Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 23


__ADS_3

POV ARSEN


Setelah berdamai dengan Kaisar yang terang-terangan menyukai istriku, aku dan Kimmy berpamitan pada Pak Raffi yang sudah mendamaikan kami. Ya, dia ayah kandungku.


Saat kami sudah berdiri untuk berpamitan, laki-laki itu mencegah kami. Dia bahkan menanyakan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.


“Bagaimana perasaan kamu kalau ternyata kamu adalah anak saya?” Laki-laki yang menjadi ayah kandungku itu memegang pundakku yang lebih tinggi darinya. Mata tua itu mulai berkaca-kaca, tapi aku segera membuang pandangan, tak ingin bertemu dengan iris mata yang sama denganku.


“Saya tidak tahu, karena selama ini saya tetap hidup dengan bahagia bersama orang-orang yang saya sayangi. Bagi saya, ayah saya tetaplah Pak Aji,” jawabku.


Sebenarnya aku tidak tega mengatakannya, tapi bagaimanapun Pak Raffi sudah bahagia dengan keluarganya. Lagipula dengan atau tanpanya, hidupku baik-baik saja.


"Maafkan papa Raffa. Papa terlambat mengetahui kebenarannya.” Pak Raffi mulai menyeka air matanya. “Sabrina sudah menceritakan semuanya tadi.” Laki-laki itu menundukkan kepala, sepertinya kali ini dia benar-benar menangis.


“Lalu, apa yang Anda inginkan sekarang? Tidak bisakah kita menjalani kehidupan seperti biasa meskipun kita sama-sama tahu kenyataannya?" tanyaku. Bagiku tidak ada yang berubah meskipun dia ayah kandungku atau tidak. Aku sudah nyaman dengan hidup sebagai Arsen anak Pak Aji.


“Tidak Raffa, kamu adalah putra papa, papa akan mengaku pada dunia bahwa kamu adalah anak kandung papa," jawab Pak Raffi.


“Maaf, Pak Raffi, tapi saya tidak ingin dikenal karena orang lain. Saya lebih suka sukses dan dikenal karena kerja keras saya sendiri.”


Aku bukan laki-laki yang suka memanfaatkan keadaan. Lagi pula keluarga Pak Raffi belum tentu menerimaku, apalagi mereka sudah membuang ibu kandungku, sampai akhir hayatnya pun mereka tidak peduli dengan ibuku.


“Apa kamu membenci papa?” tanya Pak Raffi yang kini menatapku.

__ADS_1


Aku diam sejenak, meyakinkan hati kecilku tentang perasaanku yang sesungguhnya. “Tidak, untuk apa? Saya hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama istri dan anak-anak saya nanti.”


Tiba-tiba laki-laki itu memelukku. “Maafkan Papa, Papa memang sangat bersalah sama kamu.”


“Tolong hentikan Pak Raffi.” Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi dia seperti anak kecil yang merengek minta mainan, ia semakin memelukku dengan erat.


“Tidak Raffa, papa sangat menyesal. Apa yang bisa papa lakukan untuk menebus semua kesalahan papa?”


Aku bingung harus bagaimana sekarang? Aku menatap Kimmy, wanita yang selalu menjadi kekuatanku. Dia mengangguk seakan mengatakan kalau aku harus memaafkan ayah kandungku.


"Saya sudah memaafkan Pak Raffi, tolong jangan bersikap seperti ini."


Akhirnya Pak Raffi melepaskan pelukannya, dan menyeka air matanya.


Aku mengangguk, lalu dia menangis dan kembali menepuk pundakku.


"Papa bangga sama kamu Raffa, sangat bangga. Terima kasih sudah mau memaafkan Papa," kata Pak Raffi.


Belum sempat aku membalas ucapannya, seseorang membuka pintu kamar hotel ini.


"Pa, ada apa? Mama tunggu dari tadi," kata wanita yang sepertinya istri Pak Raffi.


"Dia putraku, Ma. Anakku dan Aliya," kata Pak Raffi yang kemudian memeluk istrinya.

__ADS_1


Setelahnya suasana menjadi hening. Kimmy kembali menggenggam tanganku. Di saat seperti ini, kehadiran Kimmy benar-benar memberi kekuatan untukku.


Tiba-tiba wanita itu mendekatiku. "Jadi, kamu anak suamiku? Berarti kamu juga anakku kan?" kata istri Pak Raffi, benar-benar di luar dugaanku. Aku pikir wanita itu akan menamparku.


Aku mengangguk pelan, dan wanita itu malah menyentuh wajahku.


"Aku sangat terkejut dengan berita ini," kata wanita itu dengan tangan bergetar yang terus menyentuh wajahku.


Aku pikir, sebentar lagi wanita ini akan menamparku.


"Kamu tahu, dulu setelah kelahiran Dera, papamu sangat menginginkan seorang putra. Meski sudah berusaha dan akhirnya Tuhan tidak mengizinkanku untuk mengandung lagi, tapi aku selalu berdoa semoga suatu hari nanti kami mendapatkan putra, dan sekarang aku merasa bahwa kamu adalah jawaban dari doaku dulu." Wanita itu lalu memelukku. Ia menangis tersedu-sedu di dadaku.


Sungguh, ini semua di luar dugaanku. Aku tidak menyangka jika reaksinya akan seperti ini.


Dari tubuh wanita ini, aku merasakan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu, sama seperti yang aku rasakan setiap kali ibuku memelukku.


🌹🌹🌹


Gimana gimana pemirsah?


Hari senin gengs, udah dapat vote kan?? Sini bagiin ke aku 😂😂😂


Ritual jejaknya jangan lupa.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😘😘😘


__ADS_2