Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 53


__ADS_3

Setelah selesai kelas dari dosen berjuluk ‘Dosen Gila’ itu, aku dan Nana pergi ke kantin. Tak lupa aku mengabari Arsen juga untuk bertemu di kantin, rasanya sudah rindu dengan senyumannya.


Ditemani sebotol teh madu dan juga kacang bergambar burung, aku duduk di kantin bersama Nana yang menyeruput jus buah apel dalam kemasan.


Arsen datang menghampiri kami yang masih membicarakan hubungan antara dosen kami dan juga laki-laki mesum itu.


“Ngobrolin apa?” tanya Arsen yang memilih duduk di samping kananku.


“Itu, si Dosen Gila, Miss Kia. Kayaknya dia ada hubungan sama Kenneth,” ucapku pada Arsen.


Nana yang duduk di hadapanku menginjak sepatuku, membuatku menatapnya bingung. Nana memberikan kode lewat lirikan matanya pada Arsen. Yang aku artikan, Nana sedang mengingatkanku bahwa ada Arsen yang mungkin marah mendengar nama Kenneth.


Aku yang mulai sadar dengan kata-kataku seketika langsung menutup mulut dengan kedua tanganku.


“Maaf.” Aku menyentuh tangan Arsen dan menggenggamnya.


Arsen tersenyum, wajahnya terlihat biasa saja, tidak ada tanda-tanda dia akan marah.


“Kenapa? Bagus dong kalau dia ada hubungan sama Miss Kia, dia tidak akan mendekatimu, ‘kan?” kata Arsen yang juga balas menggenggam tanganku.


Aku tidak akan megatakan pada Arsen apa yang Kenneth katakan sampai membuatku marah dan menamparnya tadi. Kalau Arsen tahu, mungkin dia dan Kenneth akan berantem, dan aku tidak ingin dia babak belur seperti waktu ia dihajar Dion.


“Kenneth itu breng**sek, Kak. Kak Arsen tahu nggak, Kenneth bilang apa ke Kimmy?” kata Nana yang sepertinya ingin mengungkapkan apa yang terjadi antara aku dan Kennteh sebelum masuk kelas tadi.


Daripada Nana membuat masalah antara aku dan Arsen, aku injak saja kakinya.


“Apa sih?” bisik Nana sambil mengerutkan alisnya.


Aku memelototinya, berharap Nana akan berhenti mengatakan hal yang bisa membuat Arsen salah paham.


“Ada apa?” tanya Arsen yang pasti bingung dengan tingkahku dan Nana.


“Nggak ada apa-apa kok, Nana salah ngomong aja,” kataku. “Kamu kapan libur, biar kita bisa ke dokter?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


“Kalau hari ini aku nggak bisa, tiga hari lagi deh, aku usahain,” jawab Arsen.


Laki-laki itu mengupaskan kulit kacang, lalu menyuapkannya padaku.


“Kalau gitu, nanti aku cari referensi dulu deh dokter yang bagus, biar benar-benar berhasil.” Aku balas menyuapinya, rasanya benar-benar bahagia bisa bermesraan dengan Arsen seperti saat ini.


"Kalian mau ngapain pakai ke dokter segala?" tanya Nana yang seketika mengganggu kemesraan kami.


Aku dan Arsen saling menatap, bingung akan menjawab apa pada Nana yang belum mengetahui pernikahan kami.


"Kimminah!" teriak Nana saat aku dan Arsen hanya saling menatap tanpa menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Em, aku lagi cari dokter kecantikan," jawabku tanpa pikir panjang.


Nana masih menatapku curiga, aku jadi ingat, kami mempunyai langganan klinik kecantikan yang sama, pasti dia akan bertanya-tanya.


"Kenapa harus ke dokter lain? Kita kan biasa ke klinik Dokter Rissa," kata Nana.


Benar, aku tidak akan bisa berbohong dengan sahabatku ini.


"Em, bukan buat aku, tapi buat Arsen," sahutku.


"Aku?" Arsen menatapku bingung.


Aku berkedip-kedip padanya, memberikan kode pada Arsen untuk mengiyakan apa yang aku katakan.


"Iya, kamu katanya suka jerawatan." Aku terrsenyum, sambil mengusap-usap tangan Arsen.


Sementara Nana semakin terlihat bingung. Gadis berisik itu pasti tengah menyusun banyak pertanyaan yang akan dilontarkan padaku saat Arsen tak bersama kami.


"Kimmy, Kak Arsen, aku ke perpus bentar ya, ada buku yang mau aku pinjem." Nana berdiri lalu meninggalkan aku dan Arsen.


Si Nana pasti sedang menyusun pertanyaan sebelum menginterogasiku nanti. Ah, aku harus menyusun cerita yang bagus supaya dia tidak curiga.


"Kamu nggak ikut Nana?" tanya Arsen.


Aku hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala. Biarlah Nana pergi, aku kan jadi bisa berduaan dengan Arsen.


"Kalau ini bukan tempat umum, udah kucium itu bibir." Arsen memencet hidungku lalu menariknya pelan.


"Arsen ih." Aku memukul tangannya agar lepas dari hidungku.


"Lama-lama aku bisa kenak diabetes deh, kamu manis banget" kata Arsen yang membuatku tersipu.


"Gombal aja."


"Nanti malam lagi ya," kata Arsen.


Aku tahu apa yang dia maksud, semenjak merasakan nikmat itu, aku dan Arsen memang sedang menggebu-gebu ingin melakukannya setiap hari. Bahkan tadi malam, saat aku ketiduran karena lelah menunggunya, ia justru membangunkanku secara paksa dengan menyusup masuk ke dalam kausku, sampai akhirnya kami bermain itu. Benar-benar gila rasanya.


"Asal jangan lupa pakai pengaman," ucapku.


Arsen menunduk, aku tahu dia benar-benar terpaksa setiap kali harus memakai pengaman, tapi mau bagaimana lagi aku benar-benar belum siap untuk hamil.


"Ya, baiklah." Arsen kembali menatapku.


Aku melihat Dion yang kini sedang melihat ke arah kami, aku tahu hubungan Dion dan Arsen hancur karena aku.

__ADS_1


"Kak Dion." Aku berdiri untuk memanggilnya.


Dion seperti enggan menatapku, tapi sekali lagi aku memanggilnya. Mau tidak mau akhirnya Dion menghampiri kami.


"Ada apa?" tanya Dion.


"Duduk dulu Kak, kita bisa ngobrol-ngobrol dulu, 'kan?" Aku kembali duduk.


Dion akhirnya duduk di sebalah kiriku, berhadapan langsung dengan Arsen yang  mulai melepas tanganku.


"Lo apa kabar?" tanya Arsen.


"Gue baik," jawab Dion.


Suasana berubah menjadi canggung, tapi mau bagaimana lagi, aku harus membuat mereka kembali berteman.


"Kak Dion, maafin aku." Aku menatap mata laki-laki imut itu yang pernah membuat hari-hariku berwarna.


Dion balas menatapku, hanya sebentar lalu melihat Arsen.


"Udah lupakan aja," kata Dion.


"Maafin gue juga, nggak bisa jujur sama lo." Arsen juga meminta maaf.


"Gue juga minta maaf sama lo Arsen, persahabatan kita nggak selemah ini, 'kan?" tanya Dion.


Aku melihat dua laki-laki tampan itu bergantian, mereka akhirnya sama-sama tersenyum. Lalu, saling berjabat tangan.


Rasanya, aku benar-benar lega bisa melihat mereka kembali tersenyum, dan salah paham ini tidak berlarut-larut. Aku tahu Dion sangat berjiwa besar, aku tidak menyesal pernah menjadi kekasihnya, karena saat itu, aku memang belum mencintai Arsen.


"Semoga Kak Dion bisa mendapat wanita yang benar-benar baik, ya," kataku.


"Iya, dan kamu juga berhenti bermain-main, Arsen sudah sempurna untukmu jangan sakiti dia lagi."


Aku tersenyum, benar apa yang dikatakan Dion, Arsen sudah sangat sempurna untukku, dan aku tidak akan menyakitinya lagi.


"Apa Yumna juga tahu kalian sudah menikah?" tanya Dion yang membuatku dan Arsen saling bertatapan mata.


🌹🌹🌹


Belum lah, Nana aja belum tahu kok 😅😅😅


Hai hai, aku doble up nih, nggak ada yang nanyain, oh… yaudah kalau gitu 🙈🙈


Ritual Jejaknya jangan lupa, seperti biasa. Like, Komen, Hadiah, dan Vote.

__ADS_1


Sampai ketemu besok 👋👋👋


__ADS_2