
Setelah drama Xavier yang buang air waktu di supermarket, akhirnya aku dan Arsen memutuskan untuk langsung pulang. Oma sudah berpesan untuk pulang sebelum magrib.
Saat kami sampai di rumah, ada mobil Papa yang terparkir di garasi. Sepertinya Papa dan Mama datang untuk menengok Xavier.
"Kayaknya Papa sama Mama di dalam," kata Arsen setelah memarkir mobilnya di samping mobil Papa.
"Sepertinya sih gitu." Aku membuka pintu mobil, sedangkan Arsen berjalan cepat untuk membantuku turun dari mobil.
"Xavier, seneng nggak habis jalan-jalan? Besok-besok kalau keluar jangan pup dong, bisa pingsan nyium baunya," kata Arsen sebelum akhirnya menghujani Xavier dengan ciuman bertubi-tubi.
Kami bertiga pun masuk ke rumah, diikuti Pak Joko yang membantu membawakan barang belanjaan ke dalam rumah.
Papa dan Mama sedang minum teh bersama Oma di ruang tengah. Mama langsung berdiri ingin merebut Xavier.
"Uluh-uluh, cucunya oma ganteng gini dari mana?" tanya Mama yang membuat Xavier tertawa-tawa.
"Dari shopping dong Oma, aku tadi pup di supermarket loh." Aku yang menyahut, tidak mungkin 'kan Xavier yang bisa menjawab pertanyaan mamaku itu.
Aku memindahkan Xavier untuk digendong Mama, lalu Papa juga ikut mendekati Xavier.
"Oh ya. Wah cucu opa bikin Mommy sama Daddy kerepotan nih kayaknya," kata Papa, mencium pipi Xavier yang memang gembul.
"Mama nanti nginep sini, Xavier biar sama mama papa ya," kata Mama yang memandangku dan Arsen secara bergantian.
"Xavier kan masih tidur sama aku, Ma. Nanti kalau rewel gimana?" tanyaku keberatan, tapi Asen yang duduk di sebelahku malah menjawil pinggangku. "Kenapa sih?" Aku menoleh pada Arsen.
__ADS_1
"Ini kesempatan buat kita," bisiknya sambil senyum-senyum.
Aku hanya geleng-geleng kepala dan lebih memilih fokus memperhatikan gerak-gerik Xavier.
"Kalau nanti rewel ya mama balikin, udah deh nggak akan rewel kok dia," jawab Mama dengan santainya.
"Mommy sama Daddy jadi punya kesempatan buat mesrah-mesrahan, iya 'kan Arsen?" sindir Papa.
Arsen cengar-cengir menanggapi ocehan Papa. "Waktunya buka puasa, Pa," jawabnya tanpa malu-malu, lalu merangkul pinggangku.
*
*
*
"Udah nggak apa-apa, nanti kalau nangis juga kedengeran kan," kata Arsen setelah menutup pintu. "Sekarang waktunya buat kita kangen-kangenan."
"Bayangin, kita pas lagi enak-enaknya, Xavier tiba-tiba nangis, gimana?" tanyaku yang membuat Arsen terlihat berpikir keras.
"Jadi gimana?"
"Aku ambil aja, aku nggak akan tenang kalau tidur tanpa Xavier." Aku berjalan menuju pintu, keluar dan berjalan lagi menuju kamar tamu. Ternyata, Xavier sedang menangis.
"Ma, Mama." Aku mengetuk pintu lebih keras, yang tidak lama Papa datang membukakan pintu. "Nangis kan?"
__ADS_1
Aku menyelonong begitu saja, lalu mengambil alih Xavier dari gendongan Mama.
"Baru mama taruh di kasur udah nangis," kata Mama.
Akhirnya, aku membawa Xavier kembali ke kamarku. Rasanya lebih tenang hatiku saat melihat anakku ada di depan mata. Setelah menyu*su, Xavier pun terlelap dalam tidurnya.
"Sayang, Xavier udah tidur kan?" tanya Arsen sambil berbisik.
"Iya, tapi jangan berisik biar nggak bangun," jawabku yang juga berbisik.
Arsen pindah tidur di belakangku, menggantikan tempatnya dengan guling, lalu memelukku dengan erat.
"Ayo kita berbuka!" Arsen membalik tubuhku supaya bisa menghadapnya, membelakangi Xavier yang lelap.
"Doa dulu kalau mau buka," jawabku lalu mencium bibirnya.
Malam ini, aku dan Arsen kembali merasakan kenikmatan, Rasa takut saat memulainya, mengingatkanku dengan malam pertama kami. Malam saat aku kehilangan keperawananku empat tahun lalu.
♥️♥️♥️
...Cie cie, Daddy buka puasa ni ye....
Selamat sore, aku masih menyapa karena masih lanjut ceritanya.
Jangan lupa ritualnya, like, komen, hadiah, dan vote.
__ADS_1
Hari senin kan udah dapat vote gaess 😘😘