
Membayangkan Dera melahirkan caesar, ada rasa takut di hatiku. Ketakutan yang sama yang pernah menghinggapiku saat Yumna juga melahirkan secara caesar. Waktu itu, aku juga sedang mengandung Xavier, dan aku seperti mengulang rasa takutku kala itu.
Kehilangan yang Dera alami, aku benar-benar takut jika mengalaminya sendiri. Pasti sangat menyakitkan ketika buah hati yang dikandung selama ini, harus pergi untuk selamanya sebelum sempat melihat ibunya.
"Sayang, kita udah sampai." Arsen menyentuh tanganku, dan seketika itu aku sadar, kami sudah sampai di rumah Dera.
Arsen menggandeng Xavier yang tidak sabar memasuki rumah Dera yang sangat megah.
Setelah bertemu langsung dengan Dera, kami diizinkan melihat bayi-bayi perempuan mereka, masih kecil-kecil, bahkan bayi laki-lakinya masih dirawat di rumah sakit.
"Princess kita di perut Mommie pasti juga masih sekecil ini ya," kata Arsen yang menemaniku, sedangkan Xavier sudah heboh berlarian ingin melihat ikan di akuarium besar rumah Dera.
"Lebih kecil lagi, Dad," jawabku.
"Kamu rencananya mau cesar apa normal, Kim?" tanya Dera.
Kami kembali duduk di sofa setelah puas melihat keponakan kami.
__ADS_1
"Rencanaku sih normal aja, semoga pas lahiran nanti beneran bisa mormal," jawabku.
"Aamiin, semoga aja Kim. Sesar itu nggak enak Kim, aku kayak tersiksa banget. Udah haus banget, tapi belum boleh makan minum. Ke ruang bayi aja pakai kursi roda, itu pun perjuangannya luar biasa."
"Iya aku tahu, tapi apa pun itu, semua ibu itu luar biasa." Satu kecupan mendarat di kepalaku setelah aku mengatakan hal itu.
Aku tersenyum pada laki-laki yang selama ini menjadi penopangku, beruntungnya aku.
"Gimana Zayn rasanya lihat live kelahiran bayi kecil itu?" tanya Arsen yang masih duduk di sampingku tanpa berani memeluk, karena Xavier akan berlari menghampiri kami saat ia tahu Arsen memelukku.
"Apa yang kamu lakuin waktu lihat wajah istri kamu?" tanya Arsen lagi.
"Aku cuma bisa cium dia, nggak ngerti dia lelap banget tidurnya. Pokoknya, terima kasih istriku." Zayn memeluk dan mencium Dera di hadapan kami, tanpa sungkan seperti yang biasa Arsen lakukan padaku.
"Iya, bener kan yang aku bilang, coba kalau kita nggak temani mereka, pasti kita nggak akan tahu gimana perjuangan mereka." Kali ini Arsen berani memelukku, karena Xavier sudah pergi entah ke mana bersama Mbak Dian.
"Makanya, udah stop ya kita punya anaknya," bujukku, sambil mengusap wajah hingga rahang bawah Arsen.
__ADS_1
"Em, gimana ya. Kalau kita lakuin tiap hari, terus salah satunya berhasil menerobos pertahanannya, gimana lagi?" tanya Arsen. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu mencium kedua pipiku bergantian.
"Kita tunda aja ya Kak." Suara Dera membuyarkan kemesrahan kami.
"Iya, Queen. Aku juga nggak mau lihat kamu tersiksa lagi. Anak kita udah empat mau nambah berapa lagi," balas Zayn.
Aku dan Arsen saling melirik. Ia lalu menciumku sesaat, sebelum akhirnya suara teriakan Xavier mengganggu kami.
"No-no-no. Mommie No no no." Xavier berlarian menghampiri kami.
Xavier memang sedikit posesif, hampir sama seperti Arsen. Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dan itu terjadi juga pada Xavier kami.
β€β€β€
Litte Boss kita udah bobok nyenyak nih. Dedeknya Xavier bentar lagi launching beberapa hari lagi ya, tergantung mood ππππ
Jangan lupa jempolnya Sayang-sayangku πππ
__ADS_1