Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 37


__ADS_3

Arsen sedang mandi saat ini, dan aku menikmati sore ini di depan kamar kami yang menghadap laut. Embusan angin sore di pantai yang menerpa rambutku, aku sangat menyukai itu, makanya aku betah berlama-lama di tempat ini.


Sambil menikmati angin sore, aku mengunggah beberapa foto yang berhasil terabadikan di ponsel ke akun instagram milikku.


Tak berapa lama, Nana menelepon, pasti dia sedang iri sekarang.


"Hai, Markona, gangguin orang honeymoon aja," ucapku setelah mengusap layar hijau untuk menjawab panggilan video darinya.


"Eh Kikim, romantis banget sih foto kalian, aku jadi iri tau." Sahabatku itu sepertinya sedang berada di kamarnya.


"Kalau iri, kamu nikah dulu sama Kak Darren, nanti kamu susul ke sini, tempatnya asik banget loh, beda sama yang biasa kita nginep." Aku sengaja membuatnya semakin iri, karena aku tahu sebenarnya dia juga ingin segera menikah dengan Kak Darren.


"Ya beda lah, Kim. Kamu kan sama suami," sahut Nana sambil mengerucutkan bibir. Aku tahu saat ini dia pasti iri berat.


"Iya, aku aja nggak ke mana-mana Na, cuma di kamar sama sekitaran resort sini aja. Suamiku nggak mau jauh-jauh takut aku cape, padah dia bikin aku cape di kamar."


"Wah, kalian ngebut ya bikin ponakan aku."


Aku tertawa dengan ocehan sahabatku itu. Rasain kamu Na, pasti saat ini Nana sedang membayangkan apa yang aku lakukan di kamar bersama Arsen.


"Iya, tiap ada kesempatan selalu usaha," jawabku.


"Tapi malam ini pasti beda kan, lo mau pakai gaya apa ntar malam?" tanya Nana.


Reaksinya di luar dugaanku ternyata. Kenapa dia malah ingin tahu gaya apa yang kami lakukan?


"Kepo banget deh, ya sama aja mungkin sama kemarin-kemarin," jawabku.


"Lo, nggak kasih spesial di hari spesialnya suami lo."


"Spesial? Di hari spesial apa?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Jangan bilang lo lupa kalo besok laki lo ulang tahun."


Ulang tahun? Tanggal berapa sih besok?


"Astaga Na, gue lupa."


"Gimana sih lo, Kim."


"Gue belum siapin kado Na, gimana dong. Mana gue nggak ke mana-mana."


"Ya kalau itu gue nggak tau sih Kim."


"Lo nggak ngebantu banget sih Na, udahlah. Gue matiin dulu."


Aku terus berpikir, hadiah apa yang akan aku berikan untuk Arsen. Aku benar-benar lupa kalau besok ulang tahunnya. Kenapa juga harus besok, kenapa nggak besoknya lagi sih. Kalau seperti ini kan susah.


"Sayang, kamu lagi apa?" Arsen tiba-tiba sudah berdiri di pintu, membuatku semakin merasa bersalah karena melupakan hari ulang tahunnya.


"Eh, nggak kok. Nggak ngapa-ngapain," jawabku gugup.


*


*


*


Malam kedua bulan madu, kami menikmatinya dengan makan malam romantis di dekat pantai, ditemani cahaya lilin yang sudah disiapkan oleh pihak resort.


Selama kami ada di sini, tidak ada yang tahu kalau Arsen adalah anak Pak Raffi, sehingga kami diperlakukan layaknya tamu biasa.


Setelah makan malam yang romantis itu, kami berdua kembali ke kamar, karena tiba-tiba Papa meminta Arsen untuk mengecek pekerjaan yang dikirimkan ke emailnya. Papa berhasil mengganggu acara bulan madu kami.

__ADS_1


"Kenapa juga sih kamu mau mau aja disuruh Papa. Kita kan lagi liburan, masih aja diganggu sama kerjaan." Emosiku kembali meluap, Papa yang salah, tapi Arsen yang aku omeli habis-habisan.


"Udah, kamu tidur dulu aja ya, nanti aku nyusul," kata Arsen yang membuatku semakin kesal dan akhirnya, aku tidur dalam keadaan kesal.


Saat tengah malam aku kembali bangun, mungkin karena hasrat belum tersampaikan aku jadi tidur dengan tidak tenang. Arsen masih sibuk dengan layar laptopnya, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan pekerjaannya.


Aku memeluk Arsen dari belakang, membuatnya menoleh padaku lalu mengecup pipiku.


"Kamu pilih dia atau aku?" Aku menunjuk laptop Arsen dan juga dadaku, supaya Arsen membuat pilihan, antara aku dan pekerjaannya.


"Sayang, ini tinggal dikit lagi kok." Arsen mengabaikanku.


Aku tidak kehilangan akal, aku meninggalkannya, lalu mengambil baju sek*si di koper dan mengganti piyamaku dengan pakaian itu.


Setelah itu, aku kembali mendekati Arsen, tapi kali ini aku hanya diam dan duduk di meja tepat di samping laptopnya. Aku hanya diam menggulung-gulung rambutku dengan jari tangan, sambil berpura-pura memainkan ponsel.


"Sayang, kamu benar-benar membuatku gila." Arsen berdiri mencium bibirku, sedangkan aku mere*mas lolipopnya yang sudah mengeras di balik celananya.


Aku menang kan, Sayang? Dasar pekerjaan si*al*an! Aku tidak mungkin bisa dikalahkan dengan layar 14 inci itu.


♥️♥️♥️


...Mbak Kim, sadis amat, kasihan tuh Oppa Sen Sen jadi nggak konsen 😂😂😂...


Tadinya mau minggu depan, tapi banyak yang komen jadi ya langsung ketik deh.


Gantian sama Kak Zayn loh ini 🤭🤭


Yuk mampir juga ke Istri Big Boss. Ketemu Dera sama Kak Zayn yang mau honeymoon juga 😂😂


Dah lah, udah sore, mau mandi kembang dulu, terus ngopi.

__ADS_1


Biar dapat wangsit hasilnya positif apa negatif ya 😂😂


Sampai ketemu lagi,😘😘😘


__ADS_2