Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 52


__ADS_3

Makhluk mungil yang sedang bertumbuh di dalam rahimku ini, sepertinya akan memberikan kebahagiaan untuk semua orang. Dia akan menjadi cucu pertama dan juga cicit pertama di dua keluarga, keluarga Mahendra juga keluarga Ardiansyah. Tidak terbayang bagaimana kehebohan mereka saat anakku lahir nanti.


"Oh, ya. Pa, hari minggu besok aku sama Kimmy mau mengadakan syukuran untuk rumah baru kami. Aku harap semua keluarga Mahendra mau datang," kata Arsen.


"Pasti kami akan datang. Apa yang kalian butuhkan? Kalau boleh papa sama mama ingin membantu," kata Papa Raffi.


"Em, nggak usah Pa, Papa Mama sama Kakek cukup doakan kami saja." Arsen menolak.


Aku tahu bagaimana sifat Arsen, selama dia bisa, dia tidak akan dengan mudah menerima bantuan orang lain. Arsen lebih senang memperoleh segala sesuatu dengan kerja kerasnya sendiri.


"Kami pasti selalu mendoakan kalian. Apalagi sekarang calon penerus keluarga ini juga akan segera hadir dari rahim istrimu," kata Kakek. Sementara Papa Raffi hanya menunduk, mungkin Papa kecewa karena Arsen menolak bantuan darinya.


"Arsen, sudah saatnya kamu membantu bisnis keluarga kita, kalau bukan kamu siapa lagi yang akan meneruskannya?"


Kakek sepertinya sangat berharap pada Arsen.


"Maaf Kek, bukannya aku tidak mau membantu, tapi masih ada Dion, dan juga Papa. Aku sendiri masih harus bantu Papa Ardy di kantor, dan bisnis kafe keluarga Mama juga diserahkan ke aku. Aku takut nggak bisa bertanggung jawab dengan semuanya Kek." Arsen menolak permintaan Kakek.


"Dion tidak bisa diharapkan, anak itu hanya tahu bersenang-senang," keluh laki-laki tua yang dulu membenci ibu kandung Arsen.


"Pelan-pelan pasti Dion akan mengerti Kek, apalagi sekarang dia sudah berkeluarga." Arsen tersenyum, suamiku itu selalu memberikan energi positif untuk orang-orang di sekitarnya.


"Tapi kamu menolak bukan karena sakit hati dengan keluarga ini kan?"


"Sama sekali tidak, Kek."

__ADS_1


*


*


*


Sepulang dari rumah Papa, Arsen mengantarku pulang ke rumah Papa, lalu ia kembali lagi ke kantor karena telepon dari Kak Darren.


Hari masih siang menjelang sore, Oma dan Mama sedang yoga di taman belakang saat aku masuk.


Tidak ada Bi Sri, terasa sepi juga. Dulu kalau aku pulang sekolah, Bi Sri selalu menemaniku makan siang dan ngobrol santai, sekarang semua sudah berubah. Mama kembali tapi Bi Sri sekarang pergi.


"Kimmora, kamu baru pulang?" tanya Mama yang kemudian menghampiriku.


"Iya, Ma. Tadi mampir sebentar ke rumah mertua," jawabku sambil menunjukkan paperbag berisi bolu pisang buatan Mama Nisa.


"Apa sih, Oma. Tadi aku tu pengen banget makan bolu pisang buatan Mama Nisa makanya suamiku anterin aku ke sana."


"Sini Mama taruh piring, biar enak kamu makannya nanti." Mama mengambil alih paperbag itu dariku.


"Makasih, Ma."


Lalu, Mama masuk ke dapur, sedangkan aku dan Oma memilih duduk santai dekat kolam renang.


"Arsen masih muntah-muntah?" tanya Oma.

__ADS_1


"Masih Oma, biasanya kalau muntah itu sampai berapa lama sih Oma?"


"Biasanya sampai 3 bulanan, ada juga yang sampai hamil besar masih mual muntah."


"Kasihan Daddy dong, Sayang." Aku mengelus perutku yang masih rata. "Oma kapan ya, perut aku akan membuncit, tiap pagi aku cek masih segini aja?"


"Ya, belum Kim, nanti kalau udah 3-4 bulanan mulai kelihatan, lama-lama semakin besar. Kalau udah hamil tua biasanya sering ada keluhan," kata Oma yang ikut mengelus perutku.


"Hamil tua maksudnya, udah tua hamil?"


"Ya, bukan. Duh kamu nih, lelet amat sih. Maksudnya kalau udah 7 bulan sampai lahiran, itu baru ngerasain banyak keluhan, mau apa-apa ribet, apalagi kalau mau tidur. Hmmm, nanti kamu juga ngerasain," kata Oma yang membuatku ngeri.


"Oma, jangan nakut-nakutin aku dong."


"Nggak usah takut Sayang. Nggak semua orang hamil merasakannya kok, walaupun nanti kamu ngerasain itu, anggap saja itu suatu kenikmatan," sahut Mama yang datang dengan membawa sepiring bolu pisang buatan mertuaku.


Kalau suamiku bisa ngerasain mual muntahnya, apa dia juga bisa gantikan aku, merasakan apa yang Oma katakan tadi?


♥️♥️♥️


Jangan ngelunjak Kim, udah deh. Kasihan Oppa kesayangan kita semua. Lagian masih lama kan? 😘😘


Selamat sore, mon maaf telat. Biasa, sibuk di dunia nyata, juga kurang fit. Yang penting tetep up kan 😅😅


Jangan lupa ritualnya.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😘😘


__ADS_2