
Arsen mengajakku ke tempatnya bekerja di sebuah kafe yang menjadi tempat kami pertama bertemu, menurutku. Walaupun menurut Arsen kami bertemu sejak lama, tapi yang aku ingat hanya saat kami bertemu di kafe itu.
Sesampainya di kafe, pengunjungnya lumayan ramai karena kebetulan kami tiba saat jam makan siang. Aku menunggu Arsen yang menemui manajer kafe, sambil menikmati strawberry milkshake. Seorang wanita tiba-tiba menyenggol lenganku hingga minuman rasa stroberi itu tumpah mengenai kemejaku.
“Maaf, maaf ya, saya tidak sengaja,” ucap wanita itu sambil mencoba membersihkan kemejaku denga tisu.
“Ah, tidak perlu Nyonya, biar saya sendiri.” Aku memandang wanita itu, lalu membersihkan kembali kemejaku.
Rasanya ingin marah, tapi wanita ini usianya jauh di atasku, mungkin seusia dengan Papa. Ah, sudahlah sebentar lagi aku juga akan pulang.
Aku memandang wanita itu yang terus menatapku, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis.
“Tidak apa-apa Nyonya, sebentar lagi saya juga pulang kok.” Aku merasa aneh melihatnya yang seolah tengah bersedih. Apa karena dia merasa bersalah telah menumpahkan minumanku? Kenapa sedramatis itu?
“Maaf, maafkan saya.” Wanita itu dengan cepat menghapus air matanya yang telah terjatuh.
“Ada apa, Ma?” tanya seorang laki-laki dengan setelan jas hitam yang tiba-tiba menghampiri kami.
“Mama nggak sengaja menumpahkan minuman pelanggan kita, Pa,” kata wanita itu.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, kami akan memberikan ganti rugi Nona,” ucap laki-laki itu.
“Tidak perlu Tuan, ini hanya masalah sepele kok.” Aku bangkit dari kursi karena tidak ingin memperkeruh suasana.
“Makanya, tunggu di mobil saja, papa cuma sebentar kok.” Laki-laki yang sepertinya suami wanita itu terlihat marah.
“Maaf Pa, mama kan cuma pengen lihat-lihat kafe kita.”
Aku tidak ingin mendengarkan perdebatan mereka, lalu pamit pergi. Kebetulan aku yang membawa kunci mobil, lebih baik aku menunggu Arsen di mobil, ‘kan?
__ADS_1
Setelah menunggu di mobil hampir sepuluh menit, akhirnya Arsen keluar juga dari kafe. Aku membuka kaca jendela mobil saat melihat Arsen.
“Kenapa keluar duluan?” tanya Arsen.
“Udah pulang aja yuk, bajuku kotor soalnya,” jawabku.
Arsen kemudian segera masuk ke mobil, suamiku itu langsung memeriksa kemejaku yang basah karena tumpahan minuman tadi.
“Kok bisa begini? Kenapa?” Arsen terlihat begitu khawatir.
“Ada orang yang nggak sengaja nyenggol aku tadi, sampai minumanku tumpah. Anehnya dia kayak mau nangis gitu.” Aku jadi terbayang-bayang raut wajah sedih wanita tadi.
“Kamu nggak kenapa-kenapa, ‘kan?” tanya Arsen.
“Nggak, Arsen. Udah yuk pulang, lengket nih.” Aku mulai merasa risih dengan rasa lengket yang mengenai sebagian kulit perutku.
Arsen mulai menjalankan mesin mobil, tapi tiba-tiba dia menatapku aneh.
“Kenapa?” Aku mengerutkan dahi karena bingung apa yang akan dikatakan Arsen.
“Nggak enak denger kamu panggil nama aja.”
“Terus aku harus panggil apa? Kakak?”
“Ya jangan nanti pas kamu manggil Kak Darren aku yang noleh.”
“Terus apa?”
Arsen nampak berpikir, entah kenapa tiba-tiba laki-laki ini tidak terima aku panggil hanya dengan nama saja. Ya, memang aneh sih, Arsen lebih tua dariku, tapi aku memanggilnya hanya dengan nama, tanpa panggilan khusus, sangat aneh!
__ADS_1
“Mas?”
Aku merasa geli dengan panggilan yang menurutku lebih aneh, Mas Arsen? Mas Arsen? Aneh sekali memanggilnya dengan Mas, dia sangat tidak cocok dipanggil Mas. Wajahnya bukan seperti suku jawa yang biasa disapa Mas. Arsen memiliki wajah yang putih dan ganteng, matanya yang dalam, lebih mirip orang Jepang, ah tidak dia mirip artis Korea.
“Oppa.” Aku tiba-tiba teringat panggilan yang selalu Oma ajarkan untukku. Panggilan yang selalu ada di drama korea kesukaanku.
“Opa? Memangnya aku sudah setua Oma.” Arsen terlihat kecewa.
Raut wajah Arsen membuatku semakin tertawa geli.
“Oppa itu kalau orang korea manggil pacarnya atau cowok yang lebih tua lah,” jawabku.
“Memangnya aku orang korea?”
“Wajah kamu memang mirip orang korea Oppa, udah ah aku manggilnya Oppa aja.” Aku memandang Arsen dengan menempelkan kedua telapak tangan di pipiku, sambil berkedip-kedip. Aku berusaha supaya terlihat imut di matanya.
Berhasil! Arsen tersenyum dengan tingkahku yang pasti sangat menggemaskan ini.
“Ya udah terserah kamu deh, yang penting kamu bahagia.” Arsen mengacak rambutku.
Arsen, maksudku Oppa, semoga kita tetap bahagia seperti ini ya. Aku mungkin belum pernah mengatakannya secara langsung, tapi I love you Oppa.
🌹🌹🌹
Aku juga kok Kim Saranghae Oppa Arsen.
Hai Gengs, Aku udah kasih 2 bab langsung loh. Kalian nggak masih nggak mau kasih hadiah sama vote ke aku 🤭🤭🤭
Ritual Jejaknya juga jangan lupa, Like, Komen,hadiah, Vote seperti biasa.
__ADS_1
See You Again 👋👋👋