Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 87


__ADS_3

“Maafkan Kimmy juga, Pa. Kimmy selalu melawan perintah Papa.” Aku mengatakannya dengan tulus dari hatiku yang terdalam.


“Nggak, Sayang. Kamu putri kebanggan papa, makanya papa mau kamu mendapat laki-laki yang tepat, laki-laki yang benar-benar mencintaimu seperti Arsen,” kata Papa yang masih memelukku.


“Papa.” Aku semakin mengeratkan pelukanku di tubuh Papa. Air mata ini tak lagi dapat terbendung, mengalir deras membasahi wajahku dan berakhir di kemeja abu-abu yang Papa pakai.


Aku merasakan tangan Papa juga semakin erat memeluk tubuhku. Ini adalah pelukan pertama kami setelah aku beranjak remaja. Papa memang selalu seenaknya, tapi Papa juga selalu mengawasiku, dan itu adalah wujud kasih sayangnya padaku.


Papa, sekarang aku sadar, semua yang Papa lakukan juga demi kebaikanku. Papa yang membesarkanku seorang diri. Papa yang dulu tidak pernah tidur saat aku sakit. Papa yang diam-diam mengikutiku saat aku pertama kali berkencan.


“Papa senang sekarang kamu bisa menerima Arsen, dan Papa harap kamu bisa bahagia terus Kimmora, putri kesayangan papa.” Papa mengecup keningku lumayan lama, membuatku memejamkan mata, dan akhirnya tersadar saa Papa menghapus air mata di wajahku.


Papa pun mundur, dan kini giliran Mama yang yang memelukku. “Selamat ulang tahun putri mama. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Sayang. Mama sayang sekali sama kamu, Kimmora” Aku merasakan air mata Mama membasahi punggungku.


“Mama, jangan menangis, Kimmy juga sangat sayang sama Mama.” Aku mengusap punggung Mama. Walapun kami baru dekat, tapi bukankah ikatan batin itu begitu kuat? Sebesar apapun kesalahan mereka, mereka tataplah bagian dari hidup kita yang tidak akan mudah kita benci.


Mama, Kimmy tidak pernah menyesali kepergian Mama dulu, karena yang terpenting, Mama sekarang menyayangiku.


“Bahagialah selamanya, Sayang. Restu Mama akan selalu menyertaimu.” Mama mengecup keningku, sama seperti yang Papa lakukan tadi.


“Cucu Oma yang durhakim ini jelek sekali kalau lagi nangis,” ucap Mam yang membuatku langsung menghambur dalam pelukannya.


“Oma.” Aku mengerucutkan bibir.


“Selamat ulang tahun ya, cucu kesayangan oma. Walaupun kamu judes, tapi kamu cucu perempuan oma satu-satunya. Oma terpaksa harus menyayangimu,” kata Oma yang membuatku mengurai pelukan kami.


“Oma terpaksa sayang sama aku?” tanyaku dengan mengerutkan kedua alis. Kulihat Arsen dan Kak Darren tertawa.

__ADS_1


“Iya, terpaksa karena kamu cucu oma, sebenarnya dulu mau oma tukar waktu di rumah sakit sama yang lebih cantik, yang nggak judes kayak kamu,” ejek Oma semakin menjadi. Sikapnya yang seperti Nenek Sihir itu tidak berubah sama sekali.


“Oma benar-benar merusak suasana deh.” Aku menatap tajam pada Oma yang hanya memasang ekspresi biasa saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Kak Darren yang berdiri tidak jauh dariku langsung memelukku dari samping, sambil mengayunkan tubuhku. “Udah, Dek. Oma bicara gitu karena Oma sangat sayang sama kamu, dari semua cucunya, yang diperlakukan istimewa cuma kamu.”


“Kakak, Oma tuh nggak pernah sayang sama aku. Aku ingat waktu kita di Singapura, Oma pernah masukin aku ke kardus, kata Oma aku mau dititipin pesawat biar pulang ke rumah Papa.”


Semua orang tertawa hanya aku yang merasa tersakiti karena perlakuan Oma itu.


“Kamu dulu itu bandel sekali Kim. Untung aja kamu nikahnya sama Arsen, amit-amit deh kalau anakmu nanti kayak kamu,” terang Oma yang semakin membuatku kesal.


“Kakak, Oma tu nggak mau berhenti,” aduku pada Kak Darren.


Dari dulu Oma selalu begitu, cara menyayanginya berbeda dengan yang lain, hampir seperti Papa yang menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda juga.


“Udah biarin, kakak punya banyak hadiah buat kamu. Sebelum itu, selamat ulang tahun, ya. Jadilah Kimmy yang selalu bahagia, kakak tanpa kamu rasanya hilang sebagian semangat kakak,” ucap Kak Darren yang membuatku sedih juga.


Kini, giliran Arsen yang mendekatiku. “Selamat ulang tahun, Kimmora Callista Ardiansyah, istriku. Aku mungkin nggak bisa menjanjikan bahagia untukmu, tapi aku akan menahan air matamu agar tidak bisa keluar dari mata indahmu itu,” harapnya.


Aku memeluk erat tubuh yang tingginya lebih dari 180cm itu, dan laki-laki itu membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


“Terima kasih, Oppa. Sudah mau menerima segala kekuranganku. Aku masih banyak belajar untuk layak disebut istri.” Aku mendongak untuk menatap mata Arsen, sedangkan Arsen menundukkan kepalanya.


“Aku selalu mencintai semua yang ada di dirimu, Sayang.” Arsen semakin mendekatkan wajahnya oadaku, aku tahu dia ingin meciumku, membuatku memejamkan mata saat embusan napas Arsen menerpa kulit wajahku.


“Ehem.”

__ADS_1


Aku tersadar dan langsung melepaskan diri dari tubuh Arsen.


“Kalian lanjut nanti malam aja, sekarang kita makan-makan dulu,” ajak Kak Darren yang membuatku salah tingkah.


Aku dan Arsen saling pandang, lalu tersenyum, sebelum akhirnya berjalan menuju ruang makan.


***


Setelah makan, dan bersih-bersih, aku kembli bergabung dengan yang lain di ruang keluarga rumah Mama. Sudah ada beberapa kado yang menyambut kedatanganku.


“Ini apa?” tanyaku yang bingung dengan tumpukan kado yang entah sejak kapan ada di meja kaca itu.


“Ini kado, Oma kasih paling banyak. Mama kamu kasih satu, papa kasih satu, Darren kasih dua, Arse nggak ngasih, Oma kasih lima kado buat kamu.”


“Isinya apa Oma?”


“Nanti kamu buka sendiri,” jawab Oma. “Eh, tapi Arsen, kok kamu nggak kasih kado sih?” tanya Oma pada Arsen.


“Aku kasih kadonya nanti di kamar Oma.”


🌹🌹🌹


...Nah loh, jangan-jangan kadonya lolipop dengan dua kinderjoy. Aishh, Bang, modal dikit napa?🤭🤭🤭...


Hai Gengs, gimana nih kalau bab berikutnya aku kasih adegan yang enak-enak. Boleh ya?


Oh ya, aku mau ngucapin terima kasih untuk suport kalian selama ini. Makasih udah setia sampek saat ini. Semoga kalian tetep suka ya. Tanpa kalian, aku nggak akan semangat sampai seperti ini Gengs.

__ADS_1


Jangan lupa, ritual jejaknya seperti biasa.


Sampai ketemu lagi 🥰🥰🥰


__ADS_2