
“Kita mau ke mana sih?” tanyaku saat Arsen mengajakku untuk pergi menginap. Dia hanya bilang ke luar kota, tanpa memberi tahu tujuan pastinya.
“Udah, pokoknya kita akan seneng-seneng hari ini."
Saat Arsen akan mengambil mobil, aku melihat motor sport yang sepertinya milik Kak Darren terparkir di garasi. Aku jadi membayangkan bagaimana rasanya dibonceng Arsen naik motor sport.
“Oppa, kita pakai motor ini aja ya,” pintaku.
“Itu motor Kak Darren.” Arsen sepertinya keberatan.
“Udah nggak papa, itu kunci motornya aja ada di motor, nanti aku telepon Kak Darren deh, ya. Please!”
Akhirnya Arsen menuruti keinginanku setelah Kak Darren mengizinkan kami memakai motornya.
Perjalanan kami terasa sangat panjang. Dari jalanan aspal yang mulus, sampai jalan pegunungan yang berliku-liku. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah penginapan di daerah puncak.
“Kenapa kita ke sini?” tanyaku saat Arsen memarkirkan motor di tempat parkir penginapan.
“Anggap aja ini honeymoon dadakan buat kita, soalnya aku cari tempatnya juga dadakan tadi, kata Arsen sembari melepaskan helm yang masih menempel di kepalaku.
“Honeymoon?” tanyaku tak percaya.
"Iya, kita kan belum pernah honeymoon." Arsen menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam penginapan. Memesan satu kamar di lantai dua.
Penginapan ini cukup nyaman, bersih dan menyenangkan. Setelah masuk kamar dan mandi, aku menghampiri Arsen yang sedang duduk di kursi di balkon kamar. Arsen sedang menghisap rokoknya saat aku menghampirinya.
__ADS_1
“Kamu udah mandinya.?” tanya Arsen yang langsung mematikan rokoknya yang masih sisa setengah batang.
Arsen memang perokok, tapi dia bukan pecandu rokok. Selama lima bulan ini menjadi istrinya, aku hanya beberapa kali saja melihat Arsen merokok.
“Iya udah, boleh bagi rokoknya nggak?” tanyaku.
Semenjak menikah dengan Arsen dan tidak lagi berkunjung ke klub malam, aku juga tidak lagi merasakan rasanya menghisap batang rokok itu.
“Nggak usah, mending kita nikmati malam ini dengan yang nikmat bikin ketagihan,” serunya yang kini menarikku ke dalam pangkuannya, dan tangan kiriku merangkul lehernya.
“Kamu mau apa?” tanyaku dengan manja. Kuusap dada bidangnya yang masih tertutup kaus.
Arsen hanya tersenyum saat aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. Tanganku menyusup ke dalam kausnya untuk menyentuh dan memijat otot perutnya yang terbentuk sempurna.
Tangan Arsen mengusap pahaku yang tertutup piyamaku. Sementara tangannya yang lain masuk ke dalam piyama lalu mengusap punggungku
Arsen menciumi wajah hingga leherku, dinginnya cuaca di sini seakan memancing kami untuk menghangatkan diri.
Kurasa gerakan tangan Arsen kini mulai melepaskan kait yang mengencangkan kain penutup bukitku.
Setelah kaitnya terlepas, tangan Arsen yang tadi mengusap pahaku kini beralih ke dalam dadaku. Ia mulai menggenggam bukit kesukaannya
“Kimmora,” panggilnya dengan setengah berbisik.
__ADS_1
“Ya, Arsen kenapa?” tanyaku dengan napas memburu.
“Ini kenapa tegang banget?” tanya Arsen sambil memelintir puncak bukit milikku kemudian Arsen sedikit menariknya perlahan.
“Cuacanya dingin,” jawabku.
“Kalau gitu ayo kita hangatkan ranjang kita, biar kita bisa tidur nyenyak nanti.” Arsen menurunkanku dari pangkuannya, tapi seketika ia langsung menggendong tubuhku ala bridal style dan membawaku masuk ke kamar.
Arsen merebahkanku di kasur, lalu kembali menciumi dan menghisap leherku. Arsen memang sangat tahu apa yang membuatku tak bisa menolaknya. Tangan Arsen mulai melepaskan kancingku satu persatu. Kemudian ia membalik tubuhku sehingga aku berada di atasnya.
“Arsen,” ucapku sedikit malu, aku tak pernah melakukan posisi ini.
“Sayang, kamu yang pimpin, ya. Aku mau lihat seberapa pintarnya istriku di atas ranjang.”
🌹🌹🌹
...Bisa nggak ya Kimmy? Emang mimpin apa sih Bang, istri keduamu ini kebingungan....
Hai gengs, hareudangnya lanjut besok aja. Yang ini pemanasan dulu lah ya.
Ritual jejaknya banyakin, Like, Komen, Hadiah, Vote.
Like sama Komen udah pada hilang nih. Padahal komentar kalian itu ibarat kayu bakar yang akan mengobarkan semangatku gengs.
Okey, sampai jumpa bulan depan 👋👋👋
__ADS_1