Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 59


__ADS_3

Arsen sudah mengambil keputusan. Ia akan membantu mengelola bisnis keluarga Mahendra bersama Dion, Papa dan Om Doni.


Mereka sedang mendiskusikan masalah bisnis ini.


"Oh iya, Pa. Kenapa suaminya Dera tidak terlibat?" tanya Arsen pada Papa Raffi.


"Sebenarnya papa juga bingung Arsen. Dia seorang bos besar, papa tidak enak jika minta tolong sama dia, dan juga, Papa lebih percaya kamu," kata Papa Raffi.


"Tapi aku akan tetap jelaskan sama suaminya Dera, Pa. Kita tidak akan tahu kapan kita butuh bantuannya," kata Arsen. "Dion, kamu juga harus membantu, ini bukan hanya tanggung jawabku."


"Baiklah, aku akan berusaha."


♥️♥️♥️


Setelah dari rumah Papa Raffi, Arsen mengajakku ke rumah Papa Mama untuk menyampaikan keputusan Arsen yang akan membantu Papa Raffi.


Saat melintasi jalanan ke rumah Papa, aku melihat seorang pedagang es yang berhenti di tepi jalan.


"Sayang stop! Aku mau itu." Aku menunjuk pada pedagang es itu. Lalu, Arsen menepikan mobilnya.


Lalu, aku turun dari mobil untuk membeli es yang ternyata lumayan ramai antrian.


"Biar aku aja yang beliin, kamu tunggu di mobil, ya." Arsen kembali membukakan pintu mobil untukku, dan akhirnya aku mengalah karena cuaca memang sedang panas-panasnya.


Sambil menunggu, aku memperhatikan Arsen yang sedang mengantri, tetapi ada yang aneh dengan dua ibu-ibu yang juga mengantre es bersama Arsen. Mereka tertawa genit sambil sesekali mencolek bahu Arsen.


Hatiku mendadak tidak terima, lalu aku turun menghampiri Arsen dan langsung merangkulnya.


"Maaf ya, ibu-ibu. Jangan godain suami saya!" ucapku dengan nada tegas. Supaya mereka tahu, Arsen sudah memiliki istri.


"Maaf mbak, habis masnya ganteng banget, tadinya mau saya kenalin sama anak saya," kata salah satu ibu-ibu berbadan gemuk.


"Enak saja, kami sudah menikah," jawabku.

__ADS_1


"Maaf ya ibu-ibu, istri saya lagi hamil, jadi dia sedikit sensitif," kata Arsen sambil mengusap perutku. "Sayang, jangan marah-marah, kasihan Baby kita," bisiknya lalu mengusap rambutku.


"Oh, mbaknya lagi hamil, pantesan. Mbaknya cantik-cantik tapi wajahnya judes," kata ibu-ibu satunya setengah berbisik.


"Yang penting saya cantik," sahutku tidak terima.


Disaat bersamaan, es pesananku selesai dibuat, dan Arsen mengajakku kembali ke mobil untuk menikmati es menyegarkan itu.


"Sayang, kontrol emosi kamu," kata Arsen sambil menikmati es berisi buah mutiara dan potongan buah.


"Habisnya mereka genit," jawabku sambil menatap kesal ibu-ibu yang masih berdiri di samping penjual es itu.


"Ya udah lah, yang penting kan sayang aku cinta aku itu cuma buat kamu. Buktinya cuma kamu yang aku kasih bibit unggul." Arsen mengusap perutku. "Iya, kan Baby."


"Bibit unggul emangnya cabe," sahutku.


Arsen tersenyum lalu mengelus rambutku.


"Udah habisin esnya, jangan sampai tersisa, kalau mau kita bungkus juga, sekalian buat orang rumah."


*


*


*


Kami akhirnya sampai di rumah Papa. Tapi sepertinya rumah sedang sepi, hanya ada pembantu saja yang membukakan pintu.


"Mama Papa ke mana Bi?" tanyaku pada Bibi yang kini menggantikan Bi Sri dan Mbak Lastri.


"Tuan sama Nyonya ada di kamar, Non. Apa mau saya panggilkan?"


"Ah, tidak usah Bi," jawabku lalu menuju ruang keluarga menyusul Arsen, meninggalkan Arsen yang sepertinya sedang menelepon seseorang.

__ADS_1


Rumah benar-benar sepi, Kak Darren sepertinya sedang keluar saat ini, karena mobilnya tidak ada di garasi.


Lalu, Papa Mama ngapain ya di kamar? Pintunya tertutup rapat, aku jadi tidak enak mau mengetuknya. Jangan-jangan Mama sama Papa sedang ....


***


Arsen sudah selesai menelepon saat ia menghampiriku di taman belakang.


"Papa sama Mama mana?" tanya Arsen yang kini duduk di sampingku.


"Masih di kamar dari tadi belum keluar," jawabku.


"Siang-siang begini? Jangan-jangan ...."


"Jangan-jangan apa?"


"Nggak tau, nanti tiba-tiba kamu nggak jadi anak bungsu lagi."


"Ih, apa sih Sayang, Mama Papa udah tua."


"Ya kan nggak masalah, nanti Baby kita seumuran sama adek kamu."


"Jahat ih, jahat banget deh." Aku memukul lengan Arsen yang terus tertawa membuatku kesal.


♥️♥️♥️


Santai Kim, asal baek sama istri kedua, kamu tetep jadi anak bungsu kok 🤭🤭


Selamat siang,


Minum es enak nih kayaknya.


Jangan lupa ritualnya.

__ADS_1


Sampai ketemu lagi 😘😘😘


__ADS_2