
❤❤❤
“Ki….Sayang. Kamu dimana? Plis donk jangan becanda. Ini Abang sudah pulang, Ki!”
Ammar mulai gusar. Kirana tidak ada di kamarnya. Kemudian ia mencari di kamar mandi. Kali aja istrinya sengaja ngumpet di sana. Ternyata tidak ada juga. Ruangan ini tidak terlalu besar hanya seukuran kamar di rumahnya. Seandainya sembunyi pun dengan mudah Ammar akan menemukannya.
“Ki…! Sayaaang. Cintanya Abang!
Ammar terus memanggil-manggil istrinya sambil mondar-mandir. Ia mulai panik. Perasaannya tak enak. Tas dan hape kirana masih tergeletak di atas meja. Ammar berharap ini hanya prank.
“Aaahhhhh!”
Amar teriak sekencang mungkin. Melepaskan semua emosi yang menyesakkan dada. Suaranya memekakkan telinga. Tentu saja hanya dirinya sendiri yang mendengarkan.
‘Astagfirullah. Ini ada apa? Apa mungkin kirana di culik. Cobaan apalagi ini’
Sambil mengepalkan tangan karena menahan marah, ia duduk di sofa. Padahal ia sudah membayangkan, istrinya akan menyambut kedatangannya dengan memeluknya manja. Kemudian menghabiskan malam dengan memadu kasih hingga pagi. Ia sudah menanti saat indah malam pengantin.
Nyatanya…,sungguh dan teramat tragis. Ammar mengusap wajahnya dengan kasar. Seketika badannya terasa remuk. Seiring hatinya yang porak-poranda. Padahal tadi, saat perjalanan menuju hotel, hatinya begitu riang gembira. Apalagi saat hendak membuka pintu kamar. Wajah kirana yang cantik serasa menggoda dan memanggil-manggil dirinya. Tapi kini, semua bayangan indah itu sirna. Seiring kepergian kirana yang entah kemana. Yang ia rasakan saat ini adalah capek. kepalanya mendadak nyut-nyut. Rasanya ia ingin menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan meraung sekeras mungkin.
Beberapa saat ia termenung. Mencoba menetralisir hatinya. Sambil terus beristigfar. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia tidak mungkin berdiam diri tanpa melakukan apapun. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada istrinya. Ia tak mau larut dalam pikiran yang kacau. Dan harus segera melakukan sesuatu.
Rasyid. Dengan cepat tangannya mencari kontak Rasyid-sepupunya. Ia harus meminta bantuannya. Rasyid seorang sarjana hukum dan saat ini sedang melanjutkan pendidikan profesi sebagai lawyer.
Handphone tersambung tapi tidak diangkat. Mungkin karena sudah tengah malam. Ammar tidak menyerah. Ia mencoba menelpon berkali-kali. Tapi zonk. Mau tak mau Ammar harus ke kamar sepupunya, yang sebenarnya bersebelahan dengannya.
“Tok..tok..tok.”
Berkali-kali suara pintu diketuk. Tak ada jawaban. Ammar mulai kehilangan kesabaran. Ia benar-benar kesal.
“Syid…Syid..buka pintunya! teriaknya tak peduli.
__ADS_1
Rasyid tidur sangat nyenyak. Suara Ammar tak jua membangunkannya. Hari ini memang melelahkan. Rasyid tinggal di Jakarta. Kabar pernikahan Ammar yang begitu mendadak, mengharuskan dirinya mencari penerbangan sesegera mungkin. Menjelang maghrib ia baru sampai Surabaya. Dan langsung menuju hotel.
Ammar memejamkan mata. Tangannya masih mengepal di pintu kamar sepupunya. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu. Seolah ia merasai beban yang begitu berat dalam dada. Kemudian ia mencoba sekali lagi. Kali ini dengan ketukan dan panggilan lebih keras. Ia benar-benar tak peduli jika itu bisa mengganggu penghuni lain.
Dengan tergagap Rasyid terbangun karena mendengar suara berisik di luar. Ia mengumpat dalam hati. Segera ia menuju pintu dan membukanya dengan kasar. Ia mengucek matanya begitu melihat abangnya di depan pintu dengan wajah berantakan.
“Bang!”
“Bangunin Lu bikin kesel,” umpat Ammar sambil nyelonong masuk ke kamar Rasyid. Tentu saja itu membuat Rasyid bingung.
‘Ngapain pengantin baru ini. Bukannya bercinta di kamar sama istrinya. Eeh malah ke sini, batin Rasyid.’
“Bantu gue! Kirana menghilang.” kata Ammar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Hah! Kok bisa? Bukannya sama Abang?”
Ekspresi Rasyid kaget sekaligus ia menahan tawa melihat penampakan abangnya yang acak-acakan.
