
Dengan sangat hati-hati aku menidurkan Xavier yang menangis sambil terpejam, sepertinya ia sedang bermimpi buruk. Xavier sudah tidak mau menyu*su lagi sejak beberapa minggu lalu, Jadi, aku hanya menepuk pelan supaya ia kembali tertidur.
Cukup lama, sampai akhirnya Xavier benar-benar terlelap. Sementara itu, Arsen terus memompa bagian inti tubuhku dari belakang. Sesekali ia menciumi punggungku sambil terus bergerak dengan ritme sedang.
Hingga akhirnya, Arsen menumpahkan benih-benih cinta yang aku yakin tidak akan bisa berkembang, bersamaan dengan keluarnya cairan yang menjadi tanda bahwa aku sangat menikmati permainannya.
"Daddy tidak menyakiti kalian, kan?" tanya Arsen seraya mengusap perutku.
"Apa kamu udah puas menjenguk mereka?" Aku balik bertanya. Satu tanganku mengusap wajahnya yang dengan setia menempel di tengkuk leherku dari belakang.
"Udah, aku senang mereka sehat dan lincah," jawabnya sambil tertawa pelan.l
Aneh sekali, memangnya ujung lolipop yang berusaha menembus dinding pembatas itu, bisa melihat apa yang si kembar lakukan di rahimku.
"Kalau gitu mereka cewek-cewek, cowok-cowok, atau malah cowok-cewek," balasku. Tubuh Arsen terasa semakin menempel di punggungku. Dua kulit dari tubuh yang berbeda itu saling menempel, terbalut kucuran keringat yang mulai mengering.
"Yang aku bisa lihat tadi sih yang perempuan, pokoknya salah satu dari mereka perempuan," jawabnya yang terdengar semakin ngawur.
"Kamu sok tahu deh, Dad. Nanti kalau mereka lahirnya cowok semua jangan-jangan kamu kecewa," tuduhku. Arsen lalu bangun dan memposisikan dirinya berada di atasku.
"Ya nggak lah, Sayang. Mereka darah dagingku, aku nggak akan kecewa, pasti aku akan menyayangi mereka seperti Xavier." Pandangan mata Arsen kini beralih pada Xavier yang tidur membelakangi kami.
Ia mencium anak pertama kami tepat di pipi gembulnya. Lalu, ia berdiri dan memakai kembali celananya.
__ADS_1
"Udah? Nggak nambah lagi?" tanyaku yang membuat Arsen terkekeh.
"Kan tadi cuma uji coba, Sayang. Jadi, besok aku udah siap kerja," jawab Arsen lalu memakai kausnya. "Kamu masih mau lagi?" tanyanya.
Aku bangun dan duduk di tepi ranjang, Arsen mengambilkan pakaianku yang berserakan di lantai dan menyerahkannya padaku.
"Nggak lah, aku capek."
"Tapi enak, 'kan?" godanya sambil menowel pipiku. "Mau aku buatin susu?" tanya Arsen sambil membantu mengancingkan piyamaku satu per satu.
"Em, boleh deh, tapi aku mau bersih-bersih dulu ya," jawabku.
*
*
*
"Kamu mau ke mana rapi sekali?" tanya Papa yang duduk memangku Xavier.
Bocah dengan rambut jabrik itu memukul-mukul koran yang dibaca opanya.
"Kerja, Pa. Bosen di rumah terus," jawab Arsen lalu mengambil alih Xavier dari pangkuan Papa.
__ADS_1
"Kamu udah sehat betul? Kamu baru lancar jalan loh," kata Papa.
Aku membawakan susu untuk Arsen dan Xavier, meletakkannya di meja dan memberikan botol milik Xavier pada bayi menggemaskan itu.
"Udah kok, Pa. Aku kerja bentar nanti cuma lihat-lihat kafe aja, nggak kerja berat kok," jawab Arsen.
"Oh, ya terserah kamu lah, papa juga mau ke kantor, udah lama nggak nengok Darren kerja," kata Papa sebelum menyeruput kopinya.
Baru saja Papa mengatakan akan menengok Kak Darren, ternyata pasangan yang belum dikaruniai momongan itu datang membawa banyak makanan.
"Kikim," sapa Nana yang terlihat bahagia sambil memelukku.
"Lo kenapa? Seneng banget kayaknya?" tanyaku sambil membalas pelukannya.
"Bentar lagi kamu akan dipanggil Onty deh," kata Nana. Ia melepas pelukan kami. Terlihat sekali binar bahagia di mata sahabat sekaligus kakak iparku itu.
"Wah, selamat Markonah." Aku memeluk Nana lagi karena ikut merasakan bahagia dengan kehamilannya.
β€β€β€
...Tuh, biar semakin rame, aku kasih lagi yang hamil π€π€π€ Tinggal Dara kan yang belum, eh Seza juga. Tapi Seza emang di luar negri kan ππ Dara aja belum nikah nikah sama Mas Kai ππ...
Aku nggak minta kembang atau kopi, cukup jempol dan komentar kalian aja aku udah bahagia banget πππ Kemarin mau update, cuma karena sistem eror, nggak jadi update deh π€π€π€π€πππ
__ADS_1