Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 12


__ADS_3

Arsen masih terlihat kesal setelah Pak Aji menyebutkan nama ayah kandungnya. Berkali-kali ia mere*mas lututnya, membuatku tak tahan dan menarik tangan Arsen untuk kugenggam.


"Maksud Bapak gimana?"


Pak Aji mengembuskan napas berat, wajah tua yang disertai keriput itu tampak mengerutkan dahinya.


"Jadi, waktu Pak Rafi meninggalkan Aliya, mama kamu, saat itu dia tidak tahu kalau Aliya sedang hamil. Aliya juga tidak pernah mencari atau menghubunginya setelah tahu hamil. Entah permainan takdir atau bagaimana, secara kebetulan sekali, mereka bertemu di rumah sakit saat Aliya memeriksakan kehamilannya yang berisiko. Pak Raffi jadi tahu kalau Aliya hamil, tapi Aliya bilang ke Pak Raffi kalau dia sudah menikah lagi." Pak Aji akhirnya membuka kisah masa lalu kedua orang tua Arsen.


"Dan laki-laki itu tidak mencari tahu lagi kebenarannya, kan?"


"Setelah bertemu Pak Raffi, Aliya menghubungi Nyonya Sabrina, untuk menyembunyikannya sementara waktu. Kebetulan bapak yang menjaga Aliya, karena pesan nenek kamu. Sampai akhirnya, setelah Aliya meninggal, bapak bawa kamu kembali ke kampung, dan akhirnya bapak bekerja dengan Nyonya Sabrina dan Pak Ardy." Pak Aji terlihat sangat sedih saat menceritakan masa lalu adiknya.


Arsen menundukkan kepalanya, ia pasti sangat sedih mendengar fakta tentang hidupnya. Aku mengusap lengan kekar Arsen untuk memberi dukungan padanya. Arsen membalasnya dengan menggenggam tanganku yang memegang tangannya.


"Lalu, apa sekarang dia sudah tahu kalau aku  adalah anaknya?"


"Belum, kemarin Pak Ardy cuma bilang ke Pak Raffi kalau anaknya Aliya sudah sukses. Lalu, Pak Raffi memaksa bapak untuk memberitahu apakah itu anaknya, bapak bilang nggak tahu, biar Pak Raffi sendiri yang cari tahu. Maafkan bapak Arsen, harusnya bapak langsung jawab saja kalau kamu bukan anaknya," kata Pak Aji yang terlihat menyesal.


Arsen melepaskan tanganku lalu ganti memegang tangan tua Pak Aji. "Tidak apa-apa, Pak. Semua sudah ditakdirkan, kalau pun nanti dia berhasil menemukan ku, berarti memang sudah takdirnya begitu."


***

__ADS_1


Aku dan Arsen sudah ada di kamar setelah berbincang serius dengan Pak Aji tadi. Arsen hanya berbaring dengan kedua tangan dilipat menutup matanya.


Aku berinisiatif untuk memijat kakinya. Diam saja sampai Arsen berbicara dengan sendirinya.


Beberapa menit berlalu, ia hanya diam, tapi aku tahu Arsen tidak tidur, dan aku masih memijat kakinya. Aku tidak tahan lagi, aku naik dan menyandarkan kepala di dada Arsen.


"Sayang, aku nggak apa-apa kok." Arsen mengusap kepalaku lalu mengangkatnya untuk berbaring di sampingnya.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk menghiburmu?" tanyaku sambil mengusap pipinya.


"Nggak ada, Sayang. Aku cuma lagi mikir aja, kalau nanti kita punya anak, jangan sampai dia ngerasain apa yang aku rasakan saat ini." Arsen membelai rambutku, dan memaksakan senyumannya.


Aku jadi kepikiran soal anak, aku ingin membahagiakan Arsen dengan kehadiran anak, mungkin ini saat yang tepat untuk bicara dengannya.


"Apa kamu yakin?" tanya Arsen dengan wajah seriusnya.


"Yakin banget," jawabku mantap. Aku sudah memikirkan ini berkali-kali.


"Kuliah kamu gimana, Sayang?" Arsen terlihat ragu dengan keputusanku.


"Kan aku punya suami yang super pinter, kalau pun nanti harus cuti, aku masih tetep bisa lanjutin lagi, Oppa."

__ADS_1


"Hmm. Baiklah, aku juga udah nggak sabar lihat gimana lucunya anak kita."


"Yang pasti, anak kita akan cantik dan ganteng."


"Karena ibunya sangat cantik."


"Karena ayahnya juga ganteng."


🌹🌹🌹


...Nah kira-kira cantik apa ganteng?...


Maaf telat ya, kemarin aku udah bilang kan?


Kok dikit sih??


Iya, dikit-dikit tiap hari up, daripada banyak² tapi seminggu sekali 🤭🤭🤭


Lagian, aku dari awal itu bikin partnya emang pendek² gaess..


Mungkin kalian terlalu pengen cepet² ending 🤭🤭🤭

__ADS_1


Oke, jangan lupa ritualnya.


Sampai jumpa lagi 🥳🥳🥳


__ADS_2