
Kalau soal bermain cinta, Arsen memang sangat luar biasa. Dia selalu bisa mempermainkan tubuhku dengan semua gerakan yang ia lakukan.
Kami benar-benar bermain di kamar mandi, sebelum akhirnya ia meminta lagi setelah selesai mandi, dan sekarang efeknya tangan kiriku benar-benar sakit rasanya.
Aku berusaha menyingkirkan tangan Arsen dari tubuhku, karena ia memelukku begitu erat, membuatku kesulitan bergerak.
"Kamu udah bangun, Sayang?” tanya Arsen yang semakin memelukku.
“Udah, aku mau bangun tapi tanganku sakit banget,” keluhku pada Arsen.
“Kamu nggak usah magang deh hari ini, kamu izin dulu ya, Sayang.” Arsen bangkit lalu membantuku untuk bangun.
“Iya, deh. Nanti aku hubungi mereka.”
***
Arsen sudah berangkat kerja, dan aku memilih izin karena sakit pada bekas luka di lenganku. Aku memilih beristirahat di kamar untuk mempercepat proses pemulihan seperti yang dianjurkan oleh Dokter Nayla kemarin.
Saat aku merebahkan tubuh sambil menonton drakor di kamar, Mama datang dengan membawa potongan buah-buahan untukku.
“Sayang, kamu udah minum obat? Kata Arsen kamu sakit.” tanya Mama yang kini duduk di tepi ranjang kamarku.
“Iya Ma, aku udah minum obat kok,” jawabku.
“Kayaknya kamu nggak demam, Sayang. Kamu sakit apa sih sampai Arsen bawain makanan ke kamar?” tanya Mama sambil memegang dahiku.
“Sebenarnya aku baru aja lepas alat kontra-sepsi, Ma.”
Mama terlihat bahagia, Mama mengecup keningku lalu berkata,“Syukurlah, Sayang. Semoga kamu bisa secepatnya hamil, dan Mama bisa gendong cucu Mama.” Mama kemudian menyuapkan buah untukku.
__ADS_1
“Aamiin, Ma. Gimana sih rasanya hamil, Ma?” tanyaku sambil mengunyah buah yang baru saja disuapi Mama.
Mama sudah dua kali mengandung, dan aku pikir, aku ingin mencari tahu tentang pengalaman Mama selama hamil.
“Emm, gimana ya. Beda-beda sih Sayang pas hamil kamu sama hamil kakakmu.”
“Oh, ya. Cerita dong Ma!”
“Jadi, waktu hamil kamu, mama bisa makan semuanya Sayang. Mama nggak merasakan mual hebat seperti saat hamil Darren.”
“Mama mual-mual pas hamil Kakak?”
“Iya, mama nggak bangun dari tempat tidur, papamu sampai sewa suster khusus buat pantau kesehatan mama, karena mama hampir lima bulan nggak bisa ngapa-ngapain, Sayang.”
“Reaksi Papa gimana Ma?”
“Kasihan sekali Papa, tapi Mama juga kasihan sih. Kalau pas hamil aku dulu gimana, Ma?”
“Nah, kalau hamil kamu dulu, papamu yang benar-benar menderita. Papa yang mual-mual sampai usia kamu empat bulan.”
“Kok bisa sih, Ma?”
“Kalau kata dokter sih itu namanya sindrom kehamilan simpatik, jadi yang merasakan tanda-tanda kehamilan itu para suami, Sayang," kata Mama.
Wah, pasti seru kalau Arsen juga ngalamin kayak Papa.
Mama juga menceritakan bagaimana serunya saat makhluk kecil di dalam perut itu menendang. Aku jadi tidak sabar menunggu kehadirannya di rahimku.
***
__ADS_1
Seharian beristirahat di rumah, nyeri di tanganku sudah mulai berkurang, aku yakin besok aku sudah sembuh dan bisa beraktifitas normal lagi.
Arsen sudah pulang sebelum makan malam tadi, dan saat ini kami sedang berkumpul di ruang keluarga untuk membahas rencana resepsi pernikahan kami.
"Aku dan Kimmy maunya resepsi yang sederhana saja Pa, yang penting sahabat dan teman-teman kami tahu kalau kami sudah menikah," kata Arsen saat ditanya Papa tentang konsep pernikahan kami nanti.
"Tapi Arsen, adik kamu aja nikahannya digelar megah, kamu juga mampu lah mengadakan pesta yang megah," kata Kak Darren
"Ya, kalau aku sih, kebutuhan hidup setelahnya Kak yang aku pikir. Apalagi kalau nanti aku dan Kimmy punya anak, rumah juga masih perlu banyak biaya," kata Arsen.
Ya, rumah kami masih dalam tahap pembangunan dan memang masih memerlukan banyak biaya.
"Papa bisa bantu untuk biaya resepsinya Arsen."
"Jangan Pa, itu sudah tanggung jawabku. Jadi, aku nggak mau merepotkan Papa dalam hal ini."
"Kamu selalu begitu Arsen, Kimmy anak papa, kamu juga anak papa."
"Aku tau Pa, tapi untuk masalah ini biar Arsen yang bertanggung jawab."
Aku bangga sama kamu, suamiku.
🌹🌹🌹
...Mon maaf telat, lagi bagi waktu dan pikiran....
...Jangan marah ya 😅😅😅...
...Sampai ketemu lagi 😍...
__ADS_1