“Lu kan orang hukum. Bantu Abang. Bisa mati Abang kalau seperti ini.”
Rasyid melirik Abangnya, kasian.
“Malam pengantin yang tragis,” gumamnya lirih.
Walaupun amat lirih, Ammar bisa mendengar ucapan sepupunya itu. Ia ingin mencambak rambutnya untuk memberi pelajaran supaya tidak asal bicara. Tapi ia harus tahan. Saat ini ia sedang membutuhkan bantuannya. Kondisi hatinya memang sedang tidak baik, tapi ia tidak mau tersulut emosi. Maka Ammar memilih pura-pura tidak mendengar.
“Kalau menurut analisa gue, ini sudah direncanakan. Alibi gue…si Son.” Rasyid mengatakan itu dengan santai.
Ammar membelalakkan mata. “Abang tahu Lu gak suka sama dia. Tapi jangan sampai ketidaksukaan Lu, membuat Lu bersikap tidak adil. Lu sudah menuduhnya tanpa bukti.”
Rasyid tersenyum mengejek. Dari awal memang Rasyid tidak suka melihat penampakan Son. Dalam benak Rasyid Son itu sok cool dan tidak natural. Bahkan terkesan memiliki kepribadian ganjil. Son juga sering menatapnya tidak enak saat dirinya berada di ruangan Ammar. Dan itu membuat Rasyid kurang suka. Pernah suatu kali ia menyampaikan ini pada Ammar, namun abang sepupunya itu tak menggubris. Ammar terlanjut mempercayai Son. Bahkan menjadikannya sebagai manajer segala urusan. Di depan Rasyid, Ammar memuji loyalitas Son. Sementara Rasyid hanya bisa mencibir.
__ADS_1
“Terserah Abanglah. Nanti kita buktikan..”
“Bukankah dalam hukum itu kita mengenal asas praduga tak bersalah. Sudahlah, gue gak mau berdebat soal ini. Yang penting gimana kirana segera ditemukan.”
“Justru itu Bang. Kita harus kembangkan kasus ini. Tidak mungkin yang melakukan orang jauh. Pasti di lingkaran terdekat.”
Ammar manggut-manggut. Ia lelah harus beradu argument dengan sepupunya. Lagian ini bukan saat yang tepat. Kirana jauh lebih penting bagi Ammar daripada bahas Son.
“Motifnya bisa asmara atau bisnis. Tapi menurut gue kecil kemungkinan kalau bisnis. Jika mau menghancurkan bisnis abang, tuh orang akan membakar pabrik secara bar-bar. Sedangkan ini hanya gudang yang tidak terpakai. Jadi, ini hanya untuk menskenario supaya Abang keluar dan bisa membawa lari kirana. Sangat gamblang dan mudah terbaca,” jelas Rasyid panjang lebar.
“Son ada bersamaku di pabrik. Mana mungkin dia yang menculik kirana,” ucap Ammar tanpa maksud membela.
“Yeelaa Bang. Itu mah gampang. Memang disetting begitu. Artinya ia tidak sendirian. Biar Abang gak curiga.”
Tiba-tiba Ammar ingat saat mengajak Son ke rumah Pak Faisol saat itu. Ia bisa melihat tatapan Son ke Kirana. Dirinya sangat cemburu waktu itu.
‘Apa mungkin Son melakukan ini? Awas! Aku akan menghajarnya sampai babak belur.’
Rasyid mengernyitkan dahi. “Bisa jadi dia tidak menghendaki pernikahan Abang.”
Ammar meradang mendengar ucapan Rasyid. Mungkin ada benarnya. Son juga menginginkan kirana.
“Serahkan sama gue. Sudah gak sabar, gue pengen nendang makhluk itu.”
Rasyid mengucapkan itu dengan mantap di telinga Ammar.
Sebenarnya Ammar tidak terlalu yakin Son berani melakukan ini. Son sudah dikenalnya bertahun-tahun. Loyalis. Dari awal berdirinya bisnis yang ia rintis, Son telah banyak berkontribusi hingga besar seperti sekarang. Tapi ia mencoba mendengarkan kata-kata Rasyid. Sepupunya ini memang sangat tidak menyukai Son. Dalam benak Ammar hanya ada kirana, dan bagaimana bisa menemukannya dengan cepat.
Setelah itu Rasyid mengajak Ammar untuk mengecek cctv di resepsionis. Ammar mengikuti saran adik sepupunya. Mereka harus bertindak cepat. Ammar takut terjadi apa-apa dengan kirana. Kalau seandainya kecurigaan Rasyid benar, Son yang melakukan semua ini. Ia tak sanggup membayangkan…Ah tidak!
❤❤
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan tinggalkan krisan. Biar semangat ngetiknya.