Menikahi Anak Sopir

Menikahi Anak Sopir
MAS2 BAB 36


__ADS_3

Arsen sedang menikmati lulurnya bersama wanita cantik yang membuatku kesal, sedangkan aku menikmati perawatan wajah dengan bahan alami. Arsen tidak mengizinkanku masase ataupun facial dengan bahan kimia, karena dia takut kalau ternyata aku hamil dan akan menyakiti anak kami. Apa aku benar-benar hamil ya?


Setelah Arsen selesai luluran dan aku juga sudah selesai facial, kami akhirnya membersihkan tubuh dengan mandi di bawah shower berdua.


Sebenarnya tadi aku yang merengek ingin mandi bersama. Akhir-akhir ini aku memang merasa sedikit aneh, dan ingin selalu berdekatan dengan Arsen, tidak mau pisah walau hanya sebentar.


“Aku harap kamu benar-benar hamil, Sayang,” kata Arsen sambil menciumku. Ada binar bahagia yang terpancar di matanya.


Ya Tuhan, kalau aku tidak hamil, apa Arsen akan kecewa?


Aku kembali menggosok punggung Arsen untuk menghilangkan bekas lulur kopi dari tubuhnya. “Kamu senang kan disentuh wanita lain, bentar lagi dipijat wanita lain." Lagi-lagi aku merasa kesal karena Arsen disentuh wanita lain.


"Sayang, aku nggak mungkin macem-macem. Kita ke sini mau honeymoon, Sayang. Lagipula, kan emang tugas mereka mijit, kamu cemburu ya?" tanya Arsen.


"Iya, kali," jawabku yang kemudian mendapat pelukan hangat darinya.


Kemudian kami melanjutkan kegiatan mandi kami. Setelah itu, aku mulai dipijat kepala, sedangkan Arsen dipijat badannya. Setelah itu kami berendam di bathup, bermain-main sabun dan kembali bershower.


*


*


*


Setelah menikmati spa, aku dan Arsen langsung makan siang karena memang sudah waktunya, dan juga cacing dalam perut sudah meronta minta makan.

__ADS_1


Di bawah pohon yang teduh ini, aku dan Arsen makan siang berdua, menikmati momen-momen bersama walau hanya sebentar di Bali.


Kami sengaja tidak pergi ke wisata yang lain, karena kami ingin menikmati waktu santai kami berdua saja.


"Sayang, makan yang banyak." Arsen memindahkan potongan daging di piringku, padahal daging milikku masih cukup banyak.


"Sayang, kalau aku nggak hamil gimana? Apa kamu akan kecewa?" tanyaku.


Tanda-tanda yang aku alami memang mirip gejala hamil, tapi masih ada kemungkinan itu hanya sakit biasa, kan? Apalagi aku baru saja melepas kontra-sepsi itu. Kalau aku tidak hamil, aku takut melukai hati Arsen.


Arsen tersenyum menanggapi pertanyaanku, ia menyuapiku makan lalu menatapku dalam-dalam.


"Sayang, aku tidak akan kecewa dengan apapun kondisimu, bukankah anak itu sesuatu yang tidak bisa kita paksakan. Kita hanya bisa berusaha, berdoa dan pasrah, selanjutnya Tuhan yang menentukan. Yang paling penting buatku, kamu selalu ada bersamaku, menemani aku dalam keadaan apapun. Masalah anak, itu bonus untuk kita." Arsen kembali menyuapiku.


Hampir empat tahun bersamanya, aku memang tidak meragukan cinta dan ketulusannya. Aku percaya, aku dan Arsen akan terus bersama apapun keadaannya.


*


*


*


Sore ini, aku dan Arsen pergi ke sebuah minimarket di dekat resort. Karena jaraknya dekat, kami hanya perlu jalan kaki dan akan segera kembali sebelum matahari terbenam, lalu makan malam romantis di tepi pantai.


Sesampainya di minimarket, kami mencari camilan dulu sebelum menuju rak alat test kehamilan yang ada di dekat kasir. Lalu, aku mengambil satu alat untuk dipakai esok pagi.

__ADS_1


"Sayang, jangan cuma beli satu," kata Arsen yang membuatku mengernyitkan dahi.


"Kenapa?"


"Biar lebih meyakinkan, kita beli sepuluh."


"Itu kebanyakan, Sayang."


Setelah berdebat cukup lama, akhirnya kami membeli lima alat dengan merek berbeda.


♥️♥️♥️


...Banyak amat sih, kayak beli permen aja....


...Semoga hasilnya positif ya 😅😅...


Ada yang kangen nggak??


Sepi amat kayaknya..


Kalau ada yang kangen, nanti aku tambahin 😅😅


Jangan protes babnya pendek, dari awal memang selalu pendek kan, kalau pas tengah tengah up nya banyak, itu karena othornya lagi nggak sibuk, dan dapat hidayah 😅😅


Makanya banyakin kembang sama kopinya, biar hidayahnya cepet mampir 🤭🤭🤭

__ADS_1


Sampai ketemu lagi, minggu depan 😅😅😅


__ADS_2