Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
Lamaran


__ADS_3

Makasih admin sudah berkenan menyetujui tulisan ini.


❤❤🌴


Selamat membaca


🌸🌸


Son sudah mengatur pertemuan Ammar dengan keluarga Pak Fasiol. Besok pagi jam delapan. Ammar sudah berada di ruang kerjanya sejak pukul tujuh. Masih sangat sepi. Karena memang jam kerja mulai pukul delapan. Ada beberapa berkas yang perlu ia tanda tangani. Sebelum ia meluncur ke rumah Ki. Ia tampak gugup, membayangkan pertemuan dengan perempuan yang sudah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Keringat dingin mulai membasahi lehernya. Padahal ruangannya ber AC. Bagaimana mungkin ia begitu nervous?


Sementara itu di rumah Pak Faisol nampak kesibukan sejak sebelum subuh. Istri Pak Faisol sedang menyiapkan hidangan istimewa untuk menyambut kedatangan Ammar, calon menantunya. Kirana membantu ibunya dengan cekatan. Ia telah biasa melakukan pekerjaan dapur sejak duduk di sekolah dasar. Kirana bukan tipe gadis manja. Biarpun ia anak tunggal keluarga ini.


Pajero black metalic memasuki pelataran rumah tanpa pagar. Biarpun kecil rumah bercat vanilla itu tampak asri karena ada beberapa pohon mangga. Bunga-bunga berjajar cantik di pot. Kirana sangat menyukai tanaman.


Pak Faisol segera mengabarkan pada istrinya kalau bosnya sudah datang. Istrinya sedang berada di kamar. Tanpa mengetuk pintu Pak Faisol langsung menekan handle dan mendapati istrinya sedang memoleskan lipstick merah menyala di bibirnya. Dengan balutan broklat warna senada yang masih baru selesei dijahit tadi malam. Mata Pak Faisol nanar menatap istrinya. Hati kecilnya mengatakan, kenapa istrinya begitu ganjen. Sementara itu istrinya senyum-senyum sambil memutar-mutar badannya di depan cermin. Ia takjub dengan penampilannya sendiri terlebih bisa membuat suaminya terpana.


Pak Faisol geleng-geleng kepala. bukan karena takjub. Tapi ada yang aneh yang ia rasakan pada diri istrinya.


“Buk! Bos Ammar ini mau melamar Kirana. Kenapa justru Ibu yang sibuk dandan begini? kata Pak Faisol agak kesal.


“Apa Bapak tidak suka Ibu tampil cantik? Kita kan mau kedatangan calon mantu.” Jawab istrinya sambil memoleskan blush on warna pink di pipinya.


Pak Faisol tidak menjawab. Sementara istrinya menyimpan wajah kesal.


“Mana Ki, Buk! Dia harus cepat-cepat. Bos Ammar tidak suka menunggu lama.” Pak Faisol sambil berlalu sebelum ia bertambah jengkel melihat dandanan istrinya.


“Biar ibu lihat di kamarnya.”


Istrinya beranjak dengan berat karena tidak mendapatkan pujian dari suaminya.


Pak Faisol segera menyambut bos Ammar di depan pintu sebelum dia turun dari mobil. Kali ini Ammar datang bersama manajer segala urusan. Siapa lagi kalau bukan Son.


Ibunya menatap Kirana sambil geleng-geleng kepala.


“Ohh..Ki, kamu cantik sekali, Nak. Pria manapun yang memandangmu pasti langsung jatuh hati padamu.”


“Ibu, ngomong apa sih.”


Ki tersipu mendapati pujian ibunya. Kali ini Ia mengenakan tunic warna kunyit polos selutut, bawahan celana jeans tidak terlalu ketat dan jilbab segi empat dengan bunga kecil warna senada. biarpun sederhana tapi elegan.

__ADS_1


Dengan anggun ibu dan anak ini melangkah menuju ruang tamu. Ki lebih banyak menundukan pandangan. Mengetahui kedatangan Ki, Ammar tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Namun ia harus menjaga wibawa sehingga tidak mau lama-lama memandangi makhluk Allah yang amat mempesona. Ia mengalihkan pandangan ke kaligrafi yang berada di depannya. Namun deburan di dadanya, hanya ia yang dapat merasakan.


Saat iris mereka bertemu tidak sengaja, serasa ada irama yang indah menyusup di dada Ammar. Mata Ki telah menyihirnya. Ammar tak kuasa.


Son pun tak kalah terpana. Ia baru pertama kali melihat Ki. Sikapnya yang biasanya cool dan cuek seketika luntur. Matanya tak berkedip, sementara mulutnya menganga. Mengetahui situasi sangat memalukan, Ammar menginjak kaki Son sampai ia tergagap.


Ki menelungkupkan tangannya di dada, sebagai penghormatan dan salam. Sejak setahun lalu Ki mulai aktif mengikuti kajian. Ia baru tahu kalau bersalaman dengan lelaki bukan muhrim itu haram. Oleh sebab itu ia tak ingin melakukannya. Kekaguman Ammar bertambah besar pada Ki.


‘udah cantik, sholehah pula. Tuhan sisain ini untukku saja.’ batinnya berbisik lembut.


Ammar dan Son pun melakukan hal yang sama. kedua laki-laki itu tampak begitu salah tingkah.


‘Ah, pengen aku halalin malam ini saja. Apa mungkin? Tapi bukankah ia sudah merencanakan kalau pernikahan akan dilaksanakan bulan ke depan.’ batinnya mulai menggelitik.


Tiba-tiba Ammar merasa khawatir kalau Son mulai tertarik dengan Ki. Ia tidak senang melihat cara Son menatap Ki.


