Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
BAB 98


__ADS_3

Aku sudah selesai menyiapkan sarapan saat aku kembali ke kamar untuk melihat apakah Arsen sudah siap.


Ternyata suamiku itu sedang memakai kemeja kerjanya.


“Sayang, nanti jangan lupa acaranya di hotel ya, kita dapat fasilitas juga.” Arsen mengingatkanku untuk acara undangan mewakili Papa dan Kak Darren malam ini.


“Fasilitasnya nginep di hotel?” tanyaku sambil membantunya mengancingkan kemejanya.


“Iya, Sayang. Predlsident Suit. Anggap aja kita honeymoon.” Arsen tersenyum memperhatikanku yang hampir selesai mengancingkan kemejanya.


“Nanti kamu jemput aku, ‘kan?” Aku memastikan supaya kami tidak terlambat datang ke acara rekan bisnis Papa itu.


“Nanti aku usahakan ya, soalnya aku juga nunggu kabar Papa yang suruh nyiapin beberapa berkas keuangan di kantor," jawab Arsen.


“Yaudah, kamu bawa mobil aja, nanti kalau kamu terlambat aku bisa naik taksi.” Aku menyiapkan setelan jas yang akan dipakai Arsen nanti untuk ditaruh di mobil.


“Aku usahakan pulang tepat waktu ya.” Arsen memelukku dari belakang.


“Iya, udah ah. Ayo kita keluar dulu, sarapan!” Aku menyerahkan setelan jas yang senada dengan gaun yang akan kupakai nanti pada Arsen.


...♥️♥️♥️M.A.S.🚗🚗🚗...


Kegiatan baruku selama Arsen bekerja adalah mengantarnya sampai ke pintu utama, lalu melakukan ritual pamitan kerja yang tidak cukup dengan sekali kecupan kening. Arsen selalu menyuruhku untuk mencium kedua pipi, kedua mata, kening lalu berakhir di bibir. Tentu saja, kami melakukannya dengan lengkap jika tidak ada orang.


Sialnya, saat pagi ini aku mengecup bibir Arsen, Kak darren kebetulan baru keluar rumah. Padahal tadi bilangnya akan berangkat siang.


“Kalian bucin banget!” ejeknya yang berhenti tepat di sampingku dan Arsen.


“Sirik aja! Katanya kerja siang,” balasku tanpa malu.


“Papa telepon, anak perusahaan yang di Jepang sedang ada masalah, makanya kakak buru-buru ke kantor buat meeting dadakan,” jawab Kak Darren yang kemudian menepuk bahu Arsen. “Yuk berangkat, kita akan kerja keras hari ini.”


Arsen dan Kak Darren akhirnya pergi dengan dua mobil, dan aku kembali masuk untuk melanjutkan kegiatanku. Bukan lagi shoping ke mall, tapi mencuci baju, setrika, juga bersih-bersih kamar.

__ADS_1


***


Setelah makan siang, aku dan Mama pergi ke salon untuk perawatan wajah dan tubuh. Aku ingin tampil cantik bersama Arsen malam ini. Walaupun mungkin mereka tidak akan mengira bahwa kami sudah menikah.


Setelah dipijat dan perawatan wajah, rasanya aku seakan terlahir kembali. Benar-benar segar dan cantik. Arsen pasti bangga punya istri secantik diriku.


“Nanti kalian jadi menginap di hotel itu?” tanya Mama saat kami baru sampai di rumah.


“Kayaknya sih jadi, Ma. Sayang kan dapat fasilitas menginap gratis kalau nggak dimanfaatkan,” jawabku sambil merebahkan tubuh di sofa.


“Bener tuh, president suit kan? Sekalian bulan madu."


Aku dan Mama tertawa bersama, membayangkan menginap di hotel dengan fasilitas mewah bersama Arsen, entah apa yang akan kami lakukan nanti.


“Oh iya, Ma. Mama mau ke mana sih sama Kak Darren?” Sedari tadi aku sudah menunggu momen yang pas untuk bertanya pada Mama.


“Em, sebenarnya, Mama mau kenalin kakak kamu sama anaknya temen Mama. Kayaknya sih dia seumuran kamu juga," kata Mama yang duduk di sampingku.


“Wah, pasti seru Ma. Biar Kak Darren cepat dapat pasangan juga." Aku menegakkan tubuh untuk duduk sejajar dengan Mama.


“Kalau seumuran sama Kimmy ya nggak mau lah Ma langsung nikah, Kimmy aja kalau nggak dipaksa nikah sama Papa juga nggak akan nikah muda.” Aku memanyunkan bibir.


“Iya, sih, Lagian kakakmu juga baru dua lima, masih sangat mudalah.”


“Arsen malah lebih muda, Ma.”


Aku dan Mama kembali tertawa memenuhi ruangan keluarga rumah ini. Seminggu bersama Mama, rasanya benar-benar menyenangkan, tidak ada kata bosan yang menghinggapi hari-hariku.


***


Aku sudah berada di hotel tempat acara berlangsung. Arsen bilang dia akan menyusul karena masih ada beberapa pekerjaan di kantor.


Dari kejauhan, aku melihat Om David yang punya acara sedang berbincang dengan tamunya. Aku segera menghampirinya untuk memberikan salam.

__ADS_1


“Selamat malam Om David.” Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan laki-laki yang seumuran Papa itu.


 


“Kimmora, lama tidak bertemu.” Om David menyambutku dengan hangat, masih sama seperti dulu.


“Maaf ya Om, Kimmy datangnya terlambat. Selamat untuk ulang tahun perusahaannya, semoga Om David semakin sukses. Kimmy mewakili Papa dan Kak Darren minta maaf karena mereka tidak bisa hadir,” ucapku dengan sopan.


“Terima kasih, Kimmora. Papa kamu sudah mengabari om tadi. Oh ya, kamu makin cantik saja ya. Pengen om jadikan mantu, tapi sayangnya anak om sudah menikah.” Om David tertawa.


“Om bisa aja.”


“Mau Om kenalin sama pengusaha muda nggak? Orangnya ganteng loh, kayak orang Korea.”


Aku hanya tersenyum canggung. Sebenarnya mau menolak juga tidak enak, masa kenalan saja tidak mau. Maaf Arsen, aku cuma kenalan saja kok.


“Presdir Lee.” Om David menepuk bahu seorang laki-laki yang berada tak jauh dari kami.


Sekeren apapun dia, aku punya Arsen yang jauh lebih keren, meskipun dia bukan seorang presdir.


Laki-laki bernama Lee itu menoleh, dan yang paling mengejutkan, ternyata dia orang yang sangat tidak kuduga.


Dia? Ngapain dia di sini? Kenapa dia jadi Presdir Lee?


🌹🌹🌹


...Hayo, siapa tuh yang jadi presiden Lee? Ada yang kenal nggak?...


Yuk, ku udah up 2 bab, sini bagi kembang sama kopinya. di kolom hadiah ya.


Oh ya, buat yang belum tahu, kalian bisa tekan favorite ❤ ya untuk dapat info updatenya dan novelnya tersimpan di rak buku kalian, biar nggak susah nyarinya 🤭🤭🤭


Jangan lupa ritual jejaknya.😉😉

__ADS_1


Sampai ketemu nanti malam, kalau nggak ngantuk 🙈🙈


__ADS_2