Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 75


__ADS_3

Arsen yang mendapat telepon dari Oma langsung pulang. Ia langsung melempar tas kerjanya dan menghampiriku yang masih tiduran di sofa.


“Sayang, apa yang kamu rasain?” tanya Arsen yang terlihat panik.


“Nggak terlalu sakit kok, tapi aku ngantuk banget,” jawabku jujur. Aku hanya merasa pegal-pegal saja dan tidak nyaman di perutku.


“Kita ke rumah sakit sekarang ya!” ajak Arsen yang kebingungan sambil mengusap-usap perutku.


“Nanti aja, aku belum ngeluarin tanda-tanda melahirkan,” tolakku.


Arsen yang tadinya berjongkok, lalu naik ke sofa dan memijat kakiku.


“Gimana ini Oma?” tanya Arsen.


Oma yang sedari tadi mondar-mandir juga terlihat resah.


“Oma udah telepon Ardy sama Sabrina, oma juga bingung sebenarnya.”


“Aku mau tidur di kamar aja ya.” Aku bangun lalu Arsen menuntunku setelah mendapat persetujuan dari Oma.


Sesampainya di kamar, Arsen dengan setia menemani dan memijat kakiku, terkadang ia mengusap-usap punggungku yang memang terasa pegal-pegal. Sementara Oma, kulihat nenek kesayanganku itu sedang mengecek perlengkapan yang akan kubawa ke rumah sakit. Padahal seminggu lalu sudah dicek oleh Om sendiri.


“Kimmora.” Mama masuk ke kamarku yang memang tidak tertutup.


“Mama, Papa mana?” tanyaku saat Mama naik ke ranjangku.

__ADS_1


“Papamu ke kamar mandi, dari pagi bolak-balik terus, entah apa yang dimakan tadi malam.”


“Sabrina, bujuk itu si Kikim supaya mau ke rumah sakit,” kata Oma.


“Ma, belum ada tanda-tanda mau melahirkan kok. Aku tu cuma pegel-pegel aja Ma, lagian HPL nya masih dua minggu. Oma aja yang terlalu panik. Lagian, kita belum sempet sahur, masak udah harus puasa. Ya kan Dad?”


“Sahurnya kita dua hari yang lalu, Sayang,” kata Arsen.


“Ya ampun, Kimminah! Sempet-sempetnya mikir gitu.” Oma mengomel sambil mendekat ke arahku.


“Oma, yang namanya melahirkan itu cutinya lama, mana ada orang yang kuat puasa empat puluh hari."


"Banyak Kim, tu papa mamamu, oma juga dulu. Oh iya, bisa aja nggak cuma empat puluh hari, bisa jadi enam puluh hari." Oma berkata dengan wajah tegang yang terlihat geram, lucu sekali pokoknya ekspresi Oma.


"Mama dulu waktu lahiran Kimmy juga enam puluh hari," sahut Mama yang membuatku dan Arsen saling bertatapan.


"Apanya Ma yang enam puluh hari?" tanya Papa yang tiba-tiba sudah berada di kamarku.


"Puasanya Pa," jawab Mama.


"Oh, iya waktu Darren dulu nggak selama Kimmy kayaknya, ya Ma?"


Duh, tahan nggak ya, kalau sampai selama itu.


"Aku mau ke toilet." Aku berusaha bangun, dan dengan sigap Arsen membantuku.

__ADS_1


“Hati-hati!”


Arsen mengantarku sampai di kamar mandi, ia juga ikut masuk menemaniku yang ingin buang air kecil. Ternyata, ada lendir yang bercampur darah di CD yang kupakai.


“Dad, kayaknya aku beneran mau lahiran deh,” kataku.


“Ya-yaudah, kita, em … kita ke rumah sakit sekarang!” Arsen membantuku berjalan keluar kamar mandi, rasanya seperti kram yang cukup menyiksa sampai berjalan pun rasanya sakit.


“Oma, Pa, Ma, kayaknya Kimmy mau lahiran, udah ngeluarin tanda-tanda soalnya,” kata Arsen setelah kami keluar kamar mandi.


“Papa panggil sopir ya.”


“Ma, tolong bawa ponsel sama tas aku ya, make up ku jua,” ucapku pada Mama yang ikut panik.


“Sempet-sempetnya mikirin muka.” Oma sudah menenteng perlengkapan yang akan dibutuhkan di rumah sakit nanti.


“Oma, aku kan mau cantik pas ketemu anakku.” Rasa sakit yang tadinya cukup menyiksa, tiba-tiba mulai hilang. “Dad, udah nggak sakit ini, kita ke rumah sakit nanti aja ya.”


“Walaupun rasa sakitnya hilang, kita tetap ke rumah sakit, kita cek kondisi kamu sama anak kita.”


♥️♥️♥️


...Bener Oppa, aku dukung. Kalau Kikim bandel gendong aja, eh kuat nggak ya gendong ibu² hamil 🤭🤭🤭...


Hari ini aku doble up, tapi janji bab ini harus dapat like dan komen sama kayak bab berikutnya. Oke.

__ADS_1


__ADS_2