Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 103


__ADS_3

Baby sitter yang dipilih Mama sudah datang, orangnya belum terlalu tua, tapi tidak muda juga. Menurut keterangan dari yayasan, beliau sudah sepuluh tahun lebih mengurus bayi. Kebanyakan dari ceritanya, baby sitter ini memang mengurus bayi dari sebelum melahirkan, sampai usia dua tahun saja.


"Selamat pagi Pak, Bu, perkenalkan nama saya Dian dari Yayasan Pelita Hati Bunda." Wanita itu tersenyum ramah saat kami menyalaminya.


"Saya Kimmora, dan ini suami saya Pak Arsen."


Kami mengobrol cukup lama masalah pekerjaan apa saja yang harus dilakukan olehnya, kebiasaan-kebiasaan Xavier dan apa saja yang belum bisa Xavier lakukan.


Pertama bertemu, Xavier memang sedikit bingung. Namun, baby sitternya yang sudah berpengalaman nyatanya bisa membuat Xavier nyaman dan mulai akrab dengannya.


"Sepertinya Xavier sangat lincah ya, Bu. Biasanya bayi yang saya jaga itu mulai bisa jalan waktu usia satu tahun," kata Mbak Dian.


"Iya, Xavier emang nggak bisa diem, kadang suka sembunyi-sembunyi di balik gorden, di bawah meja. Kalau nggak diawasi bahaya."


"Mommy. Mommy. Mommy." Suara nyaring Xavier memenuhi ruang tengah yang kini berubah jadi arena bermain.


Beberapa minggu lalu, kami sudah memasang pagar pembatas di pintu yang menghubungkam ruang tengah dan area luar rumah yang menghadap ke kolam renang. Jadi, Xavier tidak akan mudah keluar rumah menuju kolam renang.


...****************...


Mama dan Papa kembali menginap setelah beberapa hari pulang ke rumah. Xavier dan babby sitternya juga sudah semakin akrab. Bahkan, dia tidak menangis saat aku tinggal kontrol kehamilan dan lanjut ikut daddynya ke kafe.


"Udah lama ya kita nggak liburan," kata Arsen saat kami dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi kafe.


"Daddy mau ajak mommy liburan?" tanyaku antuasias.


Jalanan yang lumayan padat membuat laju mobil Arsen ikut melambat.


"Boleh kalau kata Dokter Nayla aman, mau cek kandungan sekarang?" usulnya.


Tentu saja aku bahagia, rasanya sudah lama sekali tidak merasakan liburan, apalagi semenjak hamil Xavier. Seingatku, kami terakhir liburan saat honeymoon di Bali.


"Tapi jangan jauh-jauh ya, karena kita akan liburan berdua aja tanpa Xavier," lanjutnya.


Aku menoleh, sedikit mengernyit karena terkejut dengan ucapan Arsen barusan. Bagaimana rasanya liburan tanpa Xavier?

__ADS_1


*


*


*


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan karena macet, akhirnya kami sampai di tempat praktik Dokter Nayla. Seperti biasa, dokter cantik itu menyambut kami dengan ramah.


"Mau USG sekalian atau hanya konsultasi?"


"USG sekalian aja, Dok. Kita kemarin kan belum tahu jelas jenis kelaminnya. Em, yang USG empat dimensi aja biar lebih jelas, Dok," jawab Arsen. Ia menoleh padaku dan bertanya, "Kamu mau 'kan?"


Aku tersenyum dan mengangguk, dan Arsen ikut tersenyum. Lalu, Dokter Nayla pun mulai melakukan prosedur USG seperti biasanya.


"Dua-duanya sehat dan bagus perkembangannya, jenis kelaminnya sudah terlihat jelas, dua-duanya perempuan," jelas Dokter Nayla.


"Benarkan, tebakanku selalu benar," kata Arsen yang kini mencium tanganku berkali-kali.


"Selamat ya, adiknya Xavier sepertinya kembar identik," kata Dokter Nayla.


"Boleh, malah bagus untuk menyegarkan pikiran."


"Oke, makasih, Dok."


Setelah selesai pemeriksaan dan menebus vitamin yang diresepkan, kami melanjutkan perjalanan pulang.


Sampai di rumah, Xavier menyambut kami dengan merangkak cepat menghampiri Arsen.


"Anak daddy hari ini ngapain aja?" tanya Arsen yang langsung menggendong Xavier.


"mom-my, Mom-my."


"Say Dad-dy, Dad-dy."


"Mom-my, Mom-my."

__ADS_1


"Kapan sih dia bisa bilang daddy?"


Aku hanya tersenyum dan menghampiri Mama Papa yang ikut tertawa melihat tingkah Xavier. Arsen mengikutiku dan kami duduk bersebelahan di ruang tengah.


"Kalian udah konsultasi sama Dokter Nayla?" tanya Mama.


"Kok Mama tahu?"


"Ya, kapan hari kan Arsen bilang ke mama, kalau kalian akan pergi liburan," jawab Mama.


Aku menoleh pada Arsen yang pura-pura tidak mendengar dan malah mengak bercanda Xavier.


"Aku malah baru tahu tadi, Ma."


"Kalian mau liburan ke mana?" tanya Papa.


"Mungkin ke pantai, Pa. Titip Xavier ya Ma, Pa dua hari aja," jawab Arsen.


"Iya, makanya papa sama mama ke sini 'kan," kata Papa.


Kenapa aku merasa hanya aku yang tidak tahu rencana liburan ini ya?


"Kalau liburan jangan lupa bawa ktp, biar nggak kena razia kayak dulu."


"Razia apa, Pa?" Mama menatap suaminya dengan ekspresi penuh tanya.


"Mereka kan pernah dibawa polisi waktu di puncak, malem-malem papa sama Aji nyamperin mereka."


❀❀❀


Ekspresi Xavier waktu tau nggak diajak liburan πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ™ƒ


Aku updatenya nggak nentu ya gaes, maafkan aku. Apa kalian keberatan? Udah bosen belum??


Oh iya, follow akun NT/MT aku ya, supaya kalau aku bikin novel baru kalian bisa dapat infonya, Makasih

__ADS_1


__ADS_2