Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 110


__ADS_3

💞DELAPAN BULAN KEMUDIAN💞


Long Distance Marriage atau hubungan jarak jauh dalam pernikahan, istilah itu tidak lagi asing bagiku dan Arsen. Ya, sampai detik ini kami masih terpisah jarak dan waktu.


Selama Arsen di Jepang, kami baru bertemu sekali, saat aku tiba-tiba mengunjunginya di Jepang akhir musim semi lalu.


Waktu itu aku mendapatkan tiket pesawat dari Nana karena taruhan konyol itu. Sahabatku itu benar-benar memenuhi janjinya untuk mengirimku ke Jepang menemui Arsen.


Sementara itu, kerugian perusahaan di Jepang memang sudah teratasi. Namun, mengembalikan kondisi perusahaan yang hampir saja mengalami kebangkrutan bukanlah hal yang mudah, Arsen masih berjuang untuk menstabilkannya.


Awalnya aku sangat tidak setuju dengan keputusan Arsen untuk terus di Jepang demi mengembalikan kejayaan anak perusahaan itu, tapi Arsen juga bersikeras bahwa ia bisa melakukannya, dan akhirnya aku mengalah.


Jam di kamarku menunjukkan pukul 05.00, artinya di Jepang sudah jam 7 pagi. Aku meraih ponselku untuk menghubungi Arsen, kegiatan yang selalu aku lakukan setiap bangun tidur sejak delapan bulan ini.


"Selamat pagi, istriku Sayang," sapa Arsen yang terlihat membawa kopi.


"Pagi juga, suamiku. Kapan pulang?" Pertanyaan yang selalu aku tanyakan pada Arsen.


"Maaf ya Sayang. Aku nggak jadi pulang bulan ini," jawabnya dengan tersenyum.


Dia masih saja tampan seperti dulu, 


"Kenapa gitu? Aku kan udah susun rencana mau libur dua hari sama kamu di pantai, kamu nggak asik ah." Aku memalingkan wajah dari layar ponsel, rasanya kecewa sekali, liburan yang sudah tersusun cantik harus ku lupakan begitu saja.


Sampai kapan sih menjalani pernikahan seperti ini?


"Jangan cemberut dong, nanti cantiknya hilang."


"Ya, kamu kan udah janji mau pulang, aku udah nahan kangen empat bulan dan minggu depan harusnya kamu pulang, malah kamu nggak jadi pulang kan aku kecewa, Oppa. Kamu jahat!" Sejujurnya aku benar-benar kesulitan menjalani kehidupan pernikahan jarak jauh seperti ini, tapi bagaimana lagi, Arsen juga ingin membuktikan pada semua orang bahwa dia layak dan mampu.


"Yaudah, aku usahain pulang ya tapi nggak janji bisa bulan ini," kata Arsen.

__ADS_1


"Au ah. Kamu jahat."


Arsen tertawa, kemudian ia menceritakan kegiatannya sehari-hari, juga perkembangan perusahaan di Jepang selama ia pimpin.


Arsen benar-benar bertanggung jawab, ia juga bekerja keras. Kalau menurut prediksi Papa, tiga sampai empat tahun mendatang Arsen pasti berhasil mengembalikan kejayaan perusahaan, dan saat itu tiba, berarti aku sudah lulus kuliah, kan?


***


Besok libur kuliah, bingung juga mau ke mana, sedangkan si Nana aku ajak main malah sudah ada rencana liburan sama Kak Darren. Menyebalkan sekali kan si Nana? Mentang-mentang sudah jadi pacar Kak Darren, mulai sibuk dengan kakakku itu, melupakanku yang kesepian.


Pagi ini, mobilku dibawa ke bengkel, aku berangkat diantar Kak Darren, dan pulang terpaksa nebeng Nana. Gadis bawel itu entah sedang apa lama sekali.


Hari sudah hampir petang, saat Nana selesai menemui dosen dan kami akhirnya pulang.


“Mau ngemall dulu nggak?” ajaknya saat kami sudah di mobil.


“Ngapain?” jawabku malas.


“Nonton, ada film bagus, gue yang traktir,” ucapnya setengah memaksa. Nana selalu tahu kelemahanku dengan kata traktir.


“Ya udah serah,” jawabku pasrah, lumayan juga sih nonton gratis.


Nana melajukan mobil menuju area parkir sebuah pusat perbelanjaan. Kami langsung menuju gedung bioskop, dan bodohnya aku yang tidak bertanya dulu, ternyata Kak Darren sudah ada di sana menyambut kami.


“Kakak udah di sini?” tanyaku sambil mengerutkan alis.


Tega banget Nana sama Kak Darren jadiin aku obat nyamuk.


“Iya, udah pesen tiket juga. Yuk masuk, udah mau diputar filmnya.”


“Jahat!” Aku merebut popcorn dari tangan Kak Darren, lalu kami bertiga masuk ke bioskop.

__ADS_1


Aku bahkan tidak tahu film yang akan kami tonton ini film apa? Semoga saja bukan film horor.


“Kim, kamu sebelah sana, Nana di tengah,” kata Kak Darren yang mengatur duduk kami.


“Bawel.” Dengan hati dongkol akhirnya aku duduk  di kursi kedua dari ujung. Pinter banget memang Kak Darren milih tempat mojok.


Film belum dimulai, tapi dua manusia itu sudah saling berpegangan tangan, membuat iri saja. Aku jadi merindukan Arsen.


Seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam mengisi kursi kosong di sampingku. Ya, di kursi paling pojok. Dari aromanya, parfum ini sangat mirip dengan aroma Arsen, lembut tapi maskulin.


Arsen, aku merindukanmu.


Tanpa sadar, air mataku lolos begitu saja. Dengan cepat aku menghapusnya sebelum Kak Darren atau Nana melihatnya. Tiba-tiba laki-laki di sampingku memberikan tisu kemasan saku padaku.


Apa dia tahu aku menangis?


Aku menoleh pada laki-laki itu. Kedua sudut bibirnya terangkat. Meski setengah wajahnya tertutup topi hitam, tapi aku mengenali wajah itu. Dengan percaya diri, aku mendekat dan melepaskan topinya.


Seketika air mataku pecah, dan aku menghambur dalam pelukannya.


🌹🌹🌹


...Hayo, siapa tuh.. Ah pasti udah bisa nebak lah ya....


Oh ya gengs, belum bosan kan? Aku masih mau melanjutkan perjuangan Kimmy sampai punya anak dengan Arsen. So, stay with me, OKE!


Ritual jejaknya jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, VOTE


Nggak mau dobel up aku, banyak yang jempolnya nggak dipencet kok.


Sampai ketemu lagi

__ADS_1


__ADS_2