
Sela dan seorang temannya menyeretku masuk ke toilet wanita yang saat itu sedang sepi. Dua gadis yang terlihat bar-bar itu mulai menginterogasiku.
"Sejak kapan kamu pacaran sama Arsen?" tanya Sela yang sudah melipat kemeja putih motif garis-garis yang dikenakannya.
"Sejak kapan pun itu bukan urusan kalian," jawabku tanpa takut.
"Jelas jadi urusan aku, Arsen itu pacarnya Yumna sahabat kami, dan Dion itu udah lama aku incar. Tiba-tiba kamu masuk dan merebut perhatiannya. Lalu sekarang kamu mengacaukan persahabatan mereka. Dasar cewek kegatelan.” Sela mendorongku hingga punggungku membentur dinding dengan keramik merah muda itu.
"Eh, punya mulut dijaga.” Aku menunjuk wajah Sela dengan telunjuk kananku.
“Eh, anak baru, belagu banget lo!” Teman Sela mendorong pundak kananku.
“Kalau lo suka sama Dion, ya lo curi perhatiannya lah, hibur dia yang lagi sedih setelah putus dari gue. Bukannya ngeroyok gue di toilet kayak anak SMP gini, pecundang lo!” Aku mendorong tubuh Sela hingga tersungkur ke lantai dan saat temannya berusaha menolongnya, aku berhasil keluar dari toilet dan meninggalkan mereka berdua.
Dasar cewek kampungan! Beraninya kalau bawa teman.
Aku berjalan menuju kantin tempat biasa aku menunggu Nana. Ya, lebih tepatnya Nana yang sering menungguku di sana.
Sambil menunggu Nana, aku mengeluarkan kaca kecil yang selalu kubawa, merapikan rambut dan riasanku yang mungkin saja menjadi berantakan karena kejadian di toilet tadi. Ah, ternyata aku masih cantik!
Nana melambaikan tangan dari kejauhan. Gadis itu masih seperti biasanya, cantik dan juga ceria. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai lurus tanpa hiasan pita atau jepit rambut apapun.
“Kok gue nggak lihat mobil lo sih, Kim.” Nana langsung duduk di hadapanku, ia mencomot snack kacang kesukaannya.
“Gue dateng sama Arsen,” jawabku.
“Cie cie, lo sekarang seleranya anak supir ya.” Nana, sahabat minim akhlak itu mulai meledekku.
“Apaan sih lo. Eh Na, lo tau nggak, Oma tuh sekarang lagi di rumah, kesel banget gue.” Aku memanyunkan bibir mengingat Nenek Sihir yang entah akan membuat kekacauan apalagi.
“Lah, oma lo sekarang di rumah? Ada kejadian apa lagi di rumah lo?” tanya Nana yang selalu paham bahwa ada Oma pasti ada bencana di rumah Papa.
“Kali ini parah sih, masa iya gue disuruh masak sama Oma," jawabku malas.
“Elo masak?” Nana tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Benar-benar sahabat minim akhlak, senang sekali mendengar temannya menderita.
“Udah deh Na, jangan ketawa terus, males nih gue.” Aku melempari Nana dengan kulit kacang.
“Oke-oke sorry! Jadi, ada angin apa Oma nyuruh lo buat masak?” Wajah Nana kali ini sudah mulai serius.
“Katanya gue harus belajar jadi istri yang baik, kesel nggak sih?" tanyaku pada sahabatku itu.
Nana kembali tertawa, dan itu membuatku semakin kesal, menunggunya tertawa sampai puas dan berhenti. Suasana kantin yang lumayan ramai tak membuat gadis berambut hitam pekat itu malu dengan tawanya sendiri.
__ADS_1
"Oma tu bener tau, Kim. Sudah saatnya lo belajar masak, nanti kalau lulus kuliah, terus elo nikah lo udah bisa masak.” Sahabatku itu kembali tertawa, seolah penderitaanku adalah kebahagiaan terbesarnya.
“Sialan lo, temen macam apa sih lo, bahagia banget saat gue kesusahan gara-gara Oma.” Aku menyedot habis minumanku, curhat dengan Nana benar-benar tidak memberi solusi.
“Gini deh, gimana kalau lo ambil kursus masak.” Nana akhirnya memberikan solusinya.
“Tapi kan kursus masak mahal, Na," keluhku.
“Lo sekarang kayak orang susah aja sih, Kim. Biasanya juga tinggal minta abang sama bokap lo.” Nana menatapku dengan tatapan anehnya.
“Ya nggak bisa lah, gue sekarang ‘kan ….”
Aduh, mulut ini kenapa? Hampir saja mengatakan kalau sekarang aku dapat uang dari Arsen, bisa ngomel-ngomel Papa sama Kak Darren kalau aku minta uang lebih untuk bayar kursus. Tidak, belum saatnya Nana tahu kalau Arsen suamiku.
“Lo sekarang kenapa? Diskorsing nggak dapat duit jajan dari bokap?" Nana menebak dengan alasan yang sama yang dulu juga sering aku keluhkan padanya.
“Iya, kartu debit sama kartu kredit juga disita, sial banget gue," jawabku mencari aman.
“Ya udah lo nurut sama Oma lo aja, Kim. Atau lo mau belajar masak ala resto di resto nyokap gue, lumayan dapat pegawai gratisan.”
“Kampret lo!”
***
Aku masih menunggu Arsen yang masih ada di kelasnya, duduk sendirian di bangku taman karena Nana sudah pulang setelah kelas berakhir. Lama menunggu Arsen, tiba-tiba aku dihampiri Yumna yang datang bersama Sela dan juga temannya yang tadi pagi.
“Ya, ada apa?” jawabku masih dengan duduk di bangku taman sedangkan tiga gadis itu berdiri tepat di hadapanku.
“Sela, Kristi tinggalin aku sama dia sendiri!” perintah Yumna pada kedua temannya.
“Kamu yakin?” tanya Sela yang terlihat ragu-ragu untuk mengikuti perintah Yumna.
Yumna mengangguk, lalu kedua gadis itu meninggalkan kami berdua. Di taman ini sudah mulai sepi, karena waktu sudah semakin sore, hanya ada beberapa mahasiswa saja yang hilir mudik melewati kami.
“Pasti ada hal penting sampe lo nyamperin gue bawa rombongan kayak tadi,” ucapku.
“Apa benar kamu dan Arsen pacaran?” tanyanya tanpa basa basi.
Gadis itu memilih duduk di bangku taman tepat di sampingku.
“Kalau iya kenapa?” jawabku.
Yumna memutar duduknya hingga condong ke arahku, jemari tangan lentik itu memainkan tali tasnya.
“Sejak kapan? Arsen itu cintanya sama aku, bukan sama kamu. Dia sama kamu pasti cuma pelarian aja," katanya setelah terdiam cukup lama.
__ADS_1
“Yumna, kamu benar-benar bodoh! Kamu pikir kenapa Arsen ninggalin kamu dan mutusin kamu tiba-tiba?” tanyaku padanya.
“Kenapa?” Gadis itu bertanya seolah ia benar-benar bodoh.
“Karena dia memilih aku daripada kamu.” Aku berdiri hendak meninggalkan Yumna karena aku tahu pembicaraan ini tidak akan ada habisnya.
Namun, tanganku langsung dicekal oleh Yumna sebelum aku melangkahkan kaki meninggalkannya.
“Jelaskan kenapa dia memilih kamu daripada aku? Sejak kapan kalian saling mengenal?” Yumna berteriak, membuatku langsung memperhatikan sekitar.
“Lo nggak malu apa diliatin mahasiswa lain?” tanyaku dengan kesal lalu kembali duduk ke tempatku semula.
Yumna tampak mengamati sekitar dan mulai mengatur napasnya.
“Semua ini membuatku bingung, lima bulan lalu semua baik-bai saja, kami masih sama-sama tertawa, tiba-tiba dia memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Lalu kamu dan Dion berpacaran dan sekarang kamu yang jadi pacarnya Arsen.” Gadis itu menunduk, mungkin ia sedang menangis saat ini.
“Yumna, lupain aja Arsen, dia nggak berhak dapat cinta dari lo. Gue yang akan mengisi hatinya.”
“Kim, kamu seorang perempuan, apa kamu nggak ada sedikit pun rasa empati buat aku?” Yumna kembali mengangkat wajahnya.
“Yumna, mau lo nangis darah pun nggak akan merubah keadaan, Arsen udah jadi milik gue, lo sama dia udah berakhir.”
“Nggak, dua tahun aku sama Arsen, dan kamu kenal dia baru berapa bulan, sadar Kim, kamu cuma pelampiasan dia?”
“Apa yang lo tahu yang gue nggak tahu tentang Arsen? Gue kasihan sama lo, lo kayak pengemis yang minta-minta cintanya Arsen tahu nggak? Harusnya lo tanya ke Arsen bukan gue, sejak kapan dia suka sama gue dan lebih milih gue yang nggak pernah kenal dia daripada lo yang udah kenal dia selama dua tahun ini."
Gadis itu kembali menunduk.
“Malu gue diliatin gara-gara rebutan cowok," ucapku lalu beranjak bangun dari bangku taman.
"Kimmora …."
Aku menoleh pada laki-laki yang sedari tadi telah kutunggu itu, lalu aku tersenyum padanya.
🌹🌹🌹
Haduh, Yumna kasihan sih tapi.. hemmm sudahlah… sama Dion aja Yumna..
Bang Arsen habis kuajakin mojok jadi nggak nongol hari ini 😂😂
Hai, ada yang nungguin updatenya nggak?
Oh nggak ada yaudah deh 😂😂😂
Yang penting setelah baca bab ini tinggalkan jejaknya. Like, Komen, Hadiah dan Vote.
__ADS_1
Sampai ketemu lagi 👋👋👋