Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 71


__ADS_3

Malam hari ini, hujan masih mengguyur dengan deras. Mungkin, esok hari akan terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan yang tergenang banjir.


Suara petir menggelegar, seakan mengingatkanku pada kisah lamaku dengan Arsen. Tentu saja aku tidak berani tidur sendirian, dan memilih tidur bersama Oma.


Kalau kuingat lagi kisah empat tahun lalu, rasanya seperti duniaku berbeda 180 derajat. Aku yang bersikap jutek dan menyebalkan pada Arsen, sekarang menjadi istri yang sangat mencintainya. Ah, aku jadi merindukan Arsen.


*


*


*


Bangun di pagi buta, Oma mengajakku jalan-jalan pagi di sekitar komplek. Kata Oma, kalau kita rutin jalan kaki terutama di pagi hari, itu akan membantu mempermudah proses persalinan. Entah benar atau tidak, tapi karena olahraga ini masih aman, aku menurutinya saja.


"Kamu nanti jadi jenguk istrinya mantan kamu?" tanya Oma saat kami beristirahat di trotoar depan rumah orang.


Beberapa genangan air menghiasi jalanan komplek perumahan elit ini. Beruntungnya kawasan rumah Papa tidak terkena banjir, dampak hujan semalam yang tak kunjung berhenti.


"Oma, jangan sebut-sebut mantan kenapa sih!" protesku yang kemudian meneguk air putih yang kami bawa dari rumah.


"Emangnya salah ya? Dia kan memang mantan kamu, istrinya mantannya suamimu." Oma tertawa jahat, Nenek Sihir ini memang selalu senang menertawakan apapun yang ada dalam hidupku.


"Oma jahat banget sih, aku itu nggak anggap dia mantan, tapi aku anggap dia sebagai saudaranya suamiku." Aku berdiri untuk melanjutkan kegiatan jalan santai ini.


"Mantan yang jadi saudara, iya 'kan?"

__ADS_1


"Ah, udah ah. Oma jahat banget."


*


*


*


Aku sedang mendengarkan musik klasik untuk bayiku di ruang keluarga. Kata Dokter Nayla, musik itu bagus untuk kecerdasan otak janinku. Sambil memakan buah anggur yang sangat segar.


"Kim, kata Oma, sepupunya Arsen melahirkan ya istrinya?" tanya Mama yang menghampiriku di ruang keluarga.


"Iya, Ma. Aku tunggu Kak Arsen aja mau nengoknya," jawabku sambil mengunyah anggur yang rasanya ada asam ada manisnya juga.


"Yang lahiran itu mantannya Arsen, nah suaminya itu mantannya dia." Papa yang entah datang dari mana tiba-tiba menyahut.


"Papa sama aja kayak Oma," balasku lalu berdiri ingin kembali ke kamar.


Namun, baru saja aku berdiri, aku melihat Arsen melangkah masuk sambil tersenyum.


"Daddy," sapaku yang kemudian berjalan mendekat ke arah Arsen.


"Dari mana-mana itu cuci tangan cuci kaki dulu. Bayi dalam kandungan itu bisa kena sawan," kata Oma yang membuatku urung mendekati Arsen.


"Oma pasti mau ngomongin mitos deh," sahutku yang sudah bisa menebak arah pembicaraan Oma.

__ADS_1


"Ya terserah mau percaya apa nggak," kata Oma yang kemudian duduk di sofa.


"Aku mandi dulu aja, Sayang." Arsen mengalah dan menuruti perkataan Oma. "Aku ke kamar dulu ya, Pa, Ma, Oma," pamitnya yang kemudian berjalan melewatiku sambil tersenyum.


"Oma sih. Udah ah, aku mau nyusul Arsen."


"Mau Mama antar?"


"Nggak usah Ma, aku bisa jalan sendiri kok."


"Ya udah kalau gitu hati-hati ya,"


Mereka memang masih bersikap protektif dan sangat menjaga kehamilanku. Naik tangga saja yang mengawasi tiga orang sekaligus. Aku bisa apa untuk melarangnya, memang ini cucu pertama mereka. Yang penting mereka tidak membatasi gerak-gerikku.


♥️♥️♥️


...Siapa nih yang neneknya kayak Oma gini, suka ngelarang-larang karena pamali....


Selamat malam gaes, walaupun telat aku tetap update.


Capek sebenarnya, tapi ya berhubung aku sayang kalian, jadi ya tetep usahain update.


Lempar bunga atau kirimin kopi dong.


Jangan lupa ritualnya.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi 😘😘😘


__ADS_2