi, yang aku lihat bukanlah Oma, melainkan wanita yang baru tadi kulihat dan ingin segera aku lupakan.
__ADS_1
“Kimmora.” Wanita itu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. “Ini Mama,” ucapnya sambil berderai air mata.
Aku tak memedulikan wajahnya yang memelas, kali ini aku tidak ingin luluh begitu saja. Dua belas tahun wanita ini meninggalkanku begitu saja, lalu kenapa dia tiba-tiba muncul saat ini?
“Maaf, Tante, Tante salah orang.” Aku mengibaskan tanganku agar lepas dari genggamannya,
“Mama nggak mungkin salah orang, Kimmora.”
“Sabrina cukup!” teriak Oma yang membuatku ikut menoleh padanya.
🌹🌹🌹
...Mama datang mau apa? Mau baikan sama Papa Kimmy? Atau ada tujuan lain? Mama kan udah menikah lagi, ya kan Kim?...
Hai gengs. Aku telat lagi ya, maaf ya ketiduran gengs. Kalian baca palingan juga udah pagi 🤭🤭
Aku lihat sebagian dari kalian yang dulu duka komen sekarang pada diem-diem aja ya, aku pikir kalian meninggalkan aku 😔😔
Ayo dong komentarin aku.
Bosen Thor, baca ceritamu juga terpaksa.
Uh, nyelekit banget😄😄
Oh, ya gengs. Aku mau nanya pendapat kalian nih, kira-kira kalau aku bikin grup Chat di Noveltoon kalian mau gabung nggak?
Insya Allah hari ini kalau nggak besok Othor mau minta dibikinin grup chat ke NT. Kalian gabung ya nanti, biar kita bisa ngobrol-ngobrol santai. Nanti aku juga bisa bagi-bagi poin buat kalian 😍😍
Okey deh, udah terlalu dini hari, langsung akhiri saja dengan Ritual jejaknya, Like + Komen +Hadiah + Vote dan Favorite.
__ADS_1
Sampai jumpa di pertengahan minggu 😄😄