
Makan di pinggir jalan sensasinya memang berbeda dengan makan di restoran. Tiupan angin sepoi, juga suara bising kendaraan membuat sensasi lebih dekat dengan alam dan dunia nyata. Tidak ada tembok pembatas yang berhias lukisan dan ornamen-ornamen ala kafe dan restoran, yang ada hanya tenda biru dan juga tikar yang terhampar di tepi jalan.
"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum begitu?" tanya Arsen yang menyodorkan es jeruk padaku.
Apa iya aku senyum-senyum dari tadi?
"Kamu seneng banget ya udah bisa berharap anak dari aku? Nanti malam kita uji coba," kata Arsen sambil tertawa, memamerkan giginya yang putih dan rapi.
"Itukan maunya kamu, lagian mana bisa uji coba sekarang, kan baru aja dilepas," sahutku sambil menyesap es jeruk.
"Bisa aja Sayang, pokoknya kita akan terus usaha tiap malam." Arsen mengepalkan tangan kanannya di udara, yang artinya dia sedang bersemangat.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Arsen menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Sedangkan aku berusaha mengikat rambut, tapi rasa nyeri di lengan kiriku membuatku kesusahan dan akhirnya mengurungkan niat untuk mengikat rambut.
"Kamu kenapa?" tanya Arsen setelah selesai menggulung lengan kemejanya.
"Aku mau ikat rambut tapi susah, Oppa. Tanganku rasanya sakit," jawabku.
Arsen langsung berdiri dan mendekatiku, lalu ia mengambil tali dari tanganku dan mulai mengikatnya. Salah satu hal yang membuatku jatuh cinta pada Arsen, ia begitu perhatian dan sigap setiap saat.
"Udah selesai, kamu bisa makan sendiri, atau mau aku suapin?"
"Nggak usah, Oppa. Aku bisa makan sendiri kok."
Akhirnya, aku makan dengan tanganku sendiri, tapi Arsen tetap saja repot menyuwirkan ayam goreng di atas nasi, supaya aku bisa mudah mengambilnya.
__ADS_1
***
Sampai di rumah, suasananya sudah ramai, Kak Darren sudah diperbolehkan pulang, karena ia sudah tidak betah berada di rumah sakit, dan dokter juga mengijinkannya pulang.
Nana sudah bersiap akan pulang, tapi Kak Darren dengan manja meminta Nana untuk menginap, dan itu membuatku semakin senang meledeknya.
"Makanya nikah, biar bisa bobok bareng," kataku sambil bermanja-manja di lengan kiri Arsen.
Iya bentar lagi, ya kan Sayang," balas Kak Darren yang mengusap rambut Nana. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum menanggapi omongan Kak Darren. Sepertinya Nana memang belum mau menikah.
"Kalian tau nggak, Arsen hari ini mendapat tujuh puluh persen suara, padahal papa nggak sebutin dia menantu papa," kata Papa dengan bangganya.
"Selamat ya Arsen, kamu memang pekerja keras," puji Mama yang duduk di samping Papa.
"Oh iya, Pa. Kimmy sama Arsen kan belum mengadakan resepsi, dan nggak banyak yang tahu kalau mereka sudah menikah kan? Apa nggak sebaiknya kita adakan resepsi untuk mereka?" usul Kak Darren yang seketika membuatku tercengang.
Kami memang sudah menikah sah secara hukum dan agama, tapi memang tidak banyak yang tahu soal pernikahan kami. Bahkan teman-temanku di kampus tidak ada yang tahu.
"Oma juga setuju. Oma juga mau lihat Kimmy, cucu perempuan oma satu-satunya berdandan cantik dengan gaun pengantin, pas akad nikah kan oma nggak ada," kata Oma.
"Benar, Oma. Aku kakaknya aja juga nggak tau."
"Kimmy udah cantik dari dulu, Oma, tapi pas akad nikah dulu, emang dia kelihatan cantik sempurna." Arsen menatapku dengan pandangan mesrah. Mata indah itu selalu menatapku penuh cinta.
"Papa setuju, tinggal kita atur waktunya saja, kalian gimana? Setuju nggak?" tanya Papa.
__ADS_1
Aku dan Arsen masih saling bertatapan, mata kami saling memandang, lalu aku melihat Arsen menganggukkan kepalanya. Apakah ini artinya kami akan menjadi pengantin lagi?
***
Kami sudah berada di kamar saat ini, karena waktu sudah malam dan kami belum bersih-bersih, akhirnya kami tadi pamit ke kamar lebih dulu.
Saat ini aku sedang berada di kamar mandi, bersama Arsen. Ya, kami berdua akan mandi bersama karena aku pasti butuh bantuannya untuk mandi. Tanganku terasa sakit, dan Arsen juga tidak tega membiarkanku mandi sendiri.
Arsen membantu melepaskan kancing kemejaku, lalu melepaskan ritsleting celana kain yang kupakai dan menyimpannya di keranjang baju kotor.
"Kamu tau nggak, Sayang. Aku selalu deg degan setiap kali melihat tubuhmu tanpa kain," kata Arsen yang kemudian melepaskan kait bra yang kupakai.
"Kamu selalu mesum, Oppa. Kamu kan mau bantuin aku mandi, jangan macem-macem deh," ucapku sambil menutup kedua bukit kembarku dengan tangan kanan.
Yang namanya Arsen kalau mesumnya sudah kambuh ya sulit dikasih tau. Dia malah menciumku dan mendorong tubuhku untuk mundur sampai ke tembok, setelahnya ia melahap bukit kananku, dan mere*mas bukit sebelah kiri.
πΉπΉπΉ
Aku stop deh, takut dibaca bocil.
Kalau mau lanjut, banyakin dulu vote sama hadiahnya π€π€
Like sama komennya jangan ketinggalan.
Sampai ketemu lagi πππ
__ADS_1