Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 87


__ADS_3

Aku dan Arsen mengunjungi rumah Papa bersama Xavier juga pastinya. Oma sedang berkunjung ke Singapura, sehingga tidak ikut merayakan ulang tahun Mama dan Tante Sabila tentunya. Mama dan Tante Sabila merayakan di kafe yang sekarang aku dan Arsen kelola.


Anak Tante Sabila usianya di bawahku, tapi dia sudah membantu papanya di perusahaan. Sedangkan Mama memiliki dua anak, aku dan Kak Darren, dan Xavier adalah cucu satu-satunya bagi mereka.


"Seneng ya, kita bisa kumpul-kumpul gini," kata Mama yang kini memangku Xavier. Boneka sapinya tetap dibawa, untung saja kemarin sempat dicuci dulu.


"Iya, semoga tahun-tahun berikutnya lebih rame sama cucu-cucu ya," sahut Tante Sabila yang membuat Papa dan Om ikut tertawa.


"Danis, kamu udah punya pacar?" tanyaku, pada sepupuku itu.


"Belum, Kak. Masih sibuk kerja," jawabnya. Danis itu orangnya manis, memiliki lesung pipi di sebelah kiri.


*


*


*


Sepulang dari kafe, aku dan Arsen menginap di rumah Mama. Sedari tadi, Xavier sudah diperebutkan Mama dan Nana. Ya, setelah menikah dengan Kak Darren, mereka memilih tinggal di rumah Papa.


Melihat Xavier yang tenang bersama pasangan menantu dan mertua itu, aku dan Arsen memutuskan untuk ke kamar. Sudah lama kami tidak berduaan saja, tanpa Xavier yang memang tidak pernah berpisah dariku.


"Aku kangen," kata Arsen setelah menutup pintu kamar yang pernah kami tempati, lebih tepatnya kamarku saat gadis.


"Xavier gimana?" tanyaku yang memang sedikit cemas.


"Udah, kita main bentar aja. Xavier udah banyak yang jagain, kasihan lolipop kamu nih." Arsen menuntunku untuk menyentuh lolipopnya yang entah sejak kapan mulai bangun.

__ADS_1


"Emang kamu bisa main bentar?" Aku mengalungkan tanganku di leher Arsen.


"Bisa kok, aku usahain cepet," balasnya yang kemudian membawaku ke ranjang.


Meski jarang ditempati, sepertinya kamarku selalu terjaga kebersihannya. Buktinya, sprei ini baru diganti.


Arsen mulai menciumku, sedangkan satu tangannya mulai bergerak menelusuri wajahku, semakin turun semakin turun sampai akhirnya berhenti di atas bukit kembar yang masih tertutup rapi.


"Aku kangen ini," kata Arsen sembari mere*mas-re*mas bukitku. Lalu, ia membuka kancing bagian atas dress yang kupakai.


"Jangan, itu punya Xavier!" Aku mencegah Arsen yang berusaha membuka menarik cup br*a yang sekarang ukurannya bertambah.


"tapi aku pengen banget." Arsen memasang wajah memelas.


"Udah lah, skip bagian itu! Yang lain aja, itu milik Xavier, satu-satunya makanan Xavier sekarang." Kami berdebat hanya karena bukit kenyal yang pasti membuat Arsen tergoda.


Melihat ekspresi wajahnya yang berubah, aku jadi tidak tega. Akhirnya aku berinisiatif untuk menciumnya, sampai akhirnya ia terbaring di ranjang dan aku berada di atasnya.


Sambil berciuman, aku membantu menarik lepas kausnya, sedangkan Arsen melepaskan dress yang kupakai.


Aku terus menciumnya, sampai kami benar-benar sudah on fire dan akhirnya, aku mengarahkan lolipop Arsen untuk memasukiku. Mau berapa kali pun kami ber*cinta, tapi rasanya memang selalu berbeda. Ini luar biasa. Entah pasangan lain juga sama seperti kami atau tidak, tapi yang jelas aku dan Arsen sama-sama ketagihan, dan saling membutuhkan satu sama lain.


Setelah berolahraga di atas tubuh suamiku, keringat mulai bercucuran membasahi tubuh kami. Sebentar lagi, rasanya sebentar lagi aku akan meledak.


"Dad, aku hampir ...."


Arsen bergerak cepat membantuku yang mulai menegang. Kami sama-sama berlari mengejar pelepasan, sampai akhrinya aku benar-benar meledak di angkasa, detik berikutnya Arsen juga melepaskan benih-benihnya.

__ADS_1


Dengan napas yang tersengal-sengal, kami kembali berciuman. Ada rasa lega yang timbul di hati setelah percintaan singkat ini.


"Terima kasih, Sayang. I love you." Arsen mendekapku yang masih berada di atas tubuhnya, dengan tubuh kami yang masih bersatu.


"Sama-sama. Love you too."


Kami sama-sama tersenyum puas. Sejenak kami melupakan dunia nyata, dan kembali berciuman.


Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu mengembalikan kesadaran kami.


"Kim, Kim. Kamu di dalam?" Suara teriakan Mama yang diiringi suara tangis Xavier.


"Iya Ma, sebentar," sahutku sambil bergerak menjauh dari tubuh Arsen.


Aduh bagaimana ini? Aku belum membersihkan diri dan Xavier sudah menangis.


"Untung kita udah selesai," kata Arsen yang juga memakai pakaiannya lagi.


♥️♥️♥️


...Xavier sih, kan Mommy sama Daddy masih mau mesra-mesraan....


Selamat pagi dunia halu.


Sudah kasih aku kembang kopi belum 🤭🤭


Doakan aku ya gaess biar kuat menghalunya.😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2