
Hujan deras mengguyur rumah sakit. Aku merasa takut dan sedih dengan apa yang dialami Yumna. Saat ini, Mama Nisa mengajakku untuk minum di kantin, sambil menunggu operasi Yumna selesai.
"Kamu tidak usah cemas, Sayang. Apa yang dialami Yumna belum tentu kamu alami juga." Mama menggenggam tanganku. Mama memang sangat baik. Mama sudah merubah pandangan buruk ku tentang sosok ibu tiri yang kejam. Bahkan, saat Mama dan Papa berpisah dulu, aku sangat takut Papa menikah lagi.
"Hamil itu suatu keistimewaan. Wanita yang hamil itu pilihan, Tuhan pasti menjaga dan melindungi cucu mama ini. Dia sehat, 'kan?" Mama mengusap perutku, lalu tersenyum. "Tuh, dia aktif gini."
"Kata dokter semuanya bagus, Ma. Aku dan Kak Arsen juga sudah melihatnya di USG, tapi Yumna ...." Aku tidak sanggup melanjutkan kata-kataku.
"Kimmora, kalau kamu cemas, dia juga akan cemas, kamu tahu, 'kan?" Mama masih mengusap perutku.
"Iya Ma, aku tau."
Lalu, Mama memelukku. Benar apa yang dikatakan Mama. Jika aku cemas, bayiku juga merasakannya.
Arsen kembali meneleponku. Mau tidak mau, aku melepas pelukan Mama Nisa.
"Ya. Halo."
"Sayang, gimana?"
"Aku dan Mama masih di kantin, Dad."
"Dion sudah di bandara, kamu nggak apa-apa, 'kan?"
"Nggak apa-apa kok, Dad. Aku cuma cemas tadi."
"Kamu pulang aja Sayang, tunggu kabar dari Mama aja."
"Aku tunggu sampai Yumna selesai operasi, Dad. Aku nggak mau kepikiran, kasihan Yumna."
"Ya udah, tapi kamu jangan cemas, jangan khawatir ya. Yumna pasti baik-baik saja."
"Iya, Dad. Aku balik ke sana dulu ya."
__ADS_1
*
*
*
Saat aku kembali, operasi Yumna sudah selesai. Kata mamanya Yumna, operasinya berhasil, dan Yumna dipindahkan ke ruang perawatan khusus.
Saat ini bayinya sedang dibawa suster untuk dilakukan perawatan. Sedangkan Yumna sedang istirahat di ruangannya.
"Syukurlah, rahimnya tidak jadi diangkat, karena dokter ternyata mempunyai opsi lain saat operasi berlangsung. Ini suatu mukjizat untuk Yumna. Sekarang, dokter sedang memantau kondisinya, semoga tidak ada pendarahan."
Mendengar penuturan mama Yumna, aku merasa sangat lega. Biar bagaimanapun, rahim sangatlah penting untuk seorang wanita. Apalagi Yumna masih sangat muda.
"Semoga Yumna sehat dan cepat pulih. Keadaan bayinya bagaimana?" tanya Mama Nisa.
"Bayinya perempuan, sehat dan beratnya normal." Mama Yumna tersenyum saat menceritakan cucunya.
"Kim, kamu pulang saja ya! Mama antar kamu pulang."
"Nggak usah, Ma. Ada sopirnya Papa yang nunggu aku kok."
"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat! Jaga kesehatan kamu!" kata Mama.
"Iya, Ma. Kalau gitu aku pulang dulu, besok aku akan jenguk Kak Yumna."
Setelah berpamitan, aku segera pulang. Yang penting keadaan Yumna dan bayinya baik-baik saja.
*
*
*
__ADS_1
Sampai di rumah, Mama dan Papa masih belum pulang. Hanya ada Oma dan Kak Darren di rumah.
"Kamu dari mana, Dek?" tanya Kak Darren yang menemani Oma smabil berkutat dengan laptopnya.
"Dari rumah sakit," jawabku lalu duduk di sofa panjang dengan kaki yang ikut naik ke sofa.
"Apanya yang sakit?" Kak Darren langsung mendekat. Oma juga menatapku dengan pandangan khawatir.
"Bukan aku, Kak. Yumna istrinya Dion melahirkan."
"Oh, kirain kamu yang sakit." Kak Darren kembali duduk dan menatap laptopnya lagi.
"Kasihan, rahimnya hampir saja diangkat."
"Kok bisa?" Kali ini Oma bersuara.
"Ada kelainan plasenta Oma, tapi untungnya nggak jadi diangkat," jawabku.
"Dokter itu bukan Tuhan, kadang bisa salah diagnosa. Sama kayak hasil USG. Oh iya, USG cicit Oma cowok apa cewek?"
"Rahasia."
♥️♥️♥️
...Cowok apa cewek yang penting sehat. Semoga mirip Arsen sih, kalau mirip Kimmy bisa-bisa mulutnya pedes kayak cabe. Inget kan bab-bab awal sebelum bucin sama Arsen?...
Selamat sore gaes.
Hujan jadi aku terhalang sinyal buat cari referensi soal kehamilan Yumna.
Jangan lupa ritualnya.
Sampai ketemu lagi 😘😘
__ADS_1