‘Hmm..awas kalau dia berani macem-macem.’ Ammar memaki dalam hati.


“Baiklah kita mulai saja pembicaraan kita,” ucap Ammar memecah keheningan.


Pak Faisol dan istrinya sudah tidak sabar. Wajah suami istri itu terlihat berbunga-bunga. Sementara Ki hanya tertunduk menatap meja yang masih kosong. Ia teringat belum menyuguhkan hidangan pada tamunya ini.


“Maaf Ki pamit kebelakang dulu,” ucap gadis cantik bermata biru itu sambil menganggukkan kepala.


Tak lama kemudian kue-kue tradisional sudah mejeng cantik di atas meja. Ada kue kucur, lemper, lumpur dan pisang goreng.


“Ini yang buat Ki. Gimana rasanya Pak?”


“Hmm..ini kue terenak yang saya makan.” Ammar mulai nggombal.


Matanya sengaja melirik gadis di depannya. Kirana tampak malu dengan pujian yang berlebihan. Tak sengaja netra mereka bertemu untuk yang kedua kalinya. Ammar puas melihat senyum yang tertahan di bibir Kirana.


Sementara Pak Faisol dan istrinya saling pandang dengan wajah penuh kegembiraan.


Son membatin, sejak kapan bos mudanya ini pandai menggombal. Entah mengapa ia merasa tidak suka. Mungkinkah ia mulai cemburu?


‘Uhh! Son kesal tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah lumpur yang teksturnya lembek tapi lumer di mulut. Apalagi sambil memandangi wajah Ki, tak terasa tiga potong sudah masuk ke perutnya. Tangan Son sudah terangkat hendak mengambil sepotong kue kucur, Di sebelahnya Ammar melirik sambil berdehem. Sayangnya Son tak menyadari kode dari Ammar. Ia amat terpesona dengan Ki. Ammar begitu kesal dengan Son yang amat memalukan.


“Ki…apakah kamu bersedia menjadi istriku?” Tanya Ammar dengan suara bergetar.

__ADS_1


Kirana menunduk dan tidak langsung menjawab. Ibunya mulai gusar melihat reaksi putrinya hanya diam.


“Ki, sayang..bos Ammar bertanya, jawablah Nak. Kamu bersedia kan? Tidak ada yang memaksamu.” Ucap ibunya penuh khawatir kalau putrinya berubah pikiran.


“Ki..pikirkan masa depanmu,” bisiknya lirih di telingan Ki. Hanya mereka berdua dan Tuhan yang mendengar saking pelannya.


Wajah Pak Faisol mulai menegang. Begitu juga dengan Ammar. Tiba-tiba Ammar merasa begitu takut lamarannya ditolak. Hatinya terus berdzikir memohon supaya hati Ki dibuka untuknya. Sementara Son tersenyum dalam hati. Mulutnya masih mengunyah kue kucur.


Ki mengangkat wajah. Semua mata memandangnya menunggu apa yang hendak dikatakan.


“Insyallah Ki bersedia menjadi istri…,” ucapnya lirih tapi terdengar begitu jelas.


Pak Faisol dan istrinya terlonjak kaget. Begitu juga Ammar dan Son.


“Alhamdulillah.” Pak Faisol dan Istrinya saling berpelukan.


Ammar mengusap wajahnya seraya bersyukur. Diliriknya gadis berhidung mancung, bermanik biru di depannya. Ammar tersenyum, berharap Ki juga melihatnya. Tapi nyatanya tidak. Tapi tak apalah, mungkin ia malu, batin Ammar. Sementara Son tampak begitu kecewa mendengarnya.


“Baiklah kalau begitu saya ingin pernikahan ini bisa dilangsungkan lebih cepat. Bagaimana Pak Faisol, Bu, Ki.”ucap Ammar kemudian.


Pak Faisol dan istrinya berbinar-binar. Sementara Kirana sudah deg-degan tidak karuan.


“Saya setuju,’ lantang Pak Faisol menjawab. Istrinya takjub mendengar jawaban suaminya.


“Kami pengennya begitu Bos Ammar,” timpalnya tak kalah tegas sambil terkekeh.


Ki panas dingin melihat tingkah orang tuanya. Ammar, lagi-lagi tersenyum puas.


“Saya ingin akad nikah dilangsungkan hari ini setelah sholat ashar. Sementara resepsi dilaksanakan malam nanti.” Ucap Ammar.


Son langsung tersedak saking kagetnya. Pak Faisol dan istrinya mematung sampai gemetaran. Ki menatap wajah Ammar penuh arti. Sementara Ammar senyum-senyum. Ia membalas tatapan Ki. Wajah Ki tampak lucu karena kaget. Ia tidak menyia-nyiakan moment ini. Matanya mengerling Ki. Gadis itu langsung menundukkan pandangan.


Sebenarnya Ammar sendiri nyaris tidak percaya dengan apa yang baru diuucapkan. Semalam ia sudah membuat rencana cukup matang. Pernikahan akan dilaksanakan bulan depan. Ia pun sudah memberitahukan keluarga dan kepala KUA yang tak lain temannya waktu kuliah. Itu saja sudah membuat keluarganya terkaget-kaget. Tapi, hari ini Ia membuat sebuah keputusan lain. Ia takut Ki berubah pikiran. Ia juga takut Son akan bermain di belakangnya. Entah keberanian darimana yang membuatnya berani bertindak cepat.


❤❤❤


Bersambung....


🌻🌻

__ADS_1


Makasih sudah baca. Jangan lupa like dan tinggalkan krisan. Biar lebih semangat ngetiknya.


❤❤🌻


__ADS_2