Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 54


__ADS_3

Kakek terlihat begitu marah, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan laki-laki tua itu, tiba-tiba saja Kakek menjadi emosional dan marah-marah.


"Pa, tolong jangan seperti ini, Arsen adalah putraku, sama seperti Dera. Aku tidak peduli apakah Arsen akan membantu bisnis kita atau tidak, yang jelas dia tetap putraku." Papa Raffi ikut berdiri dan mengambil 


"Oh, kamu lebih membela dia daripada ayahmu sendiri?" tanya Kakek yang terlihat sangat geram.


"Dia adalah putraku. Putra kandungku. Dia satu-satunya kenangan yang tertinggal antara aku dan Alya. Dulu Papa bisa mengancamku dengan mencelakai Alya, tapi sekarang tidak, aku yakin Arsen lebih kuat dari Papa."


“Kamu sudah mulai berani, Raffi. Akh … akh ….”


Kakek menyentuh dadanya yang sepertinya sedang merasakan kesakitan. Tak lama Kakek terjatuh sambil memegangi dadanya.


“Papa.”


“Kakek.”


Arsen dan Papa Raffi langsung menolong Kakek. Papa menghubungi ambulan. Semua orang panik, dan aku pun ikut panik juga. Namun, Oma langsung membawaku ke dapur, menjauhi semua orang.


“Biarkan mereka yang membantu kakek, kamu tenang saja di sini sama Oma.” Oma menuang air ke dalam gelas lalu memberikannya padaku.


Aku menerima air putih dari Oma, lalu menghabiskannya dalam sekali minum.


“Jangan ikut panik, kesehatan bayimu juga sama pentingnya.” Oma memelukku. “Arsen laki-laki yang hebat, masalah seperti ini pasti bisa ia selesaikan, kamu mengerti kan?”


“Tapi Oma, Kakek ….”


“Sudahlah, ayo ikut Oma ke kamar, setelah mereka sampai di rumah sakit, kita akan menghubungi mereka.” Oma menarik tanganku pelan, lalu menuntunku memasuki kamar yang belum pernah aku tidur ini.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, sepertinya ambulan yang membawa Kakek ke rumah sakit sudah datang, terdengar dari suara gaduh orang-orang di luar. Oma pamit untuk melihat keadaan, sedangkan aku dilarang keluar olehnya.


Semoga Kakek tidak kenapa-napa.


Aku hanya bisa menatap kosong benda persegi panjang yang menampilkan animasi dunia laut. Oma yang tadi menyalakan benda elektronik itu. Katanya, supaya aku tetap rileks dan tidak tegang karena kejadian yang menimpa Kakek.


"Mereka sudah pergi." Oma masuk bersama Mama.


"Arsen sama Papa ikut ke rumah sakit." Mama menambahkan kata-kata Oma.


"Sekarang kita harus apa Ma? Kenapa jadi gini sih, aku kan cuma mau kita lebih akrab Ma, kenapa Kakek jadi marah-marah?"


"Kata Papa, bisnis mereka memang sedang mengalami masalah, mungkin karena alasan itu, Sayang."


"Sudahlah, lebih baik kita doakan saja supaya Pak Yusuf tidak kenapa-napa."


*


*


"Tuan Yusuf terkena serangan jantung."


Aku menjadi semakin khawatir, tapi Oma selalu memeluk dan menenangkanku.


"Apa Kakek akan baik-baik saja?"


*

__ADS_1


Subuh menjelang, aku terbangun karena rasa ingin buang air kecil yang tidak bisa kutahan. Akhirnya, aku bangun dan meninggalkan Oma yang terlelap di sampingku, lalu segera ke kamar mandi.


Setelah keluar kamar mandi, aku ke dapur untuk mengambil air minum, dan akhirnya termenung di ruang keluarga. Sisa-sisa perkumpulan dua keluarga, masih ada di sini. Masalah apa lagi sih ini?


Aku mendengar suara klakson mobil di depan pagar rumah. Karena penasaran, aku pun mengintip siapa pengemudi mobil itu. Mungkin saja itu Arsen.


Dari balik kaca, aku melihat seseorang berdiri di depan pagar, itu kan Arsen.


Aku berjalan keluar dan membukakan pintu pagar untuk Arsen, yang kemudian masuk ke mobil untuk memarkirkannya ke garasi.


"Sayang." Arsen memelukku setelah keluar dari mobil.


"Bagaimana keadaan Kakek?" tanyaku sambil membalas pelukan Arsen.


"Kakek sudah pergi." Arsen mengatakan dengan suara seraknya.


Apa maksudnya pergi? Apa kakek sudah meninggal?


♥️♥️♥️


Selamat sore


masih menunggu 🙈🙈🙈


Semoga masih ya 😘😘


Jangan lupa ritualnya,

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😘😘


__ADS_2