Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 41


__ADS_3

Melihat ekspresi Arsen yang hanya tersenyum, aku mengerutkan alis dan berbisik padanya, "Ada apa sih?"


"Maaf," jawabnya lirih, lalu kembali menghadap Kak Dareen.


Aku merasa malu saat menyadari maksud  kata maaf yang diucapkan Arsen. Lalu, aku berusaha menutupi leher dengan rambutku.


Masih bersembunyi di belakang punggungnya, aku menyikut pelan pinggang Arsen yang asyik mengobrol dengan Kak Dareen.


“Ambilin martabaknya, tanganku nggak nyampek,” bisikku tepat di telinga Arsen, membuat laki-laki itu menoleh seketika.


“Kenapa nggak ambil sendiri sih?” tanya Arsen yang tidak peka dengan keadaanku.


“Aku nggak pake bra, malu kalau ketahuan Kak Dareen.” Aku berbisik sambil melotot pada Arsen.


Arsen hanya berkedip-kedip memandangku, sepertinya dia baru sadar jika tadi dia hanya memakaikan piyama dan melupakan kain penutup si kembar.


“Kalian dari tadi kenapa bisik-bisik, sih?” tanya Kak Dareen yang menatap kami curiga. “Kamu juga Dek, nggak suka kakak dateng? Apa kakak ganggu kalian?” tanya Kak Dareen yang sepertinya mulai tak nyaman.


“Nggak Kak, nggak ganggu kok, aku cuma … cuma … cuma apa ya?” Aku jadi bingung akan memberi alasan apa.


“Cuma lagi pengen manja sama aku, Kak,” sahut Arsen.


“Oh, pantesan."


Arsen kemudian memberikan sekotak martabak manis padaku yang ia ambilkan dari meja. Ini adalah martabak manis kesukaanku yang menjadi langgananku dan Kak Dareen semenjak dulu.


Saat aku sibuk menghabiskan martabakku, Arsen dan Kak Dareen lebih asyik membicarakan bisnis, perusahaan dan saham. Jika dipikir-pikir mereka berdua memang sangat cocok menjadi partner. Yang satu gila kerja, yang satunya otaknya suka bekerja.


Mendengar obrolan yang hanya sedikit saja kupahami, walau aku mengambil jurusan manajemen bisnis juga, aku mulai menguap. Mataku begitu lengket sampai rasanya aku tak akan sanggup berjalan ke kamar. Bersandar di punggung Arsen sambil terus mengunyah, aku merasa tubuhku semakin lemas, pikiranku mulai terbang bebas memasuki alam bawah sadar, masih sedikit sadar sih.


Aku masih bisa merasakan saat kepalaku terjatuh pada sesuatu yang kuyakini adalah paha Arsen, tetapi mataku sungguh tidak sanggup untuk tetap terjaga. Hingga tiba-tiba aku merasa tangan Arsen menarikku menghadap perutnya, lalu ia mengusap-usap kepalaku. Apakah ini mimpi atau nyata aku tak peduli itu, meski sayup-sayup suara obrolan Arsen dan Kak Dareen masih bisa kudengar, tapi tidak begitu jelas, malah seperti nyanyian yang mengantarku memasuki alam mimpi.


...❤❤❤M.A.S🚗🚗🚗...


Mataku mulai mengerjap mengumpulkan segenap kesadaranku, saat aku merasa sesuatu menelusup ke dalam piyama dan menyentuh dadaku. Tangan nakal itu bergerak memainkan puncak bukit yang membuatku merinding.


Sang pemilik tangan nakal itu mengembuskan napas hangatnya di leherku sedangkan tangannya terus bermain di bukitku.


Setelah sadar sepenuhnya, aku menoleh pada pelaku kejahatan yang secara diam-diam memainkanku seenaknya.


“Arsen, kamu ngapain sih?” tanyaku setelah melihat pelaku kejahatan itu hanya memejamkan mata. Entah benar-benar tertidur, atau pura-pura tidur.


“Hmmm” jawabnya singkat, masih dengan mata terpejam, tapi tangan nakalnya bergerak menggenggam bukitku.


“Bangun, nggak! Ini udah pagi ya? Kok aku bisa tidur di kamar?” tanyaku. Seingatku semalam aku ada di ruang tamu bersama Arsen dan Kak Dareen.


“Menurutmu? Kamu jalan sendiri ke kamar, atau aku yang gendong?” Arsen mulai membuka matanya.

__ADS_1


“Kak Dareen yang gendong," tebakku karena tak mungkin Arsen yang sedang sakit bisa kuat menggendongku ke kamar.


“Yang gendong aku Kim, kakakmu mana mau gendong kamu di depan suaminya.”


“Seriusan? Kamu kuat gendong aku. Emang badan kamu nggak sakit-sakit setelah dihajar Dion?” tanyaku yang kini berbalik menghadapnya.


“Iya ya, kok kuat ya, apa kita buktikan aja sekarang," kata Arsen.


“Buktikan apa?” tanyaku mulai curiga.


Arsen langsung mencium bibirku. Namun, aku mendorong tubuhnya.


“Jorok tau, kita belum gosok gigi," kataku sedikit kesal.


“Nggak papa lebih alami lebih enak,” kata Arsen lalu kembali menciumku.


Tangan Arsen mulai bergerak melepaskan semua kancing piyamaku, lalu dengan rakus melahap gundukan milikku sambil menggigit-gigit ujungnya.


Arsen melepas kausnya, lalu kembali menciumi leherku. Dia menarik tanganku untuk melepaskan celana kolornya. Tanpa sengaja aku menyentuh sesuatu yang mengeras di balik celana Arsen. Aku tahu adik kecilnya telah terbangun.


Dengan sedikit gemetar, aku berusaha menarik pelan celana Arsen, karena Arsen terus menuntun tanganku, sedangkan bibirnya terus menciumic leherku. Tiba-tiba, aku merasa nyeri yang teramat menyakitkan di bagian  perut bawahku. Rasanya, ini seperti sakit saat akan menstruasi.


Aku berusaha tenang, karena Arsen sudah begitu mendambakan kegiatan ini, tapi nyeri itu semakin terasa menyakitkan,sampai akhirnya aku menjauhkan tanganku dari celana Arsen. Keringat dingin mulai keluar di pelipis dan dahiku, juga jantungku memompa semakin cepat. Tidak, ini sangat menyakitkan.


"Kamu kenapa?" tanya Arsen yang mungkin bingung melihat ekspresiku. "Jangan takut, meski aku juga belum pernah melakukannya, tapi kita akan bermain dengan pelan." Arsen mengusap keringatku.


"Hmm, jangan takut, ada aku."


"Aku mau datang bulan kayaknya."


Tepat setelah aku mengatakan itu, Arsen menjatuhkan tubuhnya diatasku.


"Sakit Arsen, kamu berat. Perutku makin sakit."


Arsen segera bangkit dari tubuhku, juga dari ranjang kamar ini. Menyahut kausnya lalu meninggalkanku tanpa berkata apa-apa.


Dengan langkah gontai sambil menahan sakit, aku berjalan menuju kamar mandi, untuk memastikannya sekalian mandi, dan berangkat ke kampus.


Setelah keluar dari kamar mandi, dengan memakai pakaian lengkap pastinya, aku melihat Arsen sedang memasak di dapur. Dengan sedikit rasa bersalah, aku menghampiri suamiku itu.


"Arsen, kamu masak apa?" tanyaku saat menghampirinya.


Kulihat ada potongan brokoli dan wortel yang sedang ia masak.


"Tumis brokoli, katanya bisa ngurangin nyeri haid. Aku udah buatin jahe anget juga tu di meja." Arsen masih sibuk menumis sayuran itu.


"Maaf ya." Aku merasa bersalah karena insiden bangun tidur itu.

__ADS_1


"Nggak papa sayang, bukan salah kamu kok, lagian minggu depan masih ada kesempatan, 'kan?" Arsen mengelus rambutku, lalu mencium keningku.


Aku mengangguk setuju sambil tersenyum malu.


***


Saat ini, aku telah tiba di kampus menunggu dosen yang akan mengajar hari ini. Aku dan Nana tengah menggosip saat seorang mahasiswa yang tampak asing memasuki kelas kami. Wajahnya yang tampan menjadi pusat perhatian.


Laki-laki itu memilih duduk di samping kananku. Gayanya yang cool memang sangat sesuai dengan wajahnya yang ganteng.


"Kim, itu yang kemarin gue bilang cogan baru, si Kenneth," bisik Nana yang membuatku lebih memperhatikan lagi cowok di sebelahku.


"Dia duduk di sebelah gue pasti karena pengen kenalan sama gue," jawabku.


Laki-laki itu menoleh dan memandangku. Benarkan, dia pasti terpesona dengan penampilanku. Aku membalas tatapannya dengan senyuman termanisku.


Sialnya, saat dia ingin bicara denganku, dosen yang ditunggu-tungu masuk ke kelas kami. Membuat rencana perkenalan ini gagal.


Saat kelas usai, Nana terus memaksaku untuk mendekati laki-laki itu, dia bilang aku harus cepat lupain Dion, dan juga Arsen, karena Arsen sudah bersama Yumna katanya.


"Buruan Kim!" Nana mendorong tubuhku, sampai aku menabarak laki-laki itu.


"Hai, sorry ya. Gue Kimmy." Aku mengulurkan tangan pada laki-laki itu.


Namun, laki-laki itu hanya melihatku sekilas lalu berlalu meninggalkanku begitu saja.


"Gara-gara ada lo tu, dia kabur," ucapku sebal pada Nana.


"Kim, siapa dia?" tanya Arsen yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku.


"Arsen, aku nggak …."


"Ikut aku."


🌹🌹🌹


Hayo Bang, jangan sampe ditikung lagi 😂😂😂


Kasian amat nggak berhasil-berhasil 😂😂😂


Hai, gengs, gimana? kepo sama Kenneth nggak?? nanti ada surprise buat kalian.. selow si Kimmy kan emang pede maksimal 😂😂


Maaf belum bisa doble up, karena masih sakit 🤧🤧


Okey, jangan lupa ritual jejaknya, Like, Komen, Hadiah dan Vote.


Kasih kembang buat Non Kimmy, atau kasih kopi buat Babang Arsen biar sabar nunggu seminggu lagi 😂😂

__ADS_1


See You again sayang-sayangnya Kimmy-Arsen 🥰🥰


__ADS_2