
Sarapan pagi telah usai. Walaupun menu makanan pagi ini benar-benar kesukaanku, tapi memikirkan tentang Arsen seketika ***** makanku jadi berubah.
Papa mengajak kami untuk berkumpul sambil bersantai di ruang keluarga usai sarapan.
“Darren sama Mama kamu ke mana sih, Kim?” tanya Oma yang membuka obrolan pagi ini.
Oma duduk di ujung kiri sofa, menghadap Papa yang duduk di ujung kanan, sedangkan aku duduk di sofa panjang yang menghadap langsung ke kolam renang.
“Nggak tau Oma, tadi Mama cuma kirim chat kalau nanti urusannya udah kelar Mama mau mampir ke sini," jawabku yang memang tidak tahu menahu urusan Mama dan Kak Darren.
Oma hanya mengangguk, sementara Papa mengalihkan pandangannya menghadap akuarium yang berisi ikan-ikan hias itu.
“Oma tadi belum selesai cerita soal Arsen,” ucapku pada Oma yang sedang menikmati teh dan biskuitnya.
“Cerita soal apa?” sahut Arsen yang ikut kepo.
Jelas saja, aku dan Oma kan membicarakan dia.
“Soal orang tua kamu yang sebenarnya," jawabku yang membuat Arsen mengerutkan dahi.
Sepertinya Arsen juga belum mengetahui apa yang akan dikatakan Oma.
“Uhuk, uhuk, uhuk.” Papa tiba-tiba terbatuk-batuk, padahal Papa sedang tidak makan atau minum.
Melihat Papa yang tidak berhenti batuk, Arsen dengan sigap mengambilkan minum untuk Papa. Kemudian, Papa meneguk air putih yang diberikan Arsen.
__ADS_1
“Papa nggak kenapa-napa?" tanyaku.
Lalu, Arsen kembali duduk di samping kananku.
“Nggak apa-apa " jawab Papa.
Aku mengalihkan pandangan dari Papa, dan beralih menatap Oma lagi. Jujur saja, aku benar-benar penasaran siapa Arsen sebenarnya.
“Oma, buruan cerita soal orang tua Arsen yang sebenarnya," desak ku pada Oma yang masih santai-santai saja, tidak ada tanda-tanda ingin berbicara serius.
“Sayang, kamu kenapa sih? Orang tuaku kan ada di sini kenapa kamu nanya gitu ke Oma?” Arsen menggenggam tanganku yang sedang memegang bungkus camilan.
“Karena ada sesuatu yang Papa, Oma dan semua orang sembunyikan dari kita, Oppa," jawabku yakin.
“Papa sama Oma?” tanya Arsen bingung.
"Maksud Oma?" Arsen menatap Oma yang mengalihkan pandangannya pada layar besar di depannya, lalu Arsen melihat ke arah Papa.
Papa mengambil napas berat, lalu Papa berkata, "Coba kamu ngobrol sama Aji, mungkin memang sudah saatnya kamu tahu fakta tentang kamu yang sebenarnya."
Arsen langsung berdiri dan meninggalkan ruang keluarga. Sebenarnya aku ingin mengikuti Arsen, tapi Papa menahan lenganku saat aku hendak berdiri.
“Biarkan Arsen menyelesaikan urusannya. Kamu di sini saja, jangan ikut campur dulu!” kata Papa yang masih mencekal tanganku.
“Tapi, Pa," rengekku. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Arsen.
__ADS_1
“Kim.” Papa menatapku seolah memaksaku untuk tetap ada di tempatku saat ini.
“Sebenarnya ada apa sih, Pa? Jujur Aku sebenarnya nggak yakin kalau Arsen anaknya Pak Aji," tanyaku pada Papa.
Aku yakin, sedikit banyak Papa pasti tahu tentang kisah hidup Arsen. Aku istrinya, aku juga berhak tahu, 'kan?
“Arsen memang bukan anak kandungnya, tapi Aji yang merawatnya sejak bayi.” Lagi-lagi Papa mengembuskan napasnya dengan kasar.
“Hah? Papa serius?”
“Iya, Arsen itu anaknya adik Pak Aji, tapi karena sesuatu hal, Pak Aji yang merawatnya," jawab Papa yang kemudian meneguk kembali air putihnya.
"Papa tahu dari mana?" tanyaku.
"Mama kamu kan sahabatnya Mama Arsen, tapi ayahnya Arsen tidak tahu kalau Arsen masih hidup," jawab Papa.
"Maksud Papa?" Aku semakin tidak mengerti dengan maksud pembicaraan Papa, kenapa ayahnya Arsen tidak tahu kalau Arsen masih hidup.
"Kamu tanya mama kamu aja biar lebih jelasnya."
🌹🌹🌹
...Yah, bukan anak sopir dong Bang Arsenku, okelah yang penting aku dan Kimmy tetap mencintaimu Bang....
Ritual Jejak jangan lupa ya. Like + Komen + Hadiah + Vote.
__ADS_1
Sini kasih aku kembang sama kopi, kan udah aku kasih tau soal Arsen 🤭🤭🤭
Sampai ketemu lagi, nggak tau kapan 😅😅