
Papa dan Arsen masih berdiskusi, sedangkan aku harus menidurkan Xavier yang mulai rewel. Sebenarnya aku masih sangat penasaran dengan pembahasan mereka mengenai pelaku yang sebenarnya, tapi saat ini Xavier lebih penting.
Tepat setelah Xavier tertidur, Arsen masuk kamar dengan mendorong sendiri kursi rodanya. Aku yang melihat Arsen kesulitan, akhirnya bangun dan membantu Arsen.
"Aku merepotkanmu ya," ucapnya setelah aku mengunci pintu kamar.
"Nggak, Sayang. Aku bahagia karena masih diberi kesempatan untuk merawat dan melayanimu." Aku mengecup pipi Arsen sekilas, lalu membantu mendorong kursi rodanya. Setelah itu aku membantunya naik ke ranjang.
"Besok aku akan mulai belajar jalan," tekadnya sambil mengulum senyum.
"Jangan dipaksa, kamu baru sembuh, Sayang. Kepala kamu masih suka pusing nggak?" Aku menyelimuti tubuhnya juga Xavier yang memang tidur bersama kami.
"Udah nggak terlalu sih. Kamu bisa duduk sini bentar nggak?" tanya Arsen sambil menepuk ujung ranjang di sebelah kanannya, sedangkan Xavier ada di sebelah kiri Arsen.
"Kamu mau apa? Kata dokter kamu harus istirahat total, Dad." Aku mengerutkan alis karena curiga dengan apa yang diinginkan Arsen kali ini.
"Sini dulu, kamu curigaan banget sih," ucap Arsen, lalu ia merentangkan kedua tangannya.
Aku mendekat lalu duduk di tepi ranjang di sampingnya, Arsen memeluk perutku dan menciumnya lagi dan lagi.
"Rasanya baru kemarin Xavier nendang-nendang di sini, bentar lagi ada yang nendang-nendang lagi," ucapnya sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke perutku.
"Habis ini udah ya, kita program tunda anak lagi. Perut aku belum juga balik kecil, udah mau besar lagi," keluhku yang membuat Arsen terkekeh.
"Ibarat balon, kalau selalu dipompa, pasti nggak ada waktu untuk kempes," ucap Arsen.
__ADS_1
"Makanya sekarang kita fokus membesarkan anak-anak, bikinnya libur dulu." Aku bangun dari ranjang dan berputar ke sisi satunya, tidur di sebelah kiri Xavier yang sudah terlelap.
"Kalau aku uah sembuh tetap proses lah, Sayang."
Aku mengabaikan kata-kata Arsen dan memilih tidur memeluk Xavier.
***
Xavier sudah rapi dan ganteng. Aroma bedak berpadu dengan minyak telon khas bayi membuatnya semakin menggemaskan.
Setelah seselai menyiapkan Xavier, Mama sudah mendatangi kamarku untuk mengambil alih Xavier. Beruntungnya aku karena Mama masih sehat dan bisa memantuku mengurusi Xavier, sedangkan aku sekarang mengurus Arsen. Sebenarnya ada seorang perawat laki-laki yang siap sedia membantu Arsen, tapi suamiku itu tidak mau mandi jika tidak denganku. Jadinya, aku sekarang memiliki dua bayi yang sama-sama minta dimandikan setiap hari.
Sekarang, Arsen sudah selesai mandi dan berganti baju. Walaupun sulit, tapi aku tidak ingin mengeluh di hadapan Arsen.
Aku dan Arsen keluar kamar, ternyata Kak Darren dan Nana sudah datang, sepagi ini.
Aku langsung duduk di samping Nana yang sedang memangku Xavier.
"Aku bawa berita bagus, tapi bisa disebut juga berita buruk sih," kata Kak Darren sambil mengeluarkan tablet pintar dari dalam tas kerjanya.
"Berita apa?" tanya Arsen yang kini merapat pada Kak Darren.
"Ren, Arsen masih ...."
"Pa, aku nggak apa-apa," potong Arsen yang kemudian megambil alih layar pintar itu dari tangan Kak Darren.
__ADS_1
"Aku berhasil melacak komunikasi Pak Gery, walaupun di ponselnya sudah berssih, tapi kebusukan tidak ada yang bisa ditutupi dengan sempurna," kata Kak Darren.
Alis mata Arsen berkerut, ia lalu memegangi kepalanya, dengan satu tangan masih menggenggam layar sepuluh inci itu.
"Ada apa?" Aku semakin penasaran karena Papa dan Kak Darren hanya diam, sedangkan Arsen terus menggelengkan kepala.
Karena tidak tahan lagi dan tidak ingin Arsen semakin sakit, aku pun mendekat padanya.
"Ada apa?" Aku berdiri dengan tumpuan kedua lutut, di hdapan Arsen.
"Om Doni ...."
Arsen memegang kepalanya lagi.
"Om Doni kenapa? Ada apa ini, Kak?" tanyaku pada Kak Darren.
"Bukti itu mengarah pada Om Doni sebagai orang yang telah membantu Pak Gery dalam kecelakaan itu," jawab Kak Darren.
Aku langsung memeluk Arsen, hubungan keduanya memang tidak terlalu akrab, tapi aku juga tidak menyangka jika benr Om Doni pelakunya.
"Kita akan cari bukti yang lebih kuat, kamu jangan berpikir terlalu keras, Dad."
♥️♥️♥️
Tenang tenang, othor juga agak pusing ini nyariin bukti, makanya kemarin nggak update 🤭🤭
__ADS_1
Kembang kopinya dong jangan lupa biar aku tetep semangat lanjut sampai bosen, 🤭🤭🤭