Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 33


__ADS_3

Sesampainya di toilet, aku langsung memuntahkan semua yang ada di perutku. Sepertinya aku masuk angin. Mungkin karena terlalu lelah di pesta dan Arsen juga tidak membiarkanku istirahat, aku jadi tidak enak badan begini.


Arsen menyusulku ke toilet, ia memijat tengkuk dan pundakku. Arsen juga mengoleskan minyak angin yang diberikan pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah ini.


"Kita pulang ya, istirahat dulu. Nanti sore kita kan mau pergi honeymoon," kata Arsen sambil terus memijatku.


Aku mengangguk, karena perutku sudah tidak mual lagi, mungkin karena semua isi perutku sudah keluar, dan bau durian itu sudah tidak lagi tercium.


Setelah berpamitan dengan keluarga Mahendra, aku dan Arsen langsung pulang ke rumah Papa, dan aku sudah kembali normal lagi.


Sesampainya di rumah Papa, aku bersandar di sofa ruang keluarga, sedangkan Arsen membuatkan minum untukku.


"Kamu kenapa?" tanya Kak Darren yang kini sudah bisa berjalan dengan tongkat.


"Nggak kenapa-napa kok Kak, cuma masuk angin sama kecapean aja kayaknya," jawabku sambil memejamkan mata.


"Kecapean? Bukannya nanti sore kamu berangkat ke Bali ya?" tanya Kak Darren sambil memegang dahi dan pipiku. "Nggak panas sih."


"Cuma masuk angin Kak." Aku menepis tangan Kak Darren dari wajahku.


"Sensi amat."


Aku membuka mata dan mencebik pada Kak Darren. Entah mengapa suasana hatiku jadi tidak enak begini.


"Sayang, ini tehnya." Arsen menyodorkan secangkir teh yang langsung kuminum untuk menghangatkan perutku.

__ADS_1


"Semalam lembur nih kayaknya," kata Kak Darren saat Arsen duduk di samping kananku. Sedangkan Kak Darren sedari tadi duduk di sebelah kiriku.


"Kalau udah ngerasain enak emang susah berhenti," kata Arsen yang kini tertawa.


"Tapi jangan bikin adikku sakit dong." Kak Darren ikut tertawa. Dasar laki-laki mengghibahkan sesuatu yang tidak ada faedahnya.


"Aku kan lagi usaha Kak, semakin banyak usahanya semakin besar peluangnya," balas Arsen yang kemudian meletakkan cangkir tehku ke atas meja, lalu ia menarikku ke dalam pelukannya.


Aku menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arsen, seperti biasanya akau sangat menyukai aroma maskulin ini, tapi kali ini rasanya ingin lebih, lebih, dan lebih menikmatinya, sampai tanpa sadar aku membuka kancing baju Arsen bagian atas, lalu menghisapnya kuat-kuat.


Arsen membalas dengan mengusap-usap rambutku, aku yakin Kak Darren tidak sadar dengan apa yang aku lakukan pada Arsen, karena sedari tadi mereka terus saja mengobrol dan tertawa. Arsen seolah sedang memamerkan betapa kuat dan perka*sanya dia yang bertahan lama, dan Kak Darren terdengar semakin penasaran dengan apa yang diceritakan Arsen. Mereka benar-benar membahas sesuatu yang tidak penting.


Arsen memijat pundakku, dan terus bercerita, sedangkan aku masih setia menghirup aroma tubuhnya, sampai-sampai aku merasa semakin mengantuk dan gelap.


Aku terbangun di kamarku sendiri, perasaan tadi aku tidur di bawah sambil mendengar ocehan tidak berfaedah dua laki-laki yang kusayangi itu. Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini? Apa Arsen kembali menggendongku sampai ke kamar?


Aku bangun dari kasur dan mencari-cari suamiku, rasanya aku tidak ingin lama-lama jauh darinya.


Aku mencarinya di kamar mandi, dan ternyata Arsen sedang ada di dalam sana. Lega rasanya, aku kira dia sudah terbang ke Bali. Mana mungkin sih, ngaco banget pikiranku!


Aku menunggu Arsen tanpa mengetuk pintunya. Cukup lama sampai Arsen membuka pintu dan terkejut melihatku ada di depan pintu. Saking terkejutnya, ia sampai bersandar pada dinding.


"Kamu ngapain di sini, Sayang?" tanya Arsen yang kini mendekat dan mengusap kepalaku.


"Kamu mandinya lama." Aku memeluknya yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya.

__ADS_1


Arsen tertawa, mungkin tingkahku ini aneh baginya. Namun ia membalas dengan memelukku erat. Aroma sabun mandi yang harum mengalahkan aroma tubuh Arsen, tapi aku lebih suka aroma alami tubuhnya daripada aroma sabun ini.


Tetesan air berjatuhan dari ujung rambutnya, aku mengusapnya dengan tangan lalu kembali menghisapnya kuat.


"Kamu kenapa sih Sayang? Manja banget, aku jadi nggak tahan," bisik Arsen.


"Yaudah ayok." Aku mengalungkan tanganku di leher Arsen, bergelayut manja pada tubuh Arsen yang hanya tertutup handuk.


Arsen menggaruk lehernya, dan tersenyum. "Sekarang?"


Aku mengangguk mantap. Rasanya aku benar-benar ingin melakukannya sekarang, apalagi wajah Arsen, tubuh dan semua yang ada padanya membuatku sangat-sangat ingin bersatu dengannya.


"Kita harus siap-siap, Sayang. Nanti kalau udah sampai di Bali ya," jawab Arsen yang berusaha melepaskan tubuhku darinya.


Mendapat penolakan dari Arsen, aku menjadi kesal, dan langsung melepaskan tanganku dari lehernya. Berjalan mengambil handuk, dan langsung masuk ke kamar mandi, sebelum itu aku sengaja menabrak tubuhnya, lalu membanting pintu dengan keras.


"Dasar tidak peka, masa main bentar aja nggak mau. Awas aja nanti kalau di sana dia minta, aku nggak akan kasih."


♥️♥️♥️


...Dih mbak Kikim nap*su amat. Sabar dong, daripada ketinggalan pesawat, kan jadi beli lagi. Ngabisin duit tau Kim....


Hayoo, udah pada nebak kikim hamil, sabar aku bocorin rahasianya, kita tesnya setelah honeymoon 😅😅😅


Oke, jangan lupa ritualnya. Yang belum kasih vote, sini kasih aku.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😊😊


__ADS_2