
Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Arsen, suamiku itu sedang duduk melamun di tepi kolam. Aku hanya melihatnya dari kejauhan tanpa berani mendekatinya.
Arsen, seperti apapun masa lalumu, kamu pasti bisa melewatinya. Seperti aku yang akhirnya bahagia dengan Mama, kamu pasti akan bahagia juga Arsen.
“Kimmy.”
Suara Oma membuatku menoleh dan mengalihkan perhatianku dari Arsen.
“Iya, Oma,” jawabku pelan. Sepelan suara Oma saat memanggilku barusan.
“Coba kamu dekati Arsen, kamu hibur dia. Saat ini dia pasti membutuhkan kamu.” Oma berbicara dengan begitu yakin, membuatku mengangguk paham dan kemudian berjalan mendekati Arsen.
Arsen sama sekali tidak terganggu dengan suara sandalku yang menapak tanah seiring dengan langkah kakiku. Aku langsung duduk di sebelahnya setelah melepas sandal dan menceburkan kakiku ke kolam.
Arsen menoleh padaku, lalu aku balas tatapannya dengan senyuman termanis yang bisa aku tunjukkan.
“Oppa, kamu lagi apa?” tanyaku berbasa-basi.
“Aku nggak lagi apa-apa, cuma mikirin masa depan kita,” jawabnya yang kini meraih tangan kiriku dan ia letakkan di atas pahanya.
Aku tahu Arsen pasti sedang sedih, mungkin ia belum mau bercerita apapun denganku, tapi bukankah aku harus tetap bersamanya dalam keadaan apapun?
__ADS_1
“Aku di sini untuk kamu, kalau kamu butuh sandaran, bahuku selalu siap, kalau kamu butuh didengarkan, telingaku juga selalu siap.” Aku mengusap rambut Arsen dengan tangan kananku, karena tangan kiriku masih terus digenggamnya.
Tiba-tiba Arsen menyandarkan kepalanya di bahuku, dan aku semakin beralih mengusap-usap wajahnya. Kami sama-sama menatap ke depan, menatap air kolam yang tenang, yang seakan warnanya menjadi biru karena pantulan cahaya yang mengenai lantainya.
“Pak Aji bukan orang tua kandungku, Kim,” ucapnya lirih.
Sejujurnya aku sudah tahu dari Papa tadi, tapi aku ingin mendengarkan semua yang Arsen rasakan, semua yang Arsen pikirkan, aku ingin tahu itu.
“Nanti kita cari sama-sama, ya.” Hanya itu yang ada dalam benakku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan, karena yang aku tahu saat ini Arsen hanya ingin didengarkan, bukan meminta pendapatku.
“Papa meninggalkan mamaku saat mama masih hamil muda. Aku sudah ditinggalkan bahkan sebelum aku dilahirkan.”
Aku langsung memeluk Arsen. Aku tahu ini sangat berat baginya, orang tua yang selama ini ia anggap seperti orang tuanya sendiri, ternyata bukanlah orang tua kandungnya. Apalagi orang tua kandungnya tidak pernah tahu keberadaannya selama ini.
Arsen mengangkat wajahnya yang kusut, ia tidak menangis, tapi raut kesedihan jelas terlihat di wajah tampannya. “Mama Sabrina sahabatnya mamaku?” tanyanya.
“Iya, hari pertama kita ke rumah Mama, Mama cerita soal mama kamu, tapi Mama nggak bilang banyak. Mungkin kalau kamu yang tanya, Mama mau cerita semuanya.” Mata kami saling bertatapan, mata Arsen berbinar-binar seakan ia mendapat harapan baru.
“Mama nanti ke sini, kan?”
Aku mengangguk sebagai jawaban. Lalu, aku kembali memeluk Arsen.
__ADS_1
...❤❤❤M.A.S.🚗🚗🚗...
Mama dan Kak Darren akhirnya benar-benar datang ke rumah Papa.
Di rumah hanya ada aku, Arsen, Oma dan para pekerja di rumah Papa. Sementra Papa dan Pak Aji ke luar karena suatu urusan.
“Ma, Kimmy bilang, Mama sahabatan sama ibu aku, apa Mama juga kenal siapa ayah kandungku?” tanya Arsen saat Oma meminta Mama untuk membuka kisah masa lalu orang tua Arsen.
“Iya, mama memang sahabatan sama mamamu, dan mama juga sangat mengenal papa kandung kamu. Bahkan mungkin saja kamu mengenalnya juga Arsen,” jawab Mama yang duduk berdampingan dengan Kak Darren,
Aku menggenggam tangan Arsen, memberikan dukungan padanya, bahwa aku akan selalu bersamanya.
“Maksud Mama gimana? Siapa papa kandung aku?”
“Dia anak salah seorang pejabat negara yang sudah pensiun, tapi nama keluarganya cukup terpandang, bahkan sampai saat ini.”
***
...Hayo, kira-kira apa ya alasannya bapaknya Bang Arsen ninggalin ibunya Arsen?...
Ritual jejaknya dulu, like + komen + hadiah + vote.🌹☕
__ADS_1
Sampai ketemu besok, iya beneran besok 👋👋👋