Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 97


__ADS_3

Harta memang tidak dibawa mati, tapi dengan harta yang banyak seisi dunia bisa mudah dibeli. Mungkin sebagian orang berpikir begitu, dan sepertinya Om Doni juga memiliki pemikiran itu.


Salah Almarhum Kakek juga yang membagikan peninggalannya secara tidak adil. Kakek meninggal saat aku masih hamil muda, dan Yumna juga masih hamil saat itu. Seharusnya, Kakek tidak perlu memberikan dua puluh persen hartanya untuk cicit laki-laki pertama, karena kita tidak bisa merencanakan akan memiliki anak laki-laki atau perempuan.


Kalau seandainya aku dan Yumna melahirkan anak-anak perempuan, begitu pula dengan Dera, lalu siapa yang akan menerima dua puluh persen itu. Bukankah itu namanya tidak adil? Membedakan gender antara cicit laki-laki dan perempuan, untuk apa?


"Pa, kalau masalah Om Doni karena harta warisan, aku yakin Xavier tidak akan membutuhkan itu. Lebih baik, apa yang aku dan Xavier peroleh dibagi rata untuk anak-anak Dion dan Dera. Kamu setuju 'kan, Sayang?" tanya Arsen yang kini menatapku.


Demi apapun, tatapan Arsen tidak pernah berubah, masih hangat dan penuh cinta ketika ia menatap mataku.


"Iya, Dad. Aku yakin Xavier nggak akan kekurangan kok kalau kita kembalikan semuanya. Aku juga masih simpan semua yang kamu dapat dari sana. Masih utuh semuanya," jawabku dengan sangat yakin.


Selama ini, kami mendapat beberapa persen dari keuntungan bisnis yang memang Arsen dan Dion kelola, tetapi aku memisahkan semua pendapatan kami. Dari kafe milik kami sendiri, dari perusahaan Papa, dari bisnis keluarga Mahendra, dan dari kafe dan restoran milik keluarga Mama yang kami kelola juga aku memisahkan semuanya.


"Apa kalian tidak pernah menggunakannya?" tanya Papa Raffi.

__ADS_1


"Tidak Pa, selama ini hanya memakai tabungan selama aku kerja dengan Papa Ardy di Jepang. Waktu masih kuliah, aku dan Kak Darren sudah bermain saham dan itu juga menghasilkan. Kami hanya memakai uang kami sendiri," jawab Arsen.


"Tapi itu semuaadalah hak kamu Arsen, kamu anak papa, apa kamu menolak semua pmberian keluarga papa?"


"Nggak gitu, Pa. Aku bantuin Papa dan Papa Ardy itu ikhlas, bukan karena uang atau apa pun. Aku lebih suka hidup sederhana, dan itu yang aku ajarkan untuk anak istriku," jelas Arsen.


Semua terdiam, Papa, Papa Raffi, Kak Darren, dan Kak Zayn juga terdiam.


Karena Xavier sudah selesai makan, aku mengajaknya menjauh dari pembicaraan orang tua yang tidak bagus untuk perkembangannya.


"Menurutmu, apa Dion juga terlibat?" tanyaku pada Dera yag saat ini ada di taman belakang bersamaku, Mama dan Nana mengajak Xavier untuk bermain di atas rumput yang meang kami tanam di taman itu.


"Aku nggak tahu, sih. Setahuku kalau Kak Dion nggak mungkin sekejam itu, tapi manusia bisa berubah, aku nggak tahu, Kim," jawabnya.


Benar juga, manusia bisa berubah, semoga saja Dion tidak terlibat yng akan membuat keadaan semakin keruh.

__ADS_1


"Udah berapa minggu sekarang?" tanyaku mengalihkan pembahasan.


"Ini udah sepuluh minggu, dan prediksinya kembar," jawab Dera sambil mengusap perutnya.


"Wah kembar, selamat ya langsung dikasih dua. Aku juga belum periksa lagi, masih ribet ngurus Xavier dan daddynya." Pandangan mataku menatap Xavier yang tertawa bermain dengan Nana dan Mama.


"Sabar ya, Kak Arsen pasti sembuh. Masalah Om Doni, biar papa yang urus, kamu jangan pikirin."


Aku mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Dera, saat ini aku harus fokus dengan Arsen, Xavier dan juga janin yang sedang aku kandung.


❀❀❀


Selamat siang gaes, minta jempolnya aja deh aku. Nggak mau minta lebih 🀭🀭


Aku up dikit, tapi aku up lagi 1 bab setelah ini ya, tapi please tolong di like dan komen juga bab ini 😍😍

__ADS_1


__ADS_2