Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 106


__ADS_3

Aku terbangun setelah tertidur beberapa jam. Yang kulakukan adalah langung mengecek ponsel untuk melihat apakah Arsen menghubungiku.


Senyumku merekah sempurna saat mendapat sebuah pesan dari Arsen. Ia bilang bahwa sekarang dia sudah sampai di Jepang dengan selamat.


Usai membaca satu pesan yang nyatanya mampu membuatku berbunga-bunga, aku jadi ingin melihat wajah Arsen saat ini. Untung saja kemajuan teknologi sudah memudahkan komunikasi kami.


Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Arsen menerima panggilan video dariku.


"Selamat pagi Kimmora, istriku." Wajah tampan Arsen menyapaku di layar ponsel. Yah, meskipun tidak bisa menyentuhnya, setidaknya aku masih bisa melihatnya, kan?


"Pagi juga, suamiku." Aku menampilkan senyum paling cantik, meskipun aku belum cuci muka, tapi tetap cantik kok.


"Mata kamu kenapa? Kayak disengat lebah. Kamu habis nangis ya?" tanya Arsen.


Memang di layar ponsel terlihat jelas dua mataku membengkak sempurna. Jelas, ini karena semalam aku masih menangisi kepergian Arsen.


"Aku kan masih sedih, Oppa," jawabku dengan nada sendu.


"Dulu aja gayanya nggak mau, malah minta diceraiin, sekarang baru ditinggal semalam aja udah nangis-nangis," sahut seseorang yang aku yakini adalah Papa.


"Jangan didengerin, Oppa. Aku dulu khilaf, sekarang udah nggak kok,"Β  cicitku yang membuat Arsen tersenyum geli.

__ADS_1


"Sana ke dapur, mamamu masak apa?" perintah Papa yang masih tak menunjukkan wajahnya, ia hanya bersuara tanpa mau bertatapan denganku di layar ponsel.


"Ih, orang aku lagi di rumah Papa, nggak ada Mama di sini. Emang kenapa Papa kepo Mama masak apa? Papa kangen Mama ya?" ejekku pada Papa.


"Ah, udahlah, papa mau ke kantor. Arsen kamu istirahat dulu aja jangan ladenin Kimmy, nanti setelah makan siang kamu ke kantor bantu papa."


"Siap Pa."


"Oppa, kamu istirahat dulu deh, nanti kita telponan lagi. Aku mau bantuin Oma dulu," pamitku. Aku paham Arsen pasti kelelahan setelah perjalanan tadi malam.


"Ya udah, jangan nangis lagi tapi ya."


***


"Oma. Oma pernah nggak LDR-an sama Opa waktu muda dulu?" tanyaku saat kami sedang memindahkan beberapa tanaman ke pot yang lebih besar.


"Pernah, tapi jaman dulu banget, belum ada hape," jawab Oma.


"Kalau kangen gimana Oma?"


Oma dan Opa dulu pasti lebih menderita karena rindu, setidaknya teknologi sekarang sudah memudahkanku dan Arsen untuk saling memandang, meskipun tidak saling menyentuh.

__ADS_1


"Kangen ya kirim surat, Kim. Nyampenya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan."


"Surat?"


"Iya, kalau nggak gitu ya telepon rumah, tapi nanti pasti ada yang mengomel karena tagihan membengkak." Oma menatap wajahku. "Kamu tuh harus bersyukur, hidup di zaman modern yang serba canggih, lagian Arsen itu kerja bukan liburan, nanti kalau dia nggak pulang-pulang kita susulin dia ke Jepang."


"Aku ikut dong, Oma."


Aku dan Oma menoleh pada asal suara itu, dan ternyata gadis bawel itu sudah ada di sini.


Siapa yang menyuruhnya datang sepagi ini, bahkan Kak Darren belum berangkat ke kantor.


"Ngapain kamu pagi-pagi ke sini?" tanyaku padanya.


"Disuruh Oma," jawabnya yang kemudian ikut berjongkok bersamaku dan Oma.


"Tapi kamu ke sini pagi sekali Na, Oma kan bilangnya nanti agak siangan." Oma menatap aneh pada Nana, sedangkan gadis itu hanya cengar-cengir.


"Pasti ngapelin Kak Darren, genit banget!"


🌹🌹🌹

__ADS_1


Oke, aku up 2 bab ya hari ini. Nanti kalau ada waktu Othor up lagi, banyakin dulu kembangnya 😘😘😘


__ADS